SURABAYA | duta.co – Sebanyak 15 anggota IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) Kejayan, Pasuruan, Sabtu (11/7/26) bertandang ke Museum NU (Nahdlatul Ulama). Mereka ingin melihat langsung wajah para pejuang NU, termasuk benda-benda peninggalannya.

“Alhamdulillah, pukul 08:30 kita sudah sampai di Museum NU, Surabaya. Melalui foto dan gambar, kita bisa menyaksikan tokoh-tokoh NU zaman dulu. Mereka (tokoh-tokoh NU ini) juga pejuang-pejuang Kemerdekaan RI (Republik Indonesia) pada tahun 1945,” demikian disampaikan salah seorang anggota IPNU Kejayan, begtu sampai di Gedung Museum NU, Jl Gayungsari Timur 35 Surabaya.

Di bawah Koordinasi Niyatul Hasanah, mereka menyusuri lorong-lorong Museum NU. Mereka didamping langsung petugas Museum NU, Muhammad Faris Habiburrahman, yang notabene alumni Universitas Al-Azhar Kairo. “Banyak kader-kader NU yang ingin memperdalam makna perjuangan ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah. Kader-kader muda NU melihat betapa pentingnya menghidupkan kembali semangat juang NU dalam memasuki abad kedua NU ini,” tegas Faris yang juga mahasiswa pascasarajana UIN Sunan Ampal Surabaya tersebut.

Alumni Ponpes Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto, Jawa Timur ini melihat perihal pentingnya Museum NU menjadi laboratorium aswaja an-nahdliyah. “Kemarin ada tamu seorang dai dari Jepang, negeri Sakura, namanya H Kyoichiro Sugimoto, PhD. Beliau juga ingin melihat dari dekat tentang NU,” tegas Haris.

Menurut Haris, usai H Kyoichiro Sugimoto, PhD melihat isi Museum NU, ia memberikan acungan jempol tentang semangat dalam mengabadikan ghirah perjuangan para kiai-kiai NU dalam membina ukhuwah, baik internal maupun eskternal. “Sampai beliau bilang, kalau di Jepang, (Museum NU) seperti ini seluruh dana ditanggung pemerintah. Ini penting demi kelangsungan perjuangan sebuah bangsa,” tegasnya.

Isi Museum NU, tegas Haris, memang amat penting bagi kader NU dan seluruh anak bangsa. Pertama, NU memiliki semangat juang yang luar biasa. Di NU, katanya, ada Resolusi Jihad, yang mengharuskan warga untuk berjihad melawan penjajah. Hukumnya wajib, dan kalau mati, hukumnya mati sahid. “Hanya NU yang memiliki fatwa Resolusi Jihad. Artinya, semangat juangnya terhadap Kermerdekaan RI ini tidak kaleng-kaleng. Sampai-sampai keluar fatwa khusus untuk itu,” tegasnya.

Kedua, semangat global, terkait dengan penguasaan Wahabi di Timur Tengah waktu itu. “Hanya NU yang bersemangat mengirimkan delegasi (Komite Hijaz) ke Timur Tengah (Arab Saudi), sehingga Raja Saud perlu mengirimkan surat balasan kepada Komite Hijaz. Isinya, ternyata boleh dilakukan (ibadah di tanah suci) sesuai dengan empat mazhab. Ini luar biasa, NU pada saat itu sudah membuka cakrawala dunia,” tegas Haris kepada H Kyoichiro Sugimoto yang saat itu mencermati isi surat Raja Saud.

Begitu juga seragam Banser GP Ansor yang harus tercabik-cabik (robek) oleh Bom Natal di Mojokerto. “Ada di lantai 2 (dua). Kita bisa saksikan, betapa saudara Riyanto, Banser GP Ansor harus sahid oleh Bom Natal. Nama kader NU itu kemudian dipatri menjadi nama sebuah jalan di Mojokerto. Meski bukan itu tujuannya, tetapi, ini penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry