Oleh Mukhlas Syarkun

SAAT kita mengamati analisis dari para pakar geopolitik, hampir semua menempatkan Iran sebagai “kerikil” batu kecil yang menjadi batu sandungan dua negara yang, sama-sama memiliki Ambisi besar.

Israel berambisi mengembangkan Israel Raya yang telah berjalan berproses untuk mencapai target yang diinginkan. Begitu pula Amerika Serikat ingin tetap menjadi negara adidaya dalam skenario geopolitik juga merasa terganggu dengan posisi sikap dan kebijakan Iran.

Amerika menempatkan Timur Tengah menjadi tempat yang strategis tidak hanya karena sumber minyak, tetapi kawasan Timur Tengah juga kini telah menjadi pusat keuangan dunia, khususnya di Dubai Emirat Arab dan sekitarnya.

Penguasaan Amerika terhadap sumber energi di Timur Tengah, rasanya belum merasa lengkap sebelum menguasai Iran, di samping karena sumber minyak yang melimpah, Iran juga memiliki kemampuan teknologi yang dianggap menjadi ancaman bagi Amerika dan apalagi teknologi Iran kolaborasi dengan lawan AS, yaitu Rusia, Cina dan korea Utara.

Oleh karena itu, kedua negara yang sama-sama terganggu oleh Iran, maka jalan satu-satunya menguasai minimal mengendalikan arah kebijakan Iran.

Dua kekuatan (Israil & USA) merasa cukup memiliki kekuatan untuk menggilas kerikil, dan yakin sekali kerikil tersebut dapat dimusnahkan. Namun ternyata kerikil itu bukan kerikil biasa, nampaknya ia kerikil sisa-sisa kerikil burung ababil yang kini telah memporak-pora kekuatan besar yang selama diangungkan menjadi yang terkuat.

Kini berlahan mulai rontok, tentu mayoritas masyarakat dunia berharap cemas, agar kedua negara itu tumbang dan bernasib sama seperti nasib bala tentara Raja Abrahah. Bukankah ini yang kita inginkan?

Jakarta 16 Ramadhan

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry