Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah (kiri) dan Mantan Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Musa (kanan). (FT/Wikipedia dan NUOnline)

SURABAYA | duta.co – Kontroversi penolakan silaturrahim Khofifah Indar Parawansa, akhirnya dijawab oleh Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah. Pengasuh Ponpes Zainul Hasan  Genggong Probolinggo itu, menjelaskan kronologis kenapa PWNU Jatim hanya mau menerima timsesnya saja.

“Saya sengaja menangguhkan permintaan tim pemenangan Khofifah-Emil karena ingin meminta pendapat dari para kiai, yakni Mustasyar dan Dewan Syuriah PWNU Jatim terlebih dulu,” ujar KH Mutawakkil, Senin (12/2/2018).

Masih menurut Kiai Mutawakkil, dalam forum pertemuan Dewan Syuriah di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri pada 6 Januari lalu, hasilnya, para kiai meminta agar kedua Cagub (Khofifah dan Gus Ipul), supaya  tidak perlu repot-repot mengunjungi PWNU agar keduanya bisa fokus untuk mengurus berbagai kegiatan menjelang Pilgub Jatim.

“Para kiai berharap cukup anggota tim pemenangan kedua pihak yang datang pada PWNU Jatim. Tujuannya adalah PWNU bisa menyumbang saran dan masukan agar dalam proses Pilgub Jatim nanti, kedua tim dapat melakukan pendekatan ke masyarakat, mendatangai kantong-kantong pemilih dengan cara santun dan tetap menjaga ketertiban serta kondusivitas,” bebernya.

Sebagai gantinya, PWNU Jatim akan menfasilitasi pertemuan antara dua tim pemenangan pasangan caon di PWNU Jatim pada Selasa (13/2) besok. Hal ini penting dilakukan karena kedua Cagub adalah kader murni NU sehingga perlu diatur berbagai hal untuk menghindari gesekan di masyarakat.

“Tidak ada maksud untuk menolak calon tertentu atau berpihak pada calon tertentu. Hal ini saya lakukan semata karena NU tunduk pada kepemimpinan kiai. Ini adalah ciri khas organisasi yang tidak bisa dilepaskan,” tegas kiai asal Probolinggo ini.

Pada dasarnya, PWNU Jatim berharap agar perhelatan Pilgub Jatim berlangsung dengan aman, damai, serta bersih dari isu-isu sara dan ujaran kebencian, sehingga pada akhirnya bisa menjadi contoh bagi provinsi lain.

Sebelumnya, juru bicara para ulama dan kiai pendukung pasangan Khofifah-Emil,  KH Asep Saifudin Chalim mengatakan bahwa penolakan atau penundaan PWNU Jatim menerima kunjungan silaturrahim Khofifah sudah diprediksi sejak awal. Pasalnya, ketua Tanfidziyah PWNU Jatim sudah berpihak pada salah satu calon di Pilgub Jatim.

Padahal, lanjut kiai Asep, permohonan silaturahmi yang dilayangkan Khofifah adalah respon dari Ketua PWNU Jatim  sendiri yang meminta pasangan calon yang berlaga di Pilgub Jatim untuk bersilaturahmi ke PWNU. Terlebih kedua kandidat sama-sama berasal dari rahim NU.

“Saya tidak kaget dengan penolakan itu. Ini menunjukkan keberpihakkan yang bersangkutan pada calon tertentu. Biar publik yang menilai terhadap penolakkan itu,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu.

Menurut Kiai Asep, sikap PWNU justru kontra produktif. Sebab pada kenyataannya, kiai-kiai yang mendukung Khofifah-Emil semakin bertambah. Mereka yang tadinya netral sesuai arahan PBNU, justru berubah jadi mendukung Khofifah. Hal itu karena merespon sikap Ketua PWNU yang mendukung secara terbuka dan mendorong nahdliyin memilih Gus Ipul.

Terpisah, mantan Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Musa mengatakan pihaknya berharap seluruh pengurus PWNU Jatim jika ingin menjadi tim sukses cagub Jatim, menanggalkan bajunya terlebih dahulu sebagai pengurus NU. “Kalau untuk urusan dukung mendukung harus ditanggalkan dulu,” harapnya.

Dikatakan oleh mantan anggota DPR RI ini, dalam rapat wilayah di PWNU Jatim telah disepakati kalau PWNU Jatim netral di Pilgub Jatim. “Kalau institusinya netral, namun kalau praktek di lapangan tergantung masing-masing individu. Tapi kalau ada pengurus ingin menjadi tim sukses, harus lepas pengurus PWNU-nya,” sambungnya.

Diakui oleh Ali Maschan Musa, bahwa saat ini pengurus di internal PWNU sedang pecah dalam memberikan dukung-mendukung di Pilgub Jatim. “Ada yang mendukung Bu Khofifah dan ada juga mendukung Gus Ipul. Tapi itu sah-sah saja tapi, sekali lagi harus tak pakai jabatannya sebagai pengurus PWNU,“ pungkasnya.

Sementara, Ketua Umum PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah) Mahfud M Nor, menyebut alasan PWNU masih sulit dinalar. “Jelas toh, kalau Khofifah yang mau mertamu (silaturrahim), PWNU masih minta pendapat para kiai, Mustasyar dan Dewan Syuriah terlebih dulu. Ini lucu, sementara yang lain bebas keluar masuk, malah diantarkan lagi,” jelasnya tersenyum. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.