Saleh Ismail Mukadar

SURABAYA | duta.co – Mantan Ketua DPC PDIP Surabaya Saleh Ismail Mukadar menjelaskan partainya kalau ingin memenangkan pertarungan dalam Pilwali Surabaya 2020  harus mengusung  Puti  Guntur Soekarno.

Selain itu, Puti harus menggandeng calon walikota dari parpol yang punya basis partai kuat. “Kalau mau menang mudah,  Puti berpasangan dengan pasangan luar PDIP,“ tegas Saleh kepada duta.co, Jumat (13/3/2020).

Kenapa harus Puti yang dicalonkan?   Saleh  menjelaskan, Puti  lebih berpotensi menyatukan faksi-faksi di tubuh DPC PDIP Surabaya.

“Puti lebih punya potensi menyatukan faksi-faksi. Juga memiliki  elektabilitas,  kapabilitas dan harapan keterpilihan lebih daripada calon lain,” tambahnya.

Mantan anggota DPRD  Jatim ini membeber panjang lebar, peluang kader PDIP Surabaya lainnya. Menurutnya, Wisnu Sakti Buana (WS) di internal PDIP bagus,  namun kurang bagus di ekternal.

“Wisnu di internal bagus, tapi dia sangat tidak bagus di eksternal. Di internal juga ada potensi tidak solid. Sementara Eri Cahyadi selain elektablitasnya rendah, dia bukan kader asli yang memiliki basis massa yang solid,” beber Saleh.

Lantas siapa yang layak mendampingi Puti sebagai cawawali, apakah Lia? Gus Hans atau Gamal?  Saleh menyebut nama Gus Hans  atau  Lia lebih layak. “Saya melihat Lia dan  Gus Hans lebih layak (mendampingi Puti) daripada wong Malang (Gamal) itu,” bebernya.

Puti Bisa Satukan Faksi-faksi

Saleh menjelaskan Pilwali 2020 ini,  rivalnya PDIP adalah  Machfud Arifin mantan Kapolda Jatim yang sudah didukung oleh dana yang cukup, berikut sejumlah partai yang memiliki kinerja bagus.

“PDI Perjuangan harus berhitung ulang sebelum memutuskan siapa yang akan maju dan bisa tetap mempertahankan eksistensi PDI Perjuangan di Ibukota Jatim ini. Menurut beberapa lembaga survei dengan calon yang ada, PDI Perjuangan berpotensi kalah bila internal partainya tidak solid, sehingga harus menurunkan Puti Guntur sebagai calon. Ini adalah langkah strategis,” bebernya.

Lebih jauh Saleh mengakui di partainya memang ada beberapa faksi, yakni faksi Bambang-Saleh, faksi Risma dan faksi Wisnu.

“Sehingga menurunkan Puti Guