Pengukuhan pengurus Pusaka Nawa Kartika Kabupaten Pasuruan oleh Kepala BNN Kabupaten Pasuruan, AKBP Erlang Dwi Permata di Dom Sentra Bangkodir, Pogar, Bangil, Rabu (7/11/2018), malam. (DUTA.CO/Abdul Aziz)

PASURUAN | duta.co – Peredaran narkoba yang makin marak di wilayah Kabupaten Pasuruan menjadi perhatian serius kalangan ulama dan umaro’ di kota santri ini. Bahkan, asosiasi gus-gus pun ikut merasakan dampak yang ditimbulkan oleh narkoba khususnya sabu-sabu, yang dianggap sudah merusak generasi bangsa dan ‘ancam’ para santri kalau tak diantisipasi.

Karenanya dibentuklah wadah yakni Pusaka Pemuda dan Santri Anti Narkoba Kabupten Pasuruan (Nawa Kartika). Wadah ini dibentuk, disamping untuk kegiatan sosialisasi, juga menangkal peredaran narkoba. Karena Kabupaten Pasuruan disebut segitiga emas dan rawan dimanfaatkan oleh jaringan peredaran narkoba internasional.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Pasuruan, AKBP Erlang Dwi Permata mengatakan, Pasuruan berpotensi rawan jaringan dan penyalahgunaan narkoba itu setelah beberapa waktu lalu. “Kurir dan pengedar sabu-sabu jaringan antar negara ditangkap di Pasuruan,” ujarnya, disela pengukuhan Pusaka Nawa Kartika di Dom Sentra Bangkodir, Rabu (7/11/2018).

Erlang menegaskan, pemuda dan santri dinilai dapat menjadi “pejuang” dalam melawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Pasuruan. Karena narkoba berbahaya, melebihi terorisme. Kata Erlang, Indonesia saat ini terbilang menjadi lahan empuk dalam peredaran narkoba jaringan internasional, sehingga menduduki rangking pertama se Asia.

Bahkan, tidak hanya itu, Indonesia disinyalir juga telah menjadi produsen utama dalam narkoba. “Bayangkan saja, saat ini untuk belanja narkoba melebihi pembuatan MRT. Kalau membangun MRT hanya dibutuhkan amggaran kira-kira Rp 70 triliun. Tapi, untuk narkoba bisa sampai Rp 200 triliun. Bahkan di provinsi Jawa Timur juga terbilang mengkhawatirkan,” terangnya.

Sebab, lanjut Erlang, Provinsi Jawa Timur termasuk dalam lima besar nasional. Sementara Kabupaten Pasuruan sebagai segitiga emas, Erlang mensinyalir kawasan Pasuruan berpotensi dimanfaatkan oleh pengedar maupun kurir narkoba. Sehingga pemuda dan santri dipesan untuk tak coba-coba mengkonsumsi narkoba.

Pihaknya juga meminta peran para Kiai dan Habaib untuk ikut membantu dalam menangkal masuknya narkoba. Paling tidak ada pesan moral pada masyarakat terkait bahayanya narkoba. “Jika ada keluarga kedapatan gunakan narkoba, untuk tidak malu dan tidak segan untuk mengantarkan ke BNN, direhabilitasi, gratis,” pesan Erlang.

Sementara itu, Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf yang hadir untuk menyematkan PIN pada pengurus Nawa Kartika meminta agar narkoba diberantas. “Dari catatan saya ada sekitar 50 ribu warga Kabupaten Pasuruan, terjebak dan menjadi bagian terkait penyalahgunaan narkoba, yang harus ditanggulangi bersama,” ujar Irsyad.

Ditegaskannya bahwa komitmen pencegahan dan pemberantasan bersama semua elemen, mutlak dilakukan. “Narkoba kita usir dari bumi Pasuruan tercinta. Tidak cukup hanya Bupati–Wakil Bupati. tidak cukup Pemerintah. Karena harus semua pihak,” papar Gus Irsyad, panggilan akrabnya.

Program pembangunan yang bakal dicanangkan dipastikan tak dapat dijalankan, bilamana narkoba masih menghantui dan merusak warga, terutama kelompok muda. “Seluruh keluarga besar santri, seluruh Ponpes, harus turun di seluruh wilayah, melakukan sosialisasi, bagaimana kejamnya narkoba,” imbuhnya. (dul)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.