SURABAYA | duta.co – Nah! Ini jawaban Djadi Galajapo, pembawa acara Forum Alumni Jawa Timur di Tugu Pahlawan, Surabaya. Dia merasa heran kalau ada panitia yang protes julukan Jancuk. Kepada detikcom Djadi menjelaskan, penyematan gelar ‘cak-jancuk’ untuk Jokowi. sudah melalui proses pembahasan dan diskusi sebelumnya.

“Jadi, sebelum naik pentas sekitar jam 09.30 oleh panitia itu kita dikumpulkan semua di hotel. Nah, dalam meeting dengan panitia dan pengarah acara akhirnya membahas rundown, di rundown itu saya baru tahu kalau ada penyematan gelar atau gelar cak kepada Pak Jokowi,” kata Djadi, Senin (4/1/2019).

Nah, dari pertemuan itu, lanjut Djadi, ia memang mengakui mengusulkan kata ‘jancuk’ karena ia menilai penyematan cak kependekan dari Cakap, Agamis, dan Kreatif itu tidak hanya acara seremonial belaka, namun harus ada spirit perjuangan khas Suroboyo yakni kata jancuk yang merupakan kepanjangan Jantan, Cakap, Ulet, dan Komitmen.

Dari usulan itu, Djadi mengungkapkan semua panitia menyatakan setuju. “Memang saya sudah ingin membawa materi (kata jancuk) itu. Tapi harus melalui pembahasan dan diskusi dulu. Sehingga mereka semua siap, oke, tidak ada masalah diizinkan. Maka pada momen yang pas saya sampaikan,” bebernya.

Usai memberikan gelar cak dan jancuk, Djadi juga merasa tidak ada masalah. Hampir semua panitia bahkan memujinya karena telah mampu membawa acara lebih hidup dengan kekhasan Surabayanya.

“Panitia dari timnya Pak Jokowi juga memberikan pujian acara itu. Karena benar-benar kena dengan taste (rasa) Surabayanya,” imbuhnya.

Lalu bagaimana soal panitia yang menyesalkan pemberian gelar jancuk? Djadi sekali lagi menegaskan bahwa apa yang disampaikan sudah melalui kesepakatan setelah pembahasan dan diskusi dengan seluruh panitia sebelum naik panggung.

Ia menolak apa yang disampaikan sebelumnya oleh sekretaris deklarasi alumni Teguh Prihandoko yang menyatakan panitia hanya memberikan gelar cak saja. Padahal dalam acara itu Teguh hadir dan juga turut memberikan apresiasi juga kepada dirinya.

“Nah, ini yang saya sayangkan. Dan ini sudah saya laporkan kepada ketua panitia Cak Ermawan. ‘Cak, Cak Teguh kok seperti itu cak?’ Nah, temen-temen udah tahu semua arahnya ke mana ini. Saya juga nggak telepon beliau (Teguh). Tapi beliau acungan dua jari (jempol) ke saya kemarin itu,” beber Djadi.

“Jadi semuanya sudah melalui pembahasan dan diskusi kesepakatan bersama. Ya ngapunten saya ini kan sudah 35 tahun ngelawak dan nge-MC ini. Sehingga saya tahu apa yang saya sampaikan tidak hanya sekedar ger tapi juga ada muatan-muatan humanis, moralis dan religius,” tandas Djadi.

Jadi? julukan itu benar-benar kena? Wallahualam. (sumber: detik.com)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.