Prof Dr Rochmat Wahab, Ketua Komite Khitthah Nahdlatul Ulama 1926. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin baru saja menutup rangkaian acara Muktamar ke-34 NU, Lampung, Sumatera, Jumat (24/12/21). Wapres yang notabene Mustasyar PBNU itu, memuji kader-kader handal NU. Istilah Kiai Ma’ruf, NU memiliki pilot-pilot handal, sehingga Muktamar ke-34 ini bisa landing (mendarat) dengan selamat.

Betul! Mendarat dengan selamat. Proses demokrasi berjalan fair, sampai terpilih nahkoda baru PBNU (KH Miftachil Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU). Tetapi, diakui atau tidak, masih ada rumor yang patut menjadi perhatian kita bersama. Bau duit begitu menyengat. Ada yang beredar secara guyonan, ada pula yang serius.

“Prinsipnya:  Tidak ada asap, kalau tidak ada api. Tetapi, membicarakan politik uang, tanpa ada fakta, tidak ada manfaatnya. Biarlah itu menjadi ranah masing-masing pihak (karena mereka akan memperrtanggungjawabkan) di depan Allah swt,” demikian Prof Dr Rochmat Wahab, Ketua Komite Khitthah Nahdlatul Ulama 1926 (KKNU-26) kepada duta.co, Sabtu (25/12/21).

Sebelum bicara tantangan ke depan, penerus Gus Solah (almaghfurlah KH Salahuddin Wahid) di KKNU 25 ini, memberikan apresiasi atas kerja panitia Muktamar ke-34 NU. “Muktamar ini patut kita syukuri. Panitia (SC dan OC) telah menunjukkan kerja keras dengan hasil gemilang. Tidak berlebihan kalau kita sebut mereka, terutama Prof Nuh, telah menyelamatkan ‘muka’ NU yang selama ini amburadul,” jelasnya.

Menurut Prof Rochmat, muktamar ke-34 ini harus mejadi ‘miqot’ (titik awal red.) NU untuk berbenah. Harus ada semangat reformasi NU setelah lama ‘babak belur’ oleh tarik menarik kepentingan kekuasaan, politik dan uang.

“PBNU periode ini sangat istimewa. Kepemimpinan KH Mif dan Gus Yahya adalah 5 tahun terakhir abad pertama. Menutup 100 tahun NU dalam mengabdi kepada bangsa dan negara, karena NU lahir 1926,” ungkapnya.

Masih menurut Prof Rochmat, kita tidak boleh menafikan hasil kerja keras dua periode Ketua Umum KH Said Aqil Sirodj. Meski diakui, dua kali muktamar NU itu (baik Makassar maupun Jombang) telah terkotori dengan politik uang. “Ini yang kemudian menjadi keprihatinan almaghfurlah Gus Solah,” tegasnya.

“Tetapi, prestasi dan capaian kemajuan kelembagaan dan sumber daya insani ummat nahdliyyin dalam kepengurusan Prof KH Said, dengan Rais Aam KH Sahal Mahfudz, KH Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, terakhir KH Miftachul Akhyar, juga tidak boleh ternafikan. Ada kemajuan di beberapa sektor. Kita lihat pertanggungjawabannya diterima tanpa keberatan sedikitpun dari muktamirin kemarin,” terangnya.

Selama mengikuti jalannya muktamar yang singkat, Prof Rochmat melihat hal-hal penting, setidaknya bisa dibaca bahwa, sebagian besar muktamirin ingin menerapkan konvensi baru berdasarkan spirit reformasi, jabatan cukup dua periode secara berturut-turut. Ini yang pertama.

Jangan Keluar Pakem

Kedua, bahwa dalam menjamin proses keberlanjutan jamiyyah, sangat diperlukan ikhtiar regenerasi, sehingga potensi yang ada dapat bermanfaat secara optimal. Dengan begitu regenerasi dapat berlangsung secara aktif dan produktif.

“Saya melihat duet KH Mif dan Gus Yahya ini merupakan upaya penyegaran kepemimpinan di NU. Terutama dalam menghadapi pembulatan usia NU menjadi 100 tahun atau satu abad. Kesempatan langka ini tidak bisa kita abaikan dan harus kita hadapi dengan kinerja yang total dan fokus,” urainya.

Hasil muktamar Lampung ini, lanjutnya, bukan berarti masalah NU telah selesai. Justru ini menjadi titik awal berbenah. “PBNU sekarang ini memiliki tugas berat, yakni mempertahankan akhlak jamiyyah, akhlak Aswaja. Butuh pakta integritas, sehingga terjadi pembenahan sampai tingkat bawah. Ini jelas tidak gampang,” tegasnya.

Karena itu, Prof Rochmat sangat mengapresiasi pesan penting AHWA terhadap Rais Aam terpilih, agar betul-betul memperhatikan penuh PBNU. Sehingga tidak boleh merangkap jabatan di luar PBNU.

“Ini luar biasa. Dan respon Rais Aam juga luar biasa, sami’na wa atha’na. Komitmen ini patut kita hargai. Tentu harus pula terjadi pada Ketum PBNU. Jika benar-benar terwujud, maka akan menjadi model atau pola bagi pimpinan di bawahnya. Dengan tanpa merangkap jabatan dan tugas, Insya Allah kinerja PBNU akan produktif,” jelasnya.

Kendati demikian, pungkas Prof Rochmat, warga NU tidak boleh lengah, harus memiliki kepedulian untuk mengawasi dan mengingatkan. “KKNU-26 akan terus mencermati kinerja PBNU. Jangan sampai jamiyyah ini keluar dari pakem yang sudah menjadi amanah para muassis,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry