UNJUK GIGI : Ibu-ibu PKK saat melakukan gerak dan lagu Rumah Jemantik di sela acara sosialisasi internet positif yang digelar mahasiswa Fakultas Teknik Unusa. DUTA/istimewa

Jumlah pengguna telepon pintar di Indonesia ini konon jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk. Ini artinya, setiap orang di Indonesia ini bisa jadi memiliki lebih dari satu telepon pintarnya. Sehingga tak mengherankan di media sosial pun Indonesia menjadi pengguna terbesar nomor tiga di dunia. Lalu, bagaimana telepon pintar itu bisa digunakan dengan cara bijak dan positif? Perlu edukasi untuk mewujudkannya.

Edukasi itu pula yang dilakukan para mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Para mahasiswa mencoba memberikan edukasi internet sehat pada para ibu. Karena dari data yang ada, justru kebanyakan ibu-ibu yang menggunakan internet terutama untuk media sosial untuk menyebarkan sesuatu yang tidak benar.

Edukasi internet positif ini dilakukan mahasiswa bagi para ibu di Kelurahan Wonokromo. Kelurahan Wonokromo dikenal sebagai kelurahan dengan tingkat kepandatan penduduk tertinggi ketiga di Surabaya.

Sebagai bentuk pengelolahan masyarakat yang produktif, pemerintah Kelurahan Wonokromo membagi masyarakat sekitar menjadi kader-kader yang tersebar dibeberapa RW dan RT. Hal ini bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan program kerja hingga ke unit organisasi terkecil di Kelurahan Wonokromo.

Banyaknya program kerja yang dimiliki oleh pemerintah di Kelurahan Wonokromo menjadikan kader-kader yang produktif terbagi dalam beberapa unit. Di antara kader yang dikerahkan untuk mewujudkan program kerja adalah kader pemberdayaan masyarakat masyarakat, kader pelayanan kesehatan dasar, kader posyandu, kader lansia, kader jumantik, dan jenis kader lainnya.

Setiap kader beranggotakan beberapa ibu-ibu dalam usia produktif dan ramah dengan penggunaan ponsel pintar. Mereka menggunakan ponsel pintar untuk berkomunikasi dan koordinasi baik dalam internal kader maupun lintas kader.

Melihat kondisi tersebut, dosen S1 Sistem Informasi (SI) Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berdayagunakan internet positif bagi ibu-ibu produktif di Kelurahan Wonokromo Kota Surabaya.

Ketua Tim Pengabdian Pengabdian kepada Masyarakat, Paramitha Nerisafitra, SM.Kom., menjelaskan Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk edukasi manfaat sosial media dan e-commerce sebagai bentuk sosialisasi dan peningkatan keterampilan ibu-ibu kader Kelurahan Wonokromo Surabaya dalam menggunakan ponsel pintar.

Pada bab ini akan dibahas terkait gambaran umum peserta, pengetahuan responden terkait internet, sosial media, penggunaan portal aplikasi jual-beli online, dan terakhir pengalaman peserta dalam melakukan transaksi jual-beli.

Berdasarkan hasil wawancara, hampir 98% para ibu kader di Kelurahan Wonokromo memiliki ponsel pintar dan dapat mengoperasikannya dengan tepat. Namun, hanya beberapa aplikasi dalam ponsel pintar mereka yang dapat dioperasikan seperti aplikasi pesan instan whatssapp.

Mereka menggunakan aplikasi ini untuk saling berkomunikasi dan berkoordinasi baik melalui jalur pribadi maupun gabungan grup. Selain itu, mereka juga tidak memiliki pengetahuan yang baik mengenai pemanfaatan ponsel pintar yang lain.

Beberapa ibu mengaku pernah mengunduh aplikasi untuk portal belanja online. “ Namun mereka belum pernah melakukan transaksi karena takut adanya penipuan dan tidak memiliki pengalaman dalam melakukan transaksi,” ungkapnya saat ditemui di Ruang Dosen Lantai 4 Fakultas Teknik Tower Unusa Kampus B Jemursari Surabaya, Jumat (30/11).

