Suasana silaturrhim dzurriyah muassis NU dan habaib, ulama Jawa Timur. (FT/HERU)

SITUBONDO | duta.co – Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo kembali menjadi saksi penting dalam penegakan khitthah Nahdlatul Ulama (NU). 35 tahun lalu, di pesantren ini pula, keputusan penting kembali ke Khitthah 1926, ditetapkan.

Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah, Kiai Haji Raden Achmad Azaim Ibrahimy, cucu pahlawan nasional Almaghfurlah KHR As’ad Syamsul Arifin, menjadi tuan rumah, bertemunya dzurriyah muassis NU, masyayikh, habaib dan ulama Jawa Timur dalam rangka menegaskan pengertian khittah Nahdlatul Ulama.

Kegiatan yang dilaksanakan Kamis 21 November 2019, di auditorium putra itu, menghadirkan banyak tokoh penting, seperti Profesor Doktor KH Ahmad Zahro, Profesor Doktor Rochmat Wahab, Doktor  Marzuki Ali, Gus Hilmi Ash-Shiddiqi,  KHR Achmad Azaim Ibrahimy, dan KH Afifuddin Muhajir.

Tak ketinggalan pengurus harian pesantren, petinggi Universitas Ibrahimy dari Kabid, Kabag, Rektorat, dan Dekanat turut hadir dalam acara tersebut. Silaturrahim ini menghasilkan sembilan rumusan penting.

Berikut lengkapnya:
  1. Sebagai prinsip pergerakan dan pengabdian, khitthah secara substantif sejatinya sudah digariskan oleh Hadratusysyaikh Kiai Haji Hasyim Asya’ri, yakni kembali pada garis perjuangan para ulama salafussholihin, sebagaimana doa yang biasa kita panjatkan kepada Allah swt. Untuk itu, khitthah sebagai garis perjuangan perlu diaktualisasikan kembali dalam rangka jam’iyah diniyah wa ijtima’iyah.
  2. Melalui gerakan kultural ini, majelis silaturrahim mengajak kepada semua warga Nahdlatul Ulama untuk selalu melakukan muhasabah terhadap fenomena ke-NU-an yang terjadi selama ini. Tindakan koreksi diri ini menjadi penting dijalankan, karena tidak ada kesempurnaan dalam hidup setiap manusia. Selain prinsip ini, kita semua juga memiliki kepedulian dan keberpihakan kepada jamiyah NU agar menjalankan organisasi sebagai sarana ibadah perjuangan dan pengabdian kepada allah swt. Jangan dijadikan organisasi NU sebagai alat untuk memuluskan kepentingan pragmatis pribadi dengan menjauhkan prinsip perjuangan yang telah dibangun oleh para muassis Nahdlatul Ulama.
  3. Niat tulus dan ikhlas dalam memperjuangkan NU, hanya mengharap target keridhoan Allah swt . Jika ada di antara kita, baik yang menjadi pengurus maupun tidak, melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan garis perjuangan NU, maka, tegurlah dengan benar dan sabar, sebagaimana prinsip watawa shaubil haq watawa shaubish shabr.
  4. Permusyawaratan dalam tubuh NU sebagai jamiyyah harus mendasarkan pada prinsip dan nilai-nilai yang dibangun para muassis NU. Untuk mengembalikan prinsip-prinsip permusyawaratan dalam setiap penyelenggaraan permusyawaratan di berbagai tingkatan, agar tidak menggunakan cara-cara yang tidak terpuji, seperti mempengaruhi musyawirin dengan politik uang. Fenomena fenomena politik uang setiap permusyawaratan tentu, tidak berjalan secara  tunggal, ada keterlibatan pihak lain yang ingin memanfaatkan NU secara poragmatis. Jika ini masih terjadi dan terus dipertontonkan para pengurus, kami khawatir NU akan kehilangan wibawa dan kharismanya sebagai jam’iyah diniyah wa ijtima’iyah.
  5. Forum meminta kepada PBNU agar melakukan kerja koreksi dan seleksi terhadap penyimpangan-penyimpangan akidah, karena ada dugaan penyusupan terhadap penyimpangan akidah yang tidak sejalan dengan akidah dan prinsip-perinsip ahlussunannah waljamaah di tubuh jam’iyah Nahdlatul Ulama
  6. Kepada seluruh warga NU yang berperan dalam politik dan penyelenggaran pemerintahan, tetap istiqomah memperjuangkan amanah NU, sehingga NU tidak hanya dijadikan alat perebutan kekuasaan, tetapi harus bermanfaat secara umum, maslahah amah.
  7. Perlu memperkuat fungsi kelembagaan mustasyar di jam’iyah Nahdlatul Ulama sehingga apabila terdapat penyalahgunaan kewenangan dalam jabatan kepengurusan, dapat mendapat teguran dan sanksi oleh seluruh anggota mustasyar.
  8. PBNU hendaknya mengelola NU menjadi jam’iyyah ashabul haq wal ‘adl jangan mengubah menjadi jam’iyah ashabul qoror.
  9. Menghimbau kepada seluruh warga nahdliyyin agar selalu istiqomah membaca wirid Ya Jabbar Ya Qahhar. (her)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry