BANGKALAN | duta.co – Sehubungan dengan usulan dari sekelompok orang tentang pembangunan Jalan Tol Trans Madura, para tokoh Madura menyampaikan ketidaksetujuan.

Lebih lanjut mereka memberikan masukan realistis sebagai bahan pertimbangan pemerintah.

Menurut Gus Arifin A Hamid, itu bisa menggerus pertanian dan perkebunan. Berikut argumentasi para tokoh Madura dalam menolak pembangunan Jembatan Tol Trans Madura :

Pertama, akan terjadinya akuisisi lahan-lahan produktif pertanian dan perkebunan. Baik itu lahan milik perorangan masyarakat atau milik korporasi (perusahaan).

Jika yang terkena adalah lahan produktif pertanian (sawah) tentu akan berdampak pada produksi tanaman setempat.

Kedua, berpotensi memunculkan spekulan dan mafia tanah. Ketiga, pembangunan Jalan Tol Trans Madura selain tidak berdampak apa pun kepada masyarakat luas juga akan menambah persoalan baru di Madura yang sudah aman tentram.

Keempat, akan memunculkan sentra-sentra usaha dan bisnis baru dimana pemilik dan pelakunya bukan berasal dari Madura, sehingga program ini akan jauh panggang dari api ketika berhubungan dengan penguatan ekonomi keummatan.

Kelima, yang lebih memilukan lagi akan terjadi mati surinya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah jalur utama secara perlahan, Ini tentu akan membuat para pelaku UMKM dan pengusaha logistik menjerit. Ini belajar dari pasca beroperasinya Tol Jembatan Suramadu yang telah membuat jalur Kamal– Bangkalan menjadi jalur mati, tentunya kita tidak akan mengulang kisah sedih ini.

Keenam, Jalan Tol Trans Madura hanya akan menguntungkan kalangan mampu, dan tidak akan berdampak kepada para pengusaha logistik (angkutan barang) dan masyarakat umum, tentu mereka akan kembali menggunakan jalan nasional/ jalur utama.

Ini Solusinya

Untuk itu para tokoh Madura mengusulkan solusi perbaikan jalur transportasi Madura sebagai berikut :

1. Pelebaran Jalan.
2. Perbaikan kualitas jalan.
3. Pembangunan jembatan layang di lokasi macet.
3. Penataan lokasi beberapa pasar tradisional yang selama ini jadi penyebab kemacetan.

Menurut Gus Arifin A Hamid para tokoh Madura telah berkomunikasi satu sama lain, rata-rata mereka tidak setuju dengan pembangunan jalan tol Trans Madura.

“Rata-rata tokoh Madura tidak setuju dengan usulan pembangunan jalan tol Trans Madura, diantara tokoh yang sudah komunikasi satu sama lain adalah Gus Islah Bahrawi, Gus Mahrus Ali Syafii, Kyai Abdul Jalil Talha dan lain-lain” pungkasnya.

Sementara itu, Firman Syah Ali, sang penulis cuitan viral Mati Corona Ala Madura, ketika diwawancarai menyatakan pernah dengar kabar penolakan Jalan Tol tersebut.

“Ya saya juga dengar kabar tersebut, ada Gus Hamid, Gus Islah dan lain-lain. Memang yang paling urgen di Madura adalah pembangunan manusia. Kualitas Sumber Daya Manusia manusia saat ini sangat kritis, sebagaimana tergambar dalam tulisan saya yang viral, yaitu Mati Corona Ala Madura.”

“Orang Madura sangat mudah percaya hoax dan provokasi dalam segala hal, yang namanya ujaran kebencian juga signifikan. Itu jauh lebih urgen untuk ditangani. Atau setidaknya sama urgennya dengan perbaikan pembebasan jalur utama transportasi Madura dari kemacetan” ucap Aktivis NU Jawa Timur ini. (*)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry