Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (kiri) bersama Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Sa’adi saat di ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng Jombang, Rabu (6/11/19).  (Foto: Maha/tebuireng.online)

SURABAYA | duta.co – Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Sa’adi (Rabu, 06/11)  membuka workshop kaderisasi ulama di PP Tebuireng, Jombang. Hadir dalam workshop ini, seluruh Ma’had Aly di Indonesia. Tanggapan positif datang dari banyak netizen.

“Ini baru hebat. Ribuan santri Ma’had Aly ini akan dengan mudah menjinakkan paham-paham radikal. Tidak perlu membubarkan pengajian,” demikian salah seorang netizen melempar komentar ke duta.co, Jumat (8/11/2019).

Ya! Tidak semua pesantren memiliki Ma’had Aly. Ini karena beberapa persyaratan yang tidak mudah dipenuhi. Karenanya dari 28.994 pesantren yang terdaftar dan tersebar di seluruh Indonesia, yang memiliki Ma’had Aly hanya 46 pesantren.

Ma’had Aly adalah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam, berbasis kitab kuning yang diselenggarakan pondok pesantren.

Menurut Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Sa’adi, pesantren harus menjadi basis keilmuan. “Pondok pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang menguasai keilmuwan Islam klasik, jadi beda filosofinya, visinya yang menjadi tujuan akhir dengan pembelajaran itu,” demikian Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Sa’adi dalam acara pembukaan workshop kaderisasi ulama di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Rabu (6/11/19) seperti dikutip tebuireng.online.

Workshop yang berlangsung di Pesantren Tebuireng ini, merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai rangkaian acara dari pertemuan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang akan diselenggarakan di Singapura nanti.

Dalam laporannya, Direktur Jenderal PD Pontren, KH. Ahmad Zayadi, menyampaikan bahwa hasil rekomendasi dari workshop kaderisasi ulama ini akan disampaikan dalam forum MABIMS.

“Kita diminta untuk menyampaikan keberadaan Ma’had Aly sebagai instrument strategis kaderisasi ulama, sehingga pesantren siap menjadi destinasi keilmuwan bukan lagi regional, juga internasional,” ungkap Zayadi.

Harus Lebih Ekstra

Sebagaimana yang diketahui bersama, tujuan didirikannya Ma’had Aly ialah untuk merespon keresahan umat, terhadap semakin menurunnya kaderisasi ulama. Ma’had Aly diharapkan mampu menjadi solusi atas kondisi ini, sehingga hasil workshop ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi bagi para mudir Ma’had Aly, dalam proses pendidikan para mahasantri di Ma’had Aly menuju kader-kader ulama masa depan.

“Ma’had Aly harus menciptakan lulusan yang ahli dalam ilmu agama,” ungkap Zainut Tauhid, Wakil Menteri Agama RI.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, Ma’had Aly memiliki beberapa persyaratan yang menjadi verifikasi dalam menentukan pesantren-pesantren yang dianggap mumpuni untuk dibangun Ma’had Aly di dalamnya, karenanya dari 28.994 pesantren yang terdaftar dan tersebar di seluruh Indonesia, Ma’had Aly hanya diselenggarakan di 46 pesantren.

Direktur PD Pontren, Ahmad Zayadi menambahkan, “sesungguhnya ikhtiar mendirikan ini (Ma’had Aly) merupakan ikhtiar kelembagaan tradisi akademik tafaqquh fi ad-din berbasis kitab klasik tingkat tinggi,” terangnya.

Terakhir, Zainut Tauhid menyampaikan bahwa tantangan ke kiai-an belakangan ini semakin kompleks, sehingga tentunya usaha untuk merespon kondisi ini juga harus lebih ekstra.

“Akhirnya saya memohon doa dan dukungan para kiai, semoga mendapat kemudahan untuk selalu memberi yang terbaik bagi umat dan bangsa,” tandasnya. (sumber tebuireng.online)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry