
CIREBON | duta.co — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf semakin menguat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Banyak cabang yang membicarakan kelebihannya.
Dukungan datang dari berbagai kalangan pesantren, kiai muda, hingga aktivis Nahdliyin akar rumput, seiring langkah politiknya yang memilih mundur dari struktur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Tokoh NU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Cendekia, Cirebon, KH. Imam Jazuli, LC., MA, menilai langkah mundurnya Gus Yusuf dari jabatan politik sebagai sinyal serius untuk berkhidmah total di jalur organisasi NU.
“Keputusan Gus Yusuf keluar dari struktur PKB menunjukkan kedewasaan politik dan komitmen keumatan. Ini bukan langkah mundur, tetapi lompatan strategis untuk memimpin NU dengan lebih independen dan bermartabat,” ujar KH. Imam Jazuli kepada media, Sabtu (7/2/2025).
Modal Pesantren dan Nasab Ulama
Menurut KH. Imam Jazuli, Gus Yusuf memiliki modal sosial, kultural, dan keilmuan yang sangat kuat untuk memimpin PBNU. Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Gus Yusuf mewarisi tradisi keilmuan ayahandanya, KH Chudlori, serta menjaga kesinambungan sanad ulama pesantren.
“API Tegalrejo bukan sekadar pesantren, tapi pusat peradaban Nahdliyin. Memilih Gus Yusuf berarti menguatkan peran pesantren sebagai poros kepemimpinan NU,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa Tegalrejo memiliki hubungan historis dengan Gus Dur, yang pernah nyantri di sana. Hal ini membuat Gus Yusuf dipandang sebagai penerus semangat pemikiran Gus Dur yang moderat, inklusif, dan membumi.
Jaringan Jawa Tengah–Jawa Timur
Sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Gus Yusuf memiliki legitimasi kuat di Jawa Timur sekaligus basis kultural Jawa Tengah dari Tegalrejo. Kombinasi ini dinilai ideal untuk menyatukan arus besar Nahdliyin.
“Gus Yusuf merepresentasikan dua poros besar pesantren: Tegalrejo dan Lirboyo. Ini kekuatan langka yang sulit ditandingi kandidat lain,” kata KH. Imam Jazuli.
Dekat dengan Rakyat dan Kaum Muda
KH Imam Jazuli menilai gaya dakwah Gus Yusuf yang turun langsung ke desa-desa membuatnya memahami persoalan riil warga NU, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga keagamaan.
Di sisi lain, usia Gus Yusuf yang relatif lebih muda dibanding kandidat lain membuatnya populer di kalangan milenial Nahdliyin. “Beliau kiai yang alim, tapi juga komunikatif dengan generasi muda. NU butuh figur seperti ini agar tetap relevan tanpa meninggalkan tradisi,” tambahnya.
Visi Moderasi dan Kebangsaan
Dalam konteks tantangan nasional seperti radikalisme dan polarisasi sosial, KH. Imam Jazuli menilai Gus Yusuf memiliki visi moderasi yang sejalan dengan ruh Gusdurian.
“Di tangan Gus Yusuf, NU bisa lebih kokoh menjaga NKRI, merawat kebinekaan, dan menjadi penyeimbang ekstremisme,” tegasnya.
Menuju Muktamar
Dengan kombinasi nasab ulama, rekam jejak pesantren, independensi politik, serta kedekatan dengan akar rumput, banyak pihak menilai Gus Yusuf sebagai salah satu kandidat terkuat Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35.
“Jika NU ingin pemimpin yang berakar pada pesantren, dekat dengan rakyat, dan bebas dari tarik-menarik politik praktis, Gus Yusuf adalah pilihan yang sangat rasional,” tutup KH Imam Jazuli. (zi)





































