SURABAYA | duta.co – Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan terbesar di dunia. Jumlah jamaahnya di Indonesia saja, bisa ratusan juta orang. Belum yang tersebar di luar negeri. Ribuan pengurus PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama) dibentuk khusus di negara-negara luar Indonesia. Mereka bukan sekedar anak-anak terpelajar, tetapi, juga mampu menghadirkan budaya Islam rahmatan lilalamin, di bawah panji-panji NU.

Dunia benar-benar mengenal amaliyah NU. Sejarah NU yang berada di papan atas dunia, patut dicermati. Sebanyak 13 kader muda NU, berada di bawah payung IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama), Gemurung, Gedangan, Kab Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (27/6/26) bertandang ke Museum NU, di Jalan Gayungsari Timur, Menanggal, Surabaya.

Kunjungan ini, penting, karena sebagai kader muda NU, mereka tidak boleh hanya paham tantangan ke depan, tetapi, juga sesekali harus melihat sejarah (ke belakang) NU. “Karena, organisasi yang kuat, itu berasal dari sejarah yang hebat,” demikian disampaikan Ketua IPNU Gemurung, Jeffri Ardiansyah saat mencermati artefak (bukti peninggalan para kiai) yang ada di Museum NU.

Mereka dikoordinir Nisrina Firdausi. Bersama Ketua IPPNU  Gemurung, Zikha Sifa Anisa, mereka menjelajah Museum NU sebagai bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) Makesta bulan Mei lalu, yakni pendalaman ke-NU-an dan pengenalan tokoh NU. “Alhamdulillah, di Museum NU terdapat banyak foto-foto Kiai maupun Bu Nyai. Di sini juga teman-teman bisa melihat betapa penting kontribusi kiai-kiai NU dalam menerapkan moderasi beragama, sampai-sampai Raja Saud (Arab Saudi) memberikan surat khusus kepada para kiai NU,” tegas Nisrina Firdausi sebagaimana disampaikan Mohammad Azharuddin, petugas Museum NU kepada duta.co.

Mencermati surat Raja Saud: Yang membuka Haramain (Makkah Madinah) diperbolehkan amalan 4 madzhab. (FT/Azharuddin)

Menurut Azhar, penggilan akrabnya, ‘Surat Raja Saud’ termasuk yang menjadi perhatian para pengunjung, hal yang sama dilakukan kader IPNU-IPPNU Gemurung. Selain itu, ada baju Banser (Barisan Serbaguna) NU  Kota Mojokerto – korban bom natal – juga menjadi perhatian para pengunjung. “Ada juga yang tertarik dengan varian ‘Keris Para Kiai’ saat bertempur melawan penjajah. Juga kitab-kitab klasik yang akan didokumentasikan (secara digital) oleh balai perpustakaan secara profesional,” tegas mahasiswa Pasca Sarjana UNESA (Universitas Negeri Surabaya) ini.

Masih menurut Azhar, ke depan, para penggunjung Museum NU akan ‘dimanjakan’ dengan penataan yang profesional, sehingga mereka dengan mudah menangkap sejarah – termasuk visi-misi – NU sebagai jamiyah diniyah. “Sekarang lagi digagas bersama (Museum NU, Tv9, LP Ma’arif dan Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya tentang re-layout Graha Museum NU, gedung yang diresmikan KH M Sahal Mahfudz dan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahhid). Semoga berjalan lancar,” pungkasnya. (dtc)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry