Inilah Gus Ipul-Puti (kiri) dan Khofifah-Emil saat sama-sama memberikan salam dari Kantor KPU Jatim. (FT/RIDHO)

SURABAYA | duta.co – Tuntas sudah pekerjaan KPU Jatim mendaftar pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Pilgub Jatim 2018. Tidak perlu lagi perpanjangan waktu sebagaimana yang diwacanakan KPU. Pilihannya jelas, dua pasangan calon. Khofifah-Emil atau Gus Ipul-Puti. Ada baiknya, sebelum memilih, kita lihat rekam jejak mereka.

KHOFIFAH, siapa yang tak mengenal dia. Istri almarhum Indar Parawansa ini, dikenal sebagai wanita tangguh, murah senyum, tidak mudah diombang-ambingkan kepentingan politik orang lain. Keberpihakannya kepada wong cilik, tidak diragukan lagi. Itulah sebabnya, Presiden Jokowi memasang Khofifah sebagai Menteri Sosial RI.

Walhasil, Kementerian Sosial yang selama ini hanya sebagai lembaga ‘santunan’, lembaga ‘tambal butuh’ disulap menjadi leading sektor, memimpin program pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Hari ini kita saksikan, betapa negara ikut ‘melindungi’ keluarga harapan. Khofifah tidak mau menggunakan istilah keluarga miskin, karena mereka sesungguhnya tidak mau miskin. Kini jumlah mereka terus berkurang, atau paling tidak dengan keterlibatan negara secara total, beban mereka kian ringan.

“Khofifah merupakan salah satu contoh menteri perempuan di sebuah negara muslim terbesar di dunia yang sangat berpengaruh,” begitu kesimpulan media terkemuka Amerika Serikat, Blommberg, pada edisi Juli 2017 kemarin.

Tidak heran, kalau sampai lembaga survey seperti LKP (Lembaga krimatoligi Politik) dan LSJ (Lembaga Survei Jakarta) memberikan nilai (Kinerja Terbaik) di jajaran kabinet Presiden Jokowi mengalahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Pengabdiannya terhadap NU? Tidak diragukan lagi. Ialah pemimpin sejati Muslimat NU. Khofifah tidak hanya membuat organisasi ini tertib administrasi, tetapi, Muslimat NU menjadi satu-satunya Banom yang paling sehat, tertib dan mandiri.

“Selain Muslimat NU menjadi satu-satunya Banom yang paling dibanggakan, organisasi perempuan ini juga paling solid, teduh, rukun, guyub, tanpa konflik. Muslimat terbukti memiliki dedikasi yang tinggi untuk kemaslahatan ummat. Kerja Khofifah luar biasa,” demikian disampaikan Drs H Choirul Anam, Dewa Kurator Museum NU.

Bagaimana di jagat politik? Masih ingat Sidang Umum Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) Januari 1998, yang dijaga ketat 40 ribu pasukan keamanan? Saat itu ia menjadi srikandi Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP-PPP). Perempuan muda yang kala itu baru berusia 33 tahun, menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru, perihal Pemilihan Umum 1997 yang penuh kecurangan.

Khofifah melontarkan pandangannya tentang demokratisasi di depan sidang. Semua fraksi terbelalak. Betapa tidak, apa yang disampaikan Khofifah keluar dari teks yang mestinya terlebih dahulu diserahkan dan disortir kepada ABRI di markasnya di Cilangkap.

Saat ini, Khofifah kembali menggebrak Jawa Timur lewat Pilgub 2018. Ini bukan yang pertama, dua kali Pilgub ia dikalahkan, publik yakin, sesungguhnya, ia menang. Khofifah lalu pamit Presiden RI Jokowi, selama kampanye tidak mungkin merangkap sebagai Mensos RI, apalagi sudah aturan. Dia mewakafkan diri, totalitas untuk rakyat Jatim.

EMIL DARDAK, dia dipilih untuk mendampingi Khofifah. Tidak salah, Emil memang dikenal sebagai anak muda yang tangguh dan cerdas. Dia sempat membuat media Jepang terbelalak. Dalam usia 22 tahun, Emil sudah menyandang gelar doktor termuda di bidang ekonomi di Ritsumeikan Asia Pasific University, Jepang.

Pada tahun 2001-2003, Emil aktif di Warld Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Dia juga didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero). Meski namanya belum popular, hasil resmi Pilgub Trenggalek, cucu tokoh NU H Mochamad Dardak ini, menang telak dengan suara sekitar 76,28 persen.

