Mbah Moen dan Prabowo dalam sebuah pertemuan. (FT/IST)

JAKARTA | duta.co – Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 40% suara dalam survei internal mereka. Sementara itu lembaga survei lainnya juga merilis kajian mereka dengan hasil yang berbeda-beda. Namun ada lembaga survei yang mulai menunjukkan kekuatan Prabowo – Sandi.

“Dari survei kita November kemarin, alhamdulillah Prabowo-Sandi sudah 40 persen, cuma beda 4 persen dari Jokowi,” kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, Jumat (7/12/2018).

Berdasarkan pernyataan Andre itu, Prabowo-Sandi mendapat 40% suara sedangkan Jokowi-Ma’ruf Amin mendapat 44% suara, sehingga total 84%. Sisanya sebesar 16% kemungkinan merupakan swing voters atau belum menentukan pilihan. “Kalau menurut tren, insyaallah Januari nyalip Jokowi,” imbuh Andre.

Andre memang tidak menyebutkan apa metode yang digunakan dalam survei internal tersebut. Namun Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin membenarkan soal angka hasil survei internal mereka.

Ada beberapa rilis lembaga survei terbaru mengenai Pilpres 2019. Namun hasilnya berbeda dari survei internal BPN Prabowo-Sandi tersebut. Prabowo dan sejumlah kalangan menilai survei itu dibayar oleh kubu Jokowi. Hanya saja dalam perkembangan selanjutnya ada lembaga survei yang mulai memenangkan Prabowo – Sandi. Tak melulu menang Jokowi seperti sebelumnya. Ini bagi Prabowo merupakan gelagat yang baik.

Elektabilitas Prabowo-Sandi perlahan merangkak naik mengejar Jokowi-Maruf. Terbukti dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dilakukan selama 10-19 November 2018 di 34 provinsi di Indonesia. Di mana Prabowo-Sandi memperoleh elektabilitas sebesar 31,2 persen.

Sedangkan pada survei LSI yang digelar pada 14-22 September 2018, elektabilitas Prabowo-Sandi hanya 25,7 persen. “Saat ini dukungan terhadap Jokowi-Ma’ruf sebesar 53,2 persen, sementara dukungan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,2 persen,” kata Peneliti LSI Denny JA, Adrian Sopa. Prabowo-Sandi merangkak naik mengejar Jokowi-Ma’ruf.
Pada September lalu, Lembaga survei Indikator Politik Indonesia melakukan survei elektabilitas capres-cawapres. Dalam survei itu, pasangan Jokowi-Ma’ruf menang telak 57,7 persen dari pasangan Prabowo-Sandi yang hanya mengantongi 32,3 persen.

Meski masih kalah oleh Jokowi, namun dari angka tersebut jelas terlihat jika elektabilitas Prabowo mengalami kenaikan cukup signifikan. Sebab pada survei Maret 2018 elektabilitas Prabowo hanya 12,1 persen. Melihat hal itu, kubu Prabowo semakin yakin awal Januari 2019 mereka bisa menyalip Jokowi-Maruf.

Lebih -lebih bila melihat hasil survei Media Survei Nasional (Median). Median menyatakan kedua pasangan calon presiden memperoleh dukungan dari organisasi massa berbasis agama yang berbeda. Dalam rilis sigi teranyar mereka, Direktur Eksekutif Median Rico Marbun mengatakan capres inkumben Joko Widodo alias Jokowi unggul di kalangan pemilih Nahdlatul Ulama. “Sedangkan Prabowo Subianto didukung kalangan Muhammadiyah,” kata Rico dalam konferensi pers Elektabilitas Capres: Mampukah Jokowi Berlari Kencang dan Prabowo Mengejar di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 27 November 2018 lalu.

