Oleh: Mochamad Ikwan, S.S, M.Si, M.Pd.I
Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK)

KESEHATAN mental menjadi tantangan besar di era modern saat ini. Perubahan teknologi yang begitu cepat, persaingan hidup yang semakin ketat, dan tekanan sosial yang semakin kompleks membuat banyak orang hidup dalam kondisi penuh stres.

WHO mencatat bahwa satu dari empat orang pernah mengalami masalah kesehatan mental sepanjang hidupnya. Fakta ini menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan lagi persoalan sepele, melainkan masalah global yang harus ditangani bersama.

Rasa cemas, stres berkepanjangan, hingga depresi kini bisa dialami siapa saja, baik pelajar, pekerja, maupun ibu rumah tangga. Situasi ini menegaskan bahwa kebutuhan akan ketenangan batin semakin mendesak di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Alquran hadir memberikan panduan sederhana namun mendalam tentang bagaimana manusia bisa menjaga ketenangan jiwa. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 ditegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melampaui kesanggupannya. Pesan ini mengajarkan pentingnya penerimaan diri, sebuah sikap yang dalam psikologi dikenal dengan self-acceptance.

Dengan menerima keterbatasan, manusia terhindar dari kecemasan berlebihan dan lebih siap menghadapi cobaan hidup. Kesadaran bahwa setiap ujian sudah sesuai kemampuan menjadi peneguhan batin, bahwa tidak ada masalah yang benar-benar mustahil untuk dihadapi.
Selain itu, Alquran juga menekankan pentingnya ketenangan melalui dzikir, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Dzikir bukan sekadar lafaz di lisan, melainkan latihan menghadirkan kesadaran penuh akan Allah. Dalam psikologi modern, praktik ini mirip dengan mindfulness yang melatih seseorang untuk fokus pada momen kini dan melepaskan pikiran yang memberatkan.

Bedanya, dzikir tidak hanya menenangkan, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta. Dengan dzikir, hati tidak sekadar rileks, melainkan juga memperoleh energi iman yang meneguhkan langkah hidup.

Alquran pun menumbuhkan optimisme melalui firman-Nya dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Ayat ini sejalan dengan konsep resiliensi dalam psikologi, yakni kemampuan bangkit kembali setelah mengalami kesulitan. Optimisme membuat seseorang tidak larut dalam putus asa, melainkan terus yakin akan adanya jalan keluar. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap optimis ini menjadi penopang penting agar manusia tidak tenggelam dalam kelelahan mental, melainkan tetap mencari makna di balik setiap ujian.

Dukungan sosial juga mendapat perhatian penting dalam Alquran. QS. Al-Furqan ayat 74 menggambarkan keluarga harmonis sebagai penyejuk hati, sementara QS. Al-Hujurat ayat 10 menegaskan bahwa sesama orang beriman adalah saudara. Kedua ayat ini menegaskan bahwa hubungan yang sehat dengan keluarga dan komunitas adalah sumber kekuatan mental yang tidak tergantikan.

Psikologi modern juga mengakui hal ini, bahwa dukungan sosial terbukti mampu menurunkan risiko stres dan depresi, sekaligus meningkatkan rasa aman dan kebahagiaan. Kehangatan keluarga dan kuatnya ikatan persaudaraan menjadi benteng jiwa di tengah tekanan hidup.
Menariknya, banyak pendekatan psikologi kontemporer justru selaras dengan ajaran Alquran.

Terapi kognitif mengajarkan perubahan pola pikir negatif, konseling menekankan pentingnya dukungan sosial, sementara mindfulness melatih kesadaran penuh. Semua ini menemukan pantulannya dalam ajaran Islam yang menekankan optimisme, persaudaraan, dan dzikir. Keselarasan ini menunjukkan bahwa wahyu tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh sisi psikologis manusia dengan sangat relevan.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan sekadar terbebas dari gangguan jiwa, melainkan kemampuan untuk hidup dengan tenang, optimis, dan penuh makna. Pesan Alquran tetap relevan di era modern: jangan berputus asa, tetaplah optimis, dan temukan ketenangan dengan mengingat Allah. Dengan menjadikan wahyu sebagai pegangan, kesehatan mental bukan hanya dapat dicapai, tetapi juga bisa dipelihara dengan kokoh sepanjang hidup. *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry