PONTIANAK | duta.co – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat menggelar kegiatan Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 melalui forum Kajian Senin Kamis (KSK).

Kegiatan ini menjadi wadah diseminasi hasil survei sekaligus memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.

Hasil Survei IPR Tahun 2025 menunjukkan capaian positif bagi Provinsi Kalimantan Barat. Nilai IPR Kalimantan Barat tercatat sebesar 10,7, menurun dibandingkan tahun 2024 yang berada pada angka 11,6. Penurunan tersebut menunjukkan semakin menguatnya daya tangkal masyarakat serta efektivitas berbagai upaya pencegahan yang dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah daerah, aparat keamanan, tokohagama, akademisi, organisasi masyarakat, dan FKPT Kalimantan Barat.

Dalam sambutan Direktur Pencegahan BNPT RI yang disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel Sus Dr. Harianto, M.Pd., ditegaskan bahwa Survei IPR merupakan instrumen strategis untuk memahami dinamika kerentanan masyarakat terhadap paham radikal dan menjadi dasar penyusunan kebijakan pencegahan yang lebih tepat sasaran.

“Survei IPR merupakan instrumen strategis yang dikembangkan BNPT untuk memahami dinamika kerentanan masyarakat terhadap paham radikal sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program pencegahan yang lebih tepat sasaran,” ujar Harianto saat membacakan sambutan Direktur Pencegahan BNPT.

Salah satu kekuatan utama Kalimantan Barat dalam menjaga ketahanan terhadap radikalisme adalah karakter masyarakatnya yang multikultural dan terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa. Kehidupan sosial yang harmonis tersebut diperkuat oleh falsafah Dayak “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata” yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan, serta tanggung jawab kepada Tuhan. Nilai-nilai tersebut telah menjadi fondasi penting dalam menjaga kerukunan dan memperkuat kohesi sosial masyarakat Kalimantan Barat.

Peneliti FKPT Kalimantan Barat, Didi Darmadi, S.Pd.I., M.Lett., M.Pd., menjelaskan bahwa pengalaman hidup dalam lingkungan yang beragam menjadi modal sosial yang kuat dalam mencegah berkembangnya sikap intoleran dan eksklusif.

“Keberagaman yang hidup dan terpelihara di Kalimantan Barat merupakan modal sosial yang sangat berharga. Interaksi yang intensif antar kelompok masyarakat menciptakan ruang dialog, saling pengertian, dan penghormatan terhadap perbedaan yang menjadi benteng alami terhadap berkembangnya paham radikal,” jelas Didi Darmadi, dosen IAIN Pontianak.

Meski demikian, hasil survei juga mengingatkan bahwa ancaman radikalisme terusbertransformasi mengikuti perkembangan teknologi informasi. Paparan narasi intoleransi, ujaran kebencian, disinformasi, hingga propaganda ekstremisme kini banyak beredar melalui media sosial dan berbagai platform digital yang mudah diakses, terutama oleh generasi muda.

Anggota Tim Review Survei IPR Tahun 2025, Lilik Purwandi, mengingatkan bahwa kelompok yang paling rentan saat ini adalah generasi muda, perempuan, masyarakat urban, serta mereka yang aktif mencari dan menyebarkan konten keagamaan melalui internet.

“Karena itu, penguatan literasi digital, moderasi beragama, wawasan kebangsaan, dan pola asuh keluarga menjadi sangat penting untuk memperkuat daya tangkal masyarakat,” ujar Lilik Purwandi.

BNPT dan FKPT Kalimantan Barat mengimbau masyarakat untuk terus menjaga harmoni keberagaman yang selama ini menjadi kekuatan daerah, meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penyebaran paham radikal di ruang digital, serta tidak mudah menerima dan menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Upaya pencegahan perlu diperkuat melalui peningkatan literasi digital, moderasi beragama, pendidikan karakter kebangsaan, pelestarian kearifan lokal, serta penguatan peran keluarga dalam mendampingi anak dan remaja saat beraktivitas di dunia maya.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan dan penguatan nilai-nilai lokal yang diwariskan para leluhur, Kalimantan Barat diharapkan terus menjadi wilayah yang damai, toleran, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme di era digital.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry