Oleh: Suparto Wijoyo*

PERAYAAN Tahun Baru 1440 Hijriyah, 1 Muharram pada Selasa 11 September 2018 amatlah mengesankan. Dihelat beragam elemen yang sangat  memikat. Surau-surau, musala-musala, masjid-masjid, madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, bahkan “gardu cangkrukan” menebarkan tanda syukur atas hadirnya new year 1440 H. Tadarus dan tadabbur Alquran tampak mencakrawala dengan sentuhan jiwa yang mengalunkan nada-nada cinta kepada kekasih yang tidak pernah dijumpanya: Kanjeng Nabi Muhammad saw. Namanya disebut dengan selawat dan pepujian yang membangkitkan mahabbah tanpa jeda. Pendar cahaya kerinduan kepada sosok agung yang menempuh jalan hijrah itu sedemikian membuncah hingga air mata tumpah dalam lamunan zikir yang dipanjatkan.

Memang terdapat pelajaran hebat dari hijrah. Kemuliaan hidup adalah orientasi tunggalnya. Perubahan yang konstruktif merupakan manifestasi  hijrah. Pengelanaan yang nirmakna dan tidak membawa perubahan kebaikan kepada diri pribadi maupun renik sosial politik bernegara bukanlah hijrah melainkan sekadar “jelajah yang  melelahkan”. Hijrah itu memberkahkan dari wilayah yang paling dicintai menuju bumi yang terpatri di hati. Ruhani-ruhani suci tiada pretensi menyusuri ruasnya guna mendapatkan rida-Nya. Lelah bukanlah masalah karena karunialah yang diraih tiada terkira. Langkah diayunkan dalam menapaki  jarak  pengembaraan raga yang membatin sempurna.

Pelajarilah bagaimana hijrah dilakonkan dengan titian keunggulan rasa keterusiran. Selami sikap Nabi saw sewaktu meninggalkan Makkah untuk berhijrah. Beliau sempat menoleh sejenak ke hamparan Makkah, seperti yang ditulis Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din): “Dari seluruh Bumi Allah, engkaulah tempat yang paling kucintai dan dicintai Allah. Jika kaumku tidak mengusirku darimu, maka aku tidak akan meninggalkanmu”.  Sebuah ungkapan  yang sungguh-sungguh mengekspresikan kedalaman  sikap kepada Makkah.

Teranglah bahwa dalam dinamika hijrah selalu ada lelah dan lompatan. Hijrah terbukti membulatkan semangat untuk selalu meraih kerinduan pada “tanah kelahiran” yang menurut ragam budaya Indonesia lazim dikenal dengan “mudik” ke kampung halaman. Hanya saja, hijrah  bukanlah sembarang “mudik”, melainkan “mudik” yang “mensirkulasi sumber daya”, sehingga  dicatat sejarah adanya “episode penaklukan”. Sebuah kuantum kemenangan sekaligus kebenaran mandat kenabian.

Waktu tempuh dari 16 Juli sampai 20 September 622 merupakan saat menancapkan optimisme. Apa yang  terjadi 1440 tahun yang lalu pada setiap ‘sisik-melik’-nya adalah kurikulum kehidupan. Kosmologi hijrah adalah pendadaran hidup yang tidak akan kering ditimba maknanya. Hijrah bukanlah  keterusiran melainkan kerelaan untuk menyonsong esok yang menjanjikan. Hijrah memanen  yaumul marhamah saat Fathul Makkah.

Ingatlah pidato Rasulullah saw yang sangat fenomenal itu:  “Ya, kafir Quraisy, laisa hadza yaumul malhamah, wala kin hadza yaumul marhamah, waantum thulaqo”. Terdapat ungkapan yang luar biasa:  Wahai kafir Quraisy, hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang (hari persaudaraan), dan kalian semua kami bebaskan”.  Pidato ini sejatinya menjadi pengamalan laku muslim di mana pun. Bukankah dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 13 telah diberikan pula arahan hidup berbangsa: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Jadilah insan yang saling mengenal  dalam rida Allah swt. Progres hidup harus dibuatkan agenda yang setiap saatnya dapat dibaca kembali tentang tingkat   kemaslahatannya. Bernegara dan Pilpres 2019 nanti selayaknya dibaca dalam konteks hijrah, “menemukan pemimpin yang semestinya, bukan yang seadanya”. Setiap warga negara dapat menghijrahkan dirinya untuk me-Madinah-kan batinnya hingga arti hijrah “selaku pendulum kebaikan” terus bersemayam dalam dada.  Jadilah muslim yang tiada waktu tanpa hijrah dengan “me-Makkah-kan” dan “me-Madinah-kan” frekuensi hayatnya. Jelajahilah keluasan semesta ini dengan nalar hijrah untuk mampu mengamilkan diri dan keluarga besar Indonesia.

Nukilan ayat 95 dari Surat An-Nisa’ tampak memadai: “… qooluuu alam takun ardhullohi waasi’atan fa tuhaajiruu fiihaa …” – bukankah Bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di Bumi itu”. Ayat demikian memberikan jejak insaniah agar sudi beranjak menggapai kemuliaan dan kemenangan  melalui rotasi takdir yang berhijrah.

Tidaklah elok kalau sebuah umat yang mengenal peradaban hijrah rakyatnya tidak beradab. Korupsi, menyileti diri hanya karena kecewa dan meniru medsos (trend blue whale challenge) seperti yang dipraktikkan murid SMPN 56 Surabaya. Lantas selama ini apa yang di-werdi-kan tentang kehidupan apabila tidak mampu menjawab pertanyaan: kemanfaatan apa lagi yang dapat saya perbuat untuk sesama hamba? Wujudkanlah hijrah sebagai jalan hidup. Dalam lingkup ini saya tersimpuh dalam QS Yusuf ayat 108, “Katakanlah: Inilah jalanku (agamaku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan tidaklah aku termasuk kaum musyrik.

* Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.