Keterangan foto youtube

SURABAYA | duta.co – Ngaji bersama Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim), tertawa tak ada habisnya. Padahal, yang dikaji, masalah-masalah serius. Saking seriusnya, putra almaghfurlah KH Nur Salim, yang notabene pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang, ini tak jarang memakai kalimat seperti ini: Rungokno, Iki Penting (Dengarkan! Ini penting).

Gus Baha juga kelewat cerdas ‘menguasai’ jamaahnya. Di laman youtube, hampir setiap pengajian Gus Baha, diikuti dua ‘figuran’ penting. Adalah Rukhin dan Mustofa. Dengan hadirnya kedua jamaah ini, Gus Baha menjadi leluasa bicara. Melalui Rukhin dan Mustofa, Gus Baha tak segan-segan menyebut dirinya orang alim. Sebutan yang sangat ‘ditakuti’ oleh para kiai.

Anda perlu tahu, inilah Kang Musthofa dan Kang Rukhin. (FT/IST)

Sabtu (2/45/2020) dini hari, video ngaji Gus Baha beredar sampai jelang subuh. Kali ini soal kaifiyah (tata cara) salat witir (ganjil). Di laman youtube, materi itu diunggah oleh Amaliyah Nursafa, 3 April kemarin. Judulnya Gus Baha’: Berapa rokaat sholat tarawih dan sholat witir?

“Ora usah (tidak boleh red.) tersinggung. Ini ilmu,” begitu Gus Baha memulai dalam video itu.

Gus Baha kemudian menjelaskan, bahwa, di hadits riwayat Bukhari-Muslim, Nabi Muhammad saw itu pernah salat witir, sembilan rakaat. Tidak duduk sama sekali. Baru duduk di hitungan sebilan. Kemudian, salam.

“Sebagian riwayat, nabi memotong solat itu. Sholatul laili (malam) masna-masna. Berarti dua, dua, dua, dua (delapan rakaat), terus satu rakaat (witir),” jelas Gus Baha.

Lalu, jelasnya, sambil meminta jamaah ‘iki rungokno tenan’ (ini dengarkan serius). Kalau ada salat tarawih empat rakaat tanpa tasyahud (awal), secara fikih, pasti kita sepakat sah. Kenapa kita katakan sah, karena Nabi itu malah sembilan, lebih seru.

Dan, terangnya, tidak ada satu pun ulama di dunia ini yang mengatakan, tasyahud awal itu wajib. “Sampean menghukumi tasyahud awal itu juga sunnah. Artinya, khasnya, sunnah itu kalau ditinggalkan tidak batal. Jadi kalau ada tarawih 4 rakaat berturut-turut, tidak batal. Karena yang ditinggalkan tasyahud awal yang kita yakin (hukumnya) itu sunnah,” tambahnya.

Tarawih itu, menurut Gus Baha, yang kontroversi, seperti dijelaskan dalam kitab Al Majmu’ karangan Imam Nawawi, ya karena akal-akalan orang-orang ini. “Saya sampai sekarang tidak jadi imam, tetapi, saya tetap beritahu para imam. Kamu niat ngakali (menipu) Pengeran (Gusti Allah), tetapi, Pengeran mbok akali yo ora kenek (Gusti Allah kamu tipu, jelas tidak bisa),” tegasnya.

“Begini, ini kata Imam Syafi’i, tarawih itu kalau terakhir (witir) itu biasanya tiga rakaat. Kan dikerjakan 2 rakaat dulu. Lalu yang dua rakaat ini niatnya apa? Witir? Setelah dua rakaat, sampean salam tidak? Salam! Ini menjadi salat teraneh di dunia. Karena kamu niat witir, tetapi, jumlahnya dua,” katanya.

Tidak Perlu Diperbesar

Lalu? Anda dijelaskan, dengan alasan ‘tidak’. Maksudnya tiga, tetapi dua dulu.  “Nah, ini berarti kamu harus memberikan penjelasan dulu kepada Gusti Allah. Gusti, ini dua (rakaat) sementara, nanti ada lagi, satu. Kalau tidak diberikan penjelasan, akan menjadi  aneh. Disebut witir (ganjil) tetapi rakaatnya, dua. Jadi niatnya harus ini cicilan witir,” urainya disambut gelak tawa jamaah.

Sehingga, lanjut Gus Baha, Gusti Allah perlu dijelaskan. Jangan Engkau kira dua Ya Allah, ada lagi satu rakaat, jadi tiga. “Makanya bilalnya selalu mengingatkan sollu sunnatan rok’ataini minal witri, diumumkan kepada para jamaah, solatlah dua rakaat tetapi satu paket dengan cicilan witir,” tambahnya sambil menegaskan jika tidak, Anda hanya bilang witir, maka, Anda akan berbohong karena faktanya, dua.

Imam Syafi’i, tegas Gus Baha, telah mengkritik, bahwa, itu salat aneh. Karena salat itu kalau sudah salam, sudah dianggap mustakillah, salat yang mandiri. Tidak bisa salat itu bergantung atau berhubungan dengan salat setelahnya.

“Salat itu, kalau sudah dimulai dengan takbir diakhiri dengan salam, ya sudah, selesai. Dan menjadi salat yang mandiri. Tidak bisa salat yang mandiri ini, nasibnya masih menunggu yang berikutnya, tidak bisa,” tegasnya sambil menyarankan salat witir 3 rakaat itu sebaiknya seperti maghrib, pakai tasyahud awal, tiga rakaat langsung seperti salat maghrib.

Terakhir, Gus Baha minta kekeliruan seperti ini, juga tidak perlu diperbesar. Ya seperti itu. “Mudah-mudahan diampuni Gusti Allah,” katanya enteng.  (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry