
JAKARTA | duta.co — Keputusan PBNU untuk mengadakan Muktamar ke-35 NU pada bulan Juli atau Agustus tahun ini memiliki makna sangat strategis. “Ini momentum kekayaan NU,” tegas Wildan Efendy, Senin (23/2/26).
Mengapa? “Ini karena bersamaan dengan momentum menapaki gerbang perjalanan abad kedua organisasi keagamaan terbesar di dunia, sekaligus mengundang pertanyaan arus besar publik tentang siapa yang akan menahkodai PBNU periode mendatang.”
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis daftar tokoh yang berpotensi besar berlaga dan terpilih sebagai Ketum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU nanti.
Peneliti Insantara, Wildan Efendy menuturkan kriteria dalam menentukan 14 nama calon ketum PBNU berdasarkan aspek popularitas, jalur sumber kandidat, dan wawancara dengan pengurus dan warga NU.
Kandidat potensial Ketum PBNU
Kandidat dari PBNU: Prof KH Nuh DEA, KH Yahya Cholil Staquf, KH Syaifullah Yusuf, KH Zulfa Mustofa
Kandidat dari PWNU: KH Abd Ghaffar Rozin, KH Abd Hakim Mahfudz, KH Juhadi Muhammad.
Kandidat dari Tokoh NU dan Pesantren: KH Imam Jazuli, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, KH Marzuqi Mustamar
Kandidat dari Tokoh Politik dan Pemerintahan: H Muhaimin Iskandar, H Nusron Wahid, Prof KH Nasaruddin Umar
Arus Kuat Kepemimpinan Baru PBNU
Pergantian kepemimpinan di sebuah institusi keagamaan bukanlah peristiwa biasa. Ia adalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar jam’iyyah ulama ini untuk melakukan perbaikan tata kelola organisasi dan khidmat untuk umat.”
Wildan menyatakan bahwa desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU dan aspirasi warga NU, menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nahkoda baru di tubuh PBNU. Tingginya aspirasi pengurus dan warga NU agar segera terjadi perngantian elit PBNU mesti djaga kesadaran ini sampai Muktamar ke-35 berlangsung, agar tercipta kepemimpinan baru PBNU yang lebih baik, berintegritas dan sesuai dengan zaman di abad kedua NU.
Insantara juga merilis temuan bahwa 90% struktural dan kulural NU menghendaki proses pemilihan di Muktamar mendatang melalui sistem Ahwa penuh, baik Syuriyah maupun Tanfdziyah.(*)






































