JOMBANG | duta.co – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang melalui Badan Aset kembali menegaskan komitmennya dalam menata dan menertibkan aset organisasi. Dalam rapat pleno yang digelar Sabtu (2/8), PCNU menginstruksikan kepada seluruh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan pengurus ranting se-Jombang untuk segera melakukan pendataan aset secara menyeluruh.

Langkah ini dinilai sangat penting sebagai bagian dari upaya menjaga marwah dan kemandirian organisasi. Pasalnya, hingga saat ini masih banyak aset milik NU yang tidak tercatat secara administratif, tercecer tanpa kejelasan kepemilikan, bahkan berpotensi dimanfaatkan pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

“Semua ranting diminta segera mendata aset-aset NU yang ada di wilayahnya, baik itu berupa tanah, bangunan, maupun sarana ibadah dan pendidikan yang dibangun atas nama NU. Setelah itu dilaporkan secara resmi ke PCNU,” tegas Ketua Badan Aset PCNU Jombang, H. Basyaruddin.

Menurutnya, pendataan aset bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan kebutuhan mendesak demi tertibnya administrasi kelembagaan dan perlindungan hukum atas aset organisasi. Ia menyebutkan bahwa aset yang tidak tercatat secara sah rentan disengketakan atau bahkan beralih kepemilikan secara ilegal.

“Kalau tidak ada data yang rapi dan sah, nanti ketika ada sengketa atau permasalahan, kita tidak punya kekuatan hukum. Ini tanggung jawab moral dan kelembagaan,” tambahnya.

Suasana rapat pleno PCNU.

Lebih lanjut. Basyaruddin mengungkapkan bahwa hasil monitoring awal Badan Aset menunjukkan masih banyak aset milik NU di berbagai MWC dan ranting yang belum terdata secara sistematis. Ada yang hanya diketahui secara lisan oleh tokoh masyarakat atau pengurus lama, tanpa ada bukti tertulis atau sertifikat.

“Kita tidak ingin nanti anak cucu kita kehilangan aset-aset perjuangan ini hanya karena kita abai hari ini,” ujarnya.

Untuk itu, PCNU akan menyediakan formulir dan pedoman pendataan agar prosesnya bisa seragam dan mudah ditindaklanjuti. Ia juga menyampaikan rencana pelatihan atau sosialisasi teknis kepada para pengurus MWC dan ranting dalam waktu dekat.

Hal ini untuk mensinergikan dan tanggung jawab kolektif. Langkah penataan ini mendapat sambutan positif dari berbagai pengurus MWC dan ranting. Mereka mengakui pentingnya langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab kolektif menjaga warisan organisasi.

“Ini momentum bagi kita semua untuk introspeksi. Jangan sampai NU besar secara nama tapi rapuh secara struktur dan aset,” ungkap salah satu pengurus MWCNU Bandar Kedung Mulyo, H. Maghfur Mujtahid.

PCNU berharap kerja sama dari seluruh jajaran struktur, mulai dari tingkat cabang, MWC hingga ranting, untuk menyukseskan program pendataan ini. Sebab, keberadaan aset yang jelas dan terdata akan memperkuat posisi NU tidak hanya dalam aspek sosial keagamaan, tetapi juga secara kelembagaan dan ekonomi.

“Ini bukan semata urusan legalitas, tapi juga bagian dari ikhtiar besar kita menata rumah besar NU agar tetap kokoh dan bermanfaat untuk umat di masa depan,” pungkas. (din)