SLB : Sri Suwondo mengaku bersyukur mampu mengajarkan siswa SLB NU (Nanang Priyo/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Suguhan dua tembang cukup apik dipersembahkan anak – anak SLB Bhakti Pemuda Nahdlatul Ulama Kota Kediri, berada di Wilayah Kelurahan Tamanan Kecamatan Mojoroto saat diresmikan pada Kamis (27/02). Sejumlah undangan yang hadir, termasuk Ketua PCNU KH. Abu Bakar Abdu Jalil terkesima layaknya penabuh profesional. Terlihat sosok lelaki tua diantara pengrawit gamelan, diketahui bernama Sri Suwondo selaku pelatih gamelan.

Suguhan pembuka dan dilanjutkan usai acara, bagaikan peristiwa cukup unik dan jarang ditemui. Sebanyak tujuh siswa SLB, terdiri lima anak mengalami Tuna Grahita dan dua siswa Tuna Daksa. Menjadikan undangan makin salut, diantara mereka terdapat salah satu siswa tuna daksa yang menderita cacat penglihatan yang sangat kurang (low vision).

Pelatih gamelan, Sri Suwondo yang ditemui disela – sela acara bercerita suka duka mengajar siswa SLB, kemudian mampu menampilkan musik gamelan dihadapan tamu undangan. “Tantangannya buat saya, bisa mengajarkan musik gamelan kepada siswa berkebutuhan khusus, Alhamdulillah, akhirnya mereka bisa tampil dengan bagus,” tuturnya.

“Secara umum, anak – anak tidak mengerti notasi lagu. Jadi setiap perangkat untuk membedakan bunyi saya tulis angka 1,2, 3 dan seterusnya pada gamelan. Kemudian saya tulis angka itu di papan sangat besar, agar diikuti dan dihafalkan mana yang harus diketuk atau ditabuh,” terang Suwondo

“Kesulitan terbesar mengajar adalah yang kurang penglihatan seperti dialami Dodik. Karena mereka tidak buta tapi sangat kurang dalam penglihatannya. Dengan mengenalkan posisi tiap gong, kemudian disuruh mengingat beda besar kecil suara yg dihasilkan saat ditabuh menjadi metode mengenalkan musik,” jelasnya.

Setelah mengingat posisi gong dan bagaimana suaranya, mereka yang low vision relatif lebih mudah saat praktek, dalam membawakan musik gamelan. Pandangannya memang kurang tapi untungnya daya ingat mereka sangat kuat. Pengajar gamelan yang akrab dipanggil pak Wondo ini, memiliki pengalaman khusus yang membuat dia mau mengajar siswa SLB.

Keseharian Suwondo memang menjadi personel musik gamelan untuk pertunjukan kesenian seperti wayang kulit dan jaranan. Sampai suatu saat bermain dalam tim gabungan musik gamelan untuk pertunjukan wayang di lokasi Desa Ngancar Kabupaten Kediri.

“Saya trenyuh saat tahu penabuh gong adalah orang buta. Tapi permainannya sangat menyatu dan tahu menyelaraskan gong dengan musik gamelan pemain lain. Tidak ada yang menyangka bahwa penabuh gong ini buta,” kenang Suwondo atas peristiwa tersebut.

Saat di tawari mengajar gamelan di SLB dan mengetahui calon anak didiknya diantaranya menderita low vision, Suwondo teringat pengalaman di Ngancar. Dia bertekad pasti bisa membuat anak tersebut memainkan salah satu alat musik gamelan. Usahanya tidak sia-sia. Penampilan anak didiknya dinilai sukses membawakan beberapa irama langgam jawa dihadapan tamu undangan yang menghadiri acara peresmian SLB NU.

“Kehadiran para guru SLB sangat membantu dalam proses latihan. Pengetahuan cara berkomunikasi dan mengendalikan jika anak emosi sangat membantu memahami siswa SLB. Untuk bisa mengajarkan gamelan, harus bisa berperan menjadi teman sebaya sekaligus juga sebagai bapak dan tentu kadang berperan sebagai guru. Saya lebih banyak mendapat ilmu saat mengajar mereka yang berkebutuhan khusus,” ucap Suwondo. (fan/nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry