Gamal (kiri) dan Cawapres Sandi., Keterangan foto tribunnews.com

JAKARTA | duta.co – Menyaksikan dialog (live) Kabar Petang TvOne, Senin (25/3/2019) bertajuk ‘Migrasi Pemilih di Pilpres’ yang menghadirkan Gamal Albinsaid jubir Prabowo-Sandi dan Muh Shujahri, jubir milenial TKN Jokowi-Ma’ruf, rasanya, akan jatuh ‘martabat’ lembaga survei.

Apalagi, sebelum dialog, Dr Firman Noor, S.IP, MA (Hons), Kepala Pusat Penelitian Politik (P2P) yang diwawancara lewat telepon memberikan warning akan terjadinya migrasi pemilih besar-besaran dalam Pilpres nanti.

Menurut Firman, bisa saja terjadi perbedaan yang signifikan antara hasil survei (lembaga survei) dengan kenyataan lapangan. Ini karena lembaga survei kemungkinan tidak mampu mengcapture (menangkap) masalah secara utuh.

Firman mengambil contoh Pilkada DKI, Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah, di mana hasil survei berbedah signifikan dengan kenyataan. Ini fenomena migrasi pemilih.

Firman sendiri, sebelumnya, dalam diskusi politik ‘Migrasi Suara Pilres 2019: Hasil Survei Versus  Realita’ di Jakarta, Minggu (24/3) sudah memaparkan soal penurunan elektabilitas paslon 01 (Jokowi-Ma’ruf) karena beberapa faktor.

Di antaranya, pertama ketidakpuasan. Kedua, perubahan citra sosok Prabowo cukup berpengaruh. Ketiga, program yang ditawarkan. Keempat, mesin politik. Keempat, pendekatan ke undecided voters dan swing voters, dan termasuk jaringan relawan yang militan dan luas.

Menariknya, ketika ditanyakan kepada Muh Shujahri, jubir milenial TKN Jokowi-Ma’ruf apakah migrasi pemilih ini menguntungkan 01 atau justru menguntungkan 02? Dan bagaimana dengan faktor pendorongnya? Shujahri justru lebih percaya hasil survei yang ada.

Ia menjelaskan, bahwa, baru saja menghadiri acara konferensi pers sebuah lembaga survei. Hasilnya, tingkat elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dipilih 53,6 % mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang hanya 35,4%.

Sudah begitu, ekstrapolasi pasangan Jokowi-Ma’ruf, katanya, tetap unggul. Ekstrapolasi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 60 persen. Nilai kemantapannya 88%. Dari sini, Shujahri optimis jagonya pasti menang, bahkan bisa jadi, lebih tebal kemenangannya.

Tak kalah menarik jawaban Gamal Albinsaid jubir Prabowo-Sandi. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter ini, memberikan data dan fakta sebagai tanda-tanda kemenangan Prabowo-Sandi.

Gamal tidak kepincut membedah soal migrasi pemilih. Barangkali, istilah migrasi pemilih, hanya salah satu cara untuk menyelamatkan ‘muka’ lembaga survei yang selalu memenangkan Jokowi-Kiai Ma’ruf.

Padahal, menurut Gamal, selain lembaga survei tidak mampu mengcapture fakta yang ada, bisa jadi lembaga survei itu terikat kontrak, sehingga tugasnya membentuk persepsi bagi pemilih. Meski begitu, Gamal mengapresiasi hasil survei Kompas, di mana elektabilitas Jokowi-Ma’ruf terus melorot, sementara Prabowo-Sandi terus naik.

Gamal dengan gamblang menjelaskan tanda-tanda kemenangan Prabowo-Sandi. “Saya mencium aroma kemenangan,” jelasnya.

Menurut Gamal, tanda-tanda itu: Pertama, ingat berapa elektabilitas SBY saat Pilpres dulu, baik sebagai petahana maupun saat dia menghadapi petahana. Bandingkan dengan elektabilitas petahana (Jokowi) sekarang yang sudah di bawah 50% dan kecederungannya terus menurun.

Kedua, hasil survei tidak bisa jadi ukuran, karena bisa jadi ada faktor pesanan. Gamal menyebut survei Charta Politika tentang Pilkada DKI, Jabar dan Jateng yang jauh dari kenyataan.

“Pilkada Jabar hasil survei Charta Politika suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu hanya dapat 7,6%, nyatanya, sampai 28,74 persen. Pilkada Jateng, hasil survei Charta Politika Sudirman Said- Ida Fauziah hanya dapat 13,6%, nyatanya, pasangan ini mendapat 41,53%. Jadi margin erornya 203%,” katanya sambil tersenyum.

Ketiga, pasangan Prabowo-Sandi ini menyuarakan keinginan rakyat, people voice (suara rakyat red.). Ada dua isu serius, harga bahan pangan dan pengangguran. Dua dari tiga anak muda kita tidak puas dengan  kebijakan pemerintah. Begitu juga dengan hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Faktanya, tegas Gamal, masih ada 7 juta lebih pengangguran. Itulah mengapa Jokowi keluarkan Kartu Pra Kerja, Kartu Sembako Murah. Pertanyaannya: Mengapa tidak dulu-dulu?

“Nah, di sini pemilih akan menentukan, kalau pilih petahana maka nasibnya sama dengan 4,5 tahun lalu. Kalau pilih Prabowo-Sandi ada harapan perubahan. Karena yang kami suarakan adalah kehendak rakyat,” tegasnya. (net,tvone)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.