SAIFULLAH YUSUF, akrab dipanggil Gus Ipul. Bagi warga Jawa Timur namanya sudah tidak asing lagi. Bagaimana tidak, 10 tahun lamanya ia menjadi Wakil Gubernur. Tidak heran kalau popularitasnya mengalahkan calon lain. Gus Ipul lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada tanggal 28 Agustus 1964 dari pasangan (Alm) H Ahmad Yusuf Cholil dengan Hj Sholichah Hasbulloh.

Sebenarnya sejak kecil, Gus Ipul bercita-cita menjadi guru madrasah, karena melihat kondisi madrasah yang menyedihkan. Cita-cita tersebut tampaknya juga dipengaruhi oleh ayahnya yang merupakan seorang pegawai Departemen Agama dan juga seorang guru agama di SD dan SMP.

Demi mewujudkan cita-cita mulia itu, Gus Ipul menempuh pendidikan dasar dan menengah di pesantren di Jombang sampai lulus sekolah menengah atas. Selama bersekolah, dia sudah terbiasa bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan, bahkan yang berbeda agama sekalipun.

Bagi Gus Ipul, bergaul dengan semua orang beragama itu menambah rasa kebangsaan di dalam diri. Selepas lulus SMA ketika akan melanjutkan ke jenjang studi yang lebih tinggi, pamannya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyuruh Gus Ipul untuk kuliah di Jakarta. Gus Ipul kemudian melanjutkan studinya di Universitas Nasional. Selama menjalani masa studinya, Gus Ipul juga menimba ilmu secara langsung kepada Gus Dur yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.

Dari sinilah, Gus Ipul mulai masuk ke dunia politik. Gus Ipul mengawali karirnya dengan bergabung pada organisasi GP Ansor. Pada tahun 2000, Gus Ipul ditunjuk untuk menjadi ketua umum GP Ansor hingga tahun 2005. Gus Ipul juga pernah menjadi anggota DPR dari Fraksi PDIP. Gus Ipul dianggap sebagai lambang aliansi dari Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri karena Gus Ipul adalah orang kepercayaan Gus Dur dan ditempatkan di PDIP.

Ketika hubungan Gus Dur dan Megawati merenggang maka pada tahun 2001, Gus Ipul mengundurkan diri dari PDIP dan juga dari DPR lalu kemudian bergabung dengan PKB. Setelah menjabat sebagai Sekjen PKB, Gus Ipul ditunjuk untuk menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu periode Oktober 2004 hingga Mei 2007.

Pada tahun 2008, Gus Ipul maju mendampingi Soekarwo. Gus Ipul terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Soekarwo selama dua periode alias 10 tahun.

Sayang, saat pendaftaran ke KPU Provinsi dalam Pilgub Jatim 2018, Gus Ipul tidak dikawal Pakde Karwo. Gubernur Jawa Timur itu, justru mendaftarkan Khofifah Indar parawansa.

PUTI, nama lengkapnya panjang sekali, Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri. Di menit-menit akhir, ia terpilih  mendampingi Gus Ipul dalam Pilgub Jatim 2018.

Puti adalah cucu presiden pertama Soekarno. Ayahnya Guntur Soekarnoputra. Sejak 2009, Puti duduk sebagai anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Puti berangkat dari Dapil X Jawa Barat meliputi Ciamis, Kuningan dan Kota Banjar. Maklum, dia juga keturunan Raja Sunda. Dia lulus dari FISIP Universitas Indonesia tahun 1994.

Setelah lulus, Puti tidak langsung terjun ke panggung politik. Dia aktif di berbagai kegiatan sosial kemanusiaan. Puti juga sempat menjadi relawan budaya melalui Kelompok Swara Mahardhikka. Wanita kelahiran 26 Juni 1971 tersebut menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati dan Ketua Yayasan Wildan. Jangat kaget kalau Puti juga jago orasi.

Puti menilai berpolitik harus punya prinsip. Prinsip politiknya adalah ideologi dari Bung Karno untuk memperjuangkan masyarakat kecil yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Demikian dilansir dari putiguntursoekarno.org.

Puti bukan kader sembarangan, pidatonya mampu membuat kiai-kiai menangis, KH Anwar Iskandar (Gus War) pun dibuatnya terkagum dengan pilihan katanya.

Jadi? Semua terserah Anda! Paling tidak foto di atas sudah bisa berbicara, itulah bahasa tubuh mereka. (net,mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.