Dalam survei yang dilakukan pada 4 -16 November 2018, Rico menjabarkan sebanyak 47,6 persen pemilih NU mendukung capres Jokowi. Sedangkan 36,4 persen lainnya memilih Prabowo. Adapun 16 persen sisanya belum menyatakan dukungan. Selisih pemilih NU untuk Jokowi dan Prabowo tercatat sebesar 11,2 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan dukungan para pemegang hak pilih dari kalangan Muhammadiyah. Sebanyak 62 persen responden dari kelompok ormas itu menyatakan bakal memilih Prabowo. Sedangkan 23,0 persen lainnya mendukung Jokowi.

Responden dari Muhammadiyah yang belum menyatakan dukungan untuk capres hanya 3,7 persen. Adapun selisih pendukung Prabowo dan Jokowi berjumlah 39 persen. Angka gendut dari persentase dukungan kepada salah satu capres ini menandakan sikap politik anggota ormas yang seragam.

“NU mendukung Jokowi karena ada Kiai Ma’ruf Amin, tapi tentu saja tidak semua warga NU mendukung Jokowi, banyak juga yang ke Prabowo-Sandi. Kalau surveinya ke Malang, pasti ada orang NU yang dukung Prabowo-Sandi” kata Mukhlas, warga NU di Malang, Sabtu 8 Desember 2018.

Median juga menyatakan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno juga unggul di kalangan pengguna media sosial. Ketimbang pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin, pendukung capres nomor urut 02 banyak beredar di Facebook, Twitter, hingga Instagram.
“Dari 100 persen pemilik akun Facebook, 42,9 persen mendukung Prabowo dan 42,4 persen mendukung Jokowi, sementara 14,7 persen undecided,” kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun.

Hasil survei didukung dengan fakta jumlah pengikut media sosial masing-masing capres dan cawapres di Facebook. Pantauan di dunia maya, akun Prabowo Subianto yang terverifikasi memiliki pengikut sebanyak 9,6 juta orang. Angka itu lebih besar dari pengikut akun Jokowi yang berjumlah 8,7 juta orang.

Adapun jumlah pengikut akun Sandiaga Uno yang terverifikasi ialah 1,1 juta orang. Sedangkan Ma’ruf Amin tidak memiliki akun Facebook yang terverifikasi.
Kondisi yang sama juga berlaku untuk dua raksasa media sosial lainnya. Di antaranya Twitter dan Instagram. Responden pendukung Prabowo – Sandiaga yang memiliki Twitter mencapai 59,2 persen. Sedangkan pendukung Jokowi – Ma’ruf hanya 29,5 persen. Adapun pendukung Prabowo – Sandiaga yang memiliki Instagram mencapai 48,9 persen. Sedangkan pendukung Jokowi – Ma’ruf hanya 39,1 persen.

Unggulnya Prabowo – Sandiaga di media sosial dipengaruhi oleh langkah paslon menggencarkan kampanye dunia maya baru-baru ini. Dalam jumpa wartawan di kediamannya, Jalan Pulombangkeng, Jakarta Selatan, Sabtu, 27 Oktober 2018, Sandiaga mengaku aktif menggelar dialog langsung dengan para pengikut di Instagram. Belakangan, Prabowo, melalui tim medianya, makin aktif bergeliat di tiga media sosial besar itu.
Prabowo saat ini telah memiliki pengikut di media sosial Twitter sebanyak 3,3 juta pengguna. Sedangkan Sandiaga diikuti 1,04 juta orang. Adapun untuk Instagram, Prabowo memiliki 2,1 juta pengikut, sedangkan Sandiaga 2,5 juta.

Selama ini Jokowi dituduh menguasai media massa baik cetak maupun elektronik. Jokowi dituduh membeli media massa tersebut. Bahkan liputan media massa untuk aksi Reuni 212 yang dihadiri jutaan orang sangat sedikit. Bila ada porsinya sangat kecil. Reuni 212 dinilai mendukung Prabowo-Sandi. “Mungkin karena pede sudah mengusai media massa, sehingga medsos tidak digarap dengan baik,” kata Roni, warga NU di Sidoarjo. (mdk/det/kcm)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.