SURABAYA | duta.co – Anda menyaksikan debat pertama Pemilihan Presiden 2019, Kamis (17/1/2019), di Hotel Bidakara, Jakarta? Ada episode menarik yang membuat pemirsa ger-geran. Adalah saat Prabowo meminta wakilnya, Sandiaga Salahuddin Uno untuk menambah jawaban karena masih ada sisa waktu sekitar 10 detik lagi.

Menariknya, pertanyaan (lemparan) Jokowi dan dijawab Prabowo ini, adalah soal pemberdayaan perempuan pasangan calon khususnya Partai Gerindra. Karuan, Prabowo seperti dapat bola muntah. Ia bisa menjelaskan dengan detail bahwa partainya-lah yang paling tinggi (hampir 40%) kepengurusan perempuannya. Prabowo juga sempat menyebut nama Rachmawati Soekarnoputri sebagai wakil ketua umum yang tugasnya menjaga ideologi.

“Silakan, ditambahkan,” kata Prabowo kepada Sandiaga di sebelahnya.

Apa jawab Sandi? Merespons Prabowo, Sandi dengan refleks mengatakan, bahwa dirinya bukan lagi kader Gerindra dan tak bisa menjawab pertanyaan itu.

“Saya bukan Gerindra lagi Pak, kecuali Bapak angkat lagi,” ujar Sandiaga sambil tersenyum.

Mendengar jawaban Sandiaga itu, Prabowo dengan gaya lupa bahwa Sandiaga bukan lagi kader Gerindra hanya tertawa kecil. “Oh, iya, iya,” ujar Prabowo sembari tertawa kecil.

Semua pemirsa debat menjadi terhibur dengan jawaban lugas dan cerdas Sandi ini. “Dia betul, refleks yang bagus. Padahal, dalam posisi debat biasa bikin orang reaktif. Dia sangat tahu diri, mampu mengendalikan diri, itulah Sandi, pemimpin masa depan,” celetuk pemirsa dalam nobar bersama di Surabaya.

Kelemahan Jokowi, dia sering menohok dan mendekte lawan politik. Ketika minta penjelasan tentang sejumlah Caleg Partai Gerindra mantan koruptor, Prabowo dengan lugas menerangkan, bahwa, sebagai Parpol itu harus tunduk kepada aturan main. Karena dipilih atau tidak seorang Caleg itu di tangan rakyat.

“Biarkan rakyat yang menilai. Barangkali mereka korupsi tidak besar tetapi memiliki kehebatan di bidang lain, harus diberi apresiasi. Biarkan rakyat yang menentukan. Karena masih banyak koruptor besar-besar dan aman-aman saja,” jelasnya.

Kelemahan lain Jokowi ketika membuat kata penutup. Ia masih berusaha ‘memperburuk citra’ lawan politik. Jokowi menyebut dirinya tahu persis masalah bangsa, tahu persis apa yang harus dilakukan, dirinya tidak memiliki rekam jejak melanggar HAM, rekam jejak kekerasan. Pemirsa paham maksudnya.

Tetapi, lagi-lagi Prabowo unggul, ia memberikan penutup yang masih sejalan dengan tema debat, terutama soal penegakan hukum, HAM. Kelemahan keduanya, masing-masing tidak memberikan apresiasi kepada lawan debat, sebagaimana yang diharapkan pemandu acara. (net)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.