Berdasarkan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu pelatihan yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu-ibu kader Kelurahan Wonokromo mengenai penggunaan ponsel pintar yang dapat meningkatkan produktivitas.

Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan edukasi dan pengalaman langsung dalam melakukan belanja online. Selain itu, diperkenalkan pula tata cara untuk menjadi pengusaha yang memanfaatkan aplikasi belanja online sebagai bentuk pemasaran yang tepat di era digitalisasi. Sehingga setelah mengikuti kegiatan ini para ibu kader Kelurahan Wonokromo dapat meningkatkan produktivitas dan ekonomi melalui pemanfaatan ponsel pintar.

Perempuan yang juga sebagai Wakil Dekan Fakultas Teknik (FT) Unusa menambahkan, Situasi di atas, terdapat beberapa persoalan pada ibu-ibu Kader Kelurahan Wonokromo yaitu kurangnya pengetahuan mengenai aplikasi lain selain aplikasi pesan instan yang digunakan dalam berkomunikasi dan tidak ada pengalaman dalam menggunakan aplikasi jual beli online yang dapat meningkatkan produktivitas dan perekonomian.

Gambaran umum responden membahas tentang usia dan pendidikan terakhir responden. Usia responden dapat dijelaskan berdasarkan Tabel 5.1. Berdasarkan Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa usia termuda yang menjadi perangkat atau kader desa adalah 26 tahun dan yang tertua adalah 70 tahun, dengan rata-rata usia seluruh kader adalah 50 tahun. Berbeda dengan Tabel 5.1, pada Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir responden paling banyak adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat.

“Diketahui bahwa pendidikan responden sebesar 74% adalah SMA, diikuti SMP sebesar 18%, SD sebesar 6%, dan pendidikan sarjana memiliki angka terkecil yaitu 2%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu-ibu kader Kelurahan Wonokromo merupakan orang pilihan yang masih berada pada usia produktif, namun masih memiliki pendidikan terakhir SMA,” ungkapnya.

Meskipun demikian hal ini sudah sesuai dengan peraturan undang-undang yang menyebutkan bahwa perangkat atau kader desa yang terpilih minimal memiliki pendidikan terakhir SMA atau sederajat. Peserta sekaligus responden kegiatan pengabdian masyarakat adalah ibu-ibu Kader Kelurahan Wonokromo Surabaya yang berjumlah 90 peserta.

Tri Deviasari Wulan, M.T. mengungkapkan, Seiring dengan berkembangnya teknologi yang semakin pesat, kemampuan pengguna dalam beradaptasi dengan teknologi tersebut juga meningkat. Hal ini yang diujicobakan kepada ibu-ibu kader Kelurahan Wonokromo Surabaya.

Pendampingan kepada para ibu PKK untuk pemasangan aplikasi e-commerce. DUTA/istimewa

Sebanyak 94% responden menyatakan pernah mendengar istilah internet, sedangkan hanya 6% responden yang menyatakan tidak pernah mendengar istilah internet. Hal ini dapat dikuatkan dengan pendidikan responden yaitu jenjang SMA dan mereka tinggal di kota besar seperti Surabaya.

“Selain pengetahuan mengenai istilah internet, sebanyak 20% reponden menyatakan mereka selalu menggunakan ponsel pintar yang dilengkapi dengan jaringan internet. Sedangkan 14% menyatakan sering menggunakan internet dalam ponsel pintar, dan sisanya 66% mengaku jarang melengkapi ponsel pintar mereka dengan jaringan internet,” ungkapnya.

Seiring dengan penjelasan sebelumnya, kepemilikan perangkat ponsel pintar yang dilengkapi dengan jaringan internet. Berdasarkan responden yang memiliki perangkat ponsel pintar sebanyak 68% menyatakan belum pernah melakukan belanja atau transaksi secara online. Hal ini didukung pertanyaan responden bahwa mereka tidak pernah melakukan transaksi jual-beli secara online. rud

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.