KH Wachid Muin (kanan) Gus A'am (tengah) dan Gus Rozaq. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Ibarat perang Jokowi-Kiai Ma’ruf menerapkan strategi ‘Babat Alas’, tidak menyisakan kekuatan bagi musuh. Demikian menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio.

KH Agus Solachul A’am Wahib Wahab, Ketua BKSN (Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin) bisa memahami analisa itu. Apalagi pihaknya juga sering ditanya kiai dan santri dengan pertanyaan terbalik: Mengapa tidak ikut rame-rame mendukung Jokowi-Kiai Ma’ruf dalam Pilpres 2019?

“Ya! Banyak yang mengajukan pertanyaan terbalik, mengapa BKSN tidak ikut ‘arus besar’ kiai struktural NU (misalnya) yang mendukung Jokowi? Padahal, mestinya, pertanyaannya mengapa dukung Prabowo-Sandi, ini tidak,” kata Gus A’am, panggilan akrab KH Agus Solachul A’am Wahib Wahab kepada duta.co, Jumat (9/11/2018).

Kalau ditanya soal kelebihan Prabowo-Sandi, jelas Gus A’am, enak menjelaskan, sedikitnya ada tiga hal penting. Pertama,  Prabowo ini jenderal paling ikhlas berkorban untuk Indonesia. “Ini yang dawuh (bilang red.) Gus Dur. Masak tidak percaya?” jelasnya.

Kedua, jelas Gus A’am, Prabowo memiliki keberanian, demi bangsa dia memilih Sandiaga S Uno, generasi muda. “Ketiga, Sandi sendiri sudah teruji sebagai anak muda yang cerdas, sukses di bidang bisnis, memiliki kepekaan sosial yang tinggi,” jelasnya.

Doakan Kiai Ma’ruf

Ditanya mengapa tidak mendukung Jokowi? Menurut Gus A’am sedikitnya ada tujuh alasa. “Pertama, bangsa ini butuh presiden yang berani. Bukan petugas partai, yang hanya takut dengan ketua umum. Kedua, masih ingat kita dengan ideologi tertutup, tidak percaya dengan akhirat? Ketiga, masih ingat siapa yang bilang Kemenag itu Bangsat?,” jelasnya.

Keempat, tambah Gus A’am, umat Islam tentu ingat dengan puisi yang mengatakan ‘kidung itu lebih merdu dari suara adzan’. Kelima, di sana (Jokowi red.) ada partai yang merusak khitthah NU. Keenam, lima tahun sudah kepemimpinan Jokowi, buktinya ekonomi tidak tambah bagus, warga NU yang berada di bawah semakin tertekan dengan harga pangan, tarif listrik, BBM dll.

Nah, Ketujuh, mari kita berdoa, berupaya mengembalikan Kiai Ma’ruf ke maqom yang lebih tinggi, ulama dan kiai. Biarlah yang muda bekerja, yang sepuh berdoa,” jelasnya sambil tersenyum.  (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.