
SURABAYA | duta.co – Limba kotoran seringkali tidak bisa dimanfaatkan bahkan dibuang karena dianggap limbah. Untuk itu, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Telkom University Kampus Surabaya menghadirkan inovasi pengelolaan limbah ternak kambing berbasis teknologi Internet of Things (IoT) di Desa Sarirogo, Kabupaten Sidoarjo.
Program ini bertujuan mengatasi persoalan limbah kotoran kambing yang berpotensi mencemari lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dan keberlanjutan desa melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Program pengabdian ini berfokus pada pengolahan limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik dengan dukungan sistem IoT. Limbah ternak yang sebelumnya menimbulkan bau tidak sedap dan pencemaran kini diolah menjadi pupuk organik bernilai guna tinggi yang ramah lingkungan dan berpotensi dipasarkan secara berkelanjutan.
Ketua tim pengabdian menyampaikan bahwa pendekatan teknologi dipilih agar proses produksi lebih terkontrol dan konsisten, “Melalui pemanfaatan IoT, proses fermentasi pupuk dapat dipantau secara real time sehingga kualitas pupuk lebih terjaga dan mudah direplikasi oleh masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University Direktorat Kampus Surabaya bekerja sama dengan kelompok masyarakat dan peternak kambing Desa Sarirogo. Masyarakat berperan aktif mulai dari penyediaan bahan baku, pelatihan pengolahan, hingga pengelolaan produksi pupuk secara mandiri, sehingga program tidak berhenti pada tahap instalasi teknologi semata.
Desa Sarirogo dipilih sebagai lokasi kegiatan karena mengalami peningkatan populasi ternak kambing yang signifikan. Jumlah kambing tercatat meningkat dari sekitar 80 ekor pada tahun 2023 menjadi sekitar 140 ekor pada tahun 2024. Kondisi ini mendorong peningkatan pendapatan peternak, namun juga menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Program pengabdian mulai memasuki tahap implementasi sejak Mei 2025, diawali dengan survei lapangan dan observasi kebutuhan mitra pada 9 Mei 2025. Saat ini, kegiatan telah berlanjut pada tahap pembuatan dan perakitan alat fermentasi pupuk yang dilengkapi sensor suhu dan kelembaban, serta persiapan integrasi sistem IoT untuk pemantauan proses produksi.
Salah satu peternak kambing Desa Sarirogo mengungkapkan manfaat langsung dari program ini, “Biasanya kotoran hanya kami tumpuk dan baunya mengganggu. Sekarang bisa diolah jadi pupuk, lebih bersih dan bisa menambah penghasilan,” tuturnya.
Proses pengolahan pupuk organik dimulai dari pengumpulan kotoran kambing, fermentasi menggunakan alat berbasis IoT, pengeringan, penggilingan, hingga proses granulasi. Seluruh tahapan disertai pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat mampu mengoperasikan sistem secara mandiri setelah program berakhir.
Selain berdampak pada lingkungan dan ekonomi lokal, kegiatan ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini mendukung SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengelolaan limbah organik menjadi produk bernilai guna, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan menciptakan peluang usaha baru bagi peternak, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan teknologi IoT dalam pertanian dan peternakan desa, serta SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim dengan mengurangi dampak pencemaran limbah dan penggunaan pupuk kimia.
Melalui inovasi teknologi tepat guna ini, Desa Sarirogo diharapkan dapat menjadi contoh desa mandiri dalam pengelolaan limbah ternak berbasis teknologi, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan secara berkelanjutan. Imm







































