
“Jangan panik. Sebab “gegeran” hampir selalu berujung “gergeran”. Bertengkar boleh, asal tahu jalan pulang.”

Catatan Pinggir ROMADLON SUKARDI
DI NU, kegaduhan kerap lahir bukan dari niat merusak, melainkan dari cinta yang terlalu keras dan tergesa ingin membenarkan diri. Maka wajar jika “rapor” NU di penghujung 2025 sempat tampak merah menyala—bukan karena gagal mengerjakan ujian akhir, melainkan karena emosi mendahului kebijaksanaan. Di ruang-ruang elite hingga grup percakapan, tensi meninggi, tafsir berkelindan, dan kata-kata melesat lebih cepat daripada jeda berpikir.
Namun NU selalu punya naluri pulang. Seperti murid yang sadar diri, rapor merah itu pelan-pelan dibaca ulang, diperbaiki, lalu dibiru-kan kembali—bahkan sebelum libur panjang benar-benar dimulai. Sejak 25 Desember, tanda-tanda kedewasaan itu muncul; dan pada 28 Desember, ia kian terang. Di sanalah NU memperlihatkan wajah aslinya: organisasi tua yang boleh gaduh, tetapi tak pernah kehilangan insting untuk berdamai, menata masa depan dengan kepala dingin dan hati yang tetap manusiawi.
Pertemuan PBNU di Surabaya menjadi penanda penting. Dua tokoh sentral yang sebelumnya disebut berseberangan—KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf—duduk dalam satu ruang. Situasi yang semula dibaca sebagai retakan struktural, ternyata lebih menyerupai tegangan batin organisasi yang belum tuntas berbicara. Di sekelilingnya, nama-nama lain ikut disebut, dikaitkan, diseret arus tafsir: Gus Ipul, sekjen yang diberhentikan; cerita tentang penumpukan berkas; tuduhan keberpihakan; hingga isu muktamar yang membayang seperti awan mendung di kejauhan.
Lalu NU gaduh. Di elite, di grup-grup percakapan, di media sosial. Tapi menariknya, kegaduhan itu tak pernah benar-benar menembus akar rumput. Batang bawah NU relatif tenang. Justru dari sanalah tekanan moral muncul. Arus bawah tidak sibuk menghitung siapa salah siapa benar. Mereka hanya satu suara: NU jangan pecah. Islah harus terjadi. Bagaimana caranya, urusan elite. Yang penting rukun kembali.
Maka rumah Gus Dur di Ciganjur dan Pesantren Lirboyo di Kediri menjadi simpul-simpul batin. Di sana, kiai-kiai sepuh, para pengurus wilayah, hingga ketua cabang berkumpul. Musyawarah Kubro Lirboyo bahkan memberi tenggat: tiga hari. Tidak mau islah, silakan letakkan jabatan. Sebuah tekanan yang keras, tapi lahir dari kegelisahan yang tulus.
Namun NU memang tak pernah sederhana. Video penjelasan Gus Yahya dari Buntet, Cirebon, membuka bab baru. Runut, panjang, njlentreh. Bagi sebagian orang, meyakinkan. Di sisi lain, respons Rais Aam tak kalah tegas: pemecatan sah, Lirboyo informal. Dua video, dua logika, dua tafsir. Di titik itu, islah terasa seperti islah bersyarat—harus ada yang kalah, harus ada yang dinyatakan salah. Dan di situlah NU hampir terjebak pada ego kebenaran masing-masing.
Beruntung, kiai-kiai sepuh masih berdiri sebagai penyangga akal sehat. Rapat konsultasi di Lirboyo, 25 Desember, mempertemukan kembali yang sempat berjarak. Tabayun dilakukan. Ego diturunkan. Islah disepakati. Bukan islah yang menang-menangan, tapi islah untuk menyelamatkan rumah bersama.
Tiga hari kemudian, di rumah Rais Aam, semua berkumpul. Lengkap. Tidak formal. Silaturahmi. Bicara muktamar, bicara masa depan. Suasana cair. Tawa mulai terdengar.
Dan di situlah saya teringat humor Gus Dur: di NU, “gegeran” itu biasa. Jangan panik. Sebab “gegeran” hampir selalu berujung “gergeran”. Bertengkar boleh, asal tahu jalan pulang. Sebab NU, sejak awal, tidak dibangun untuk steril dari konflik, tetapi untuk selalu menemukan cara berdamai—dengan kepala dingin, hati lapang, dan sedikit tawa di ujungnya. Wallahu A’lamu Bisshawab. (*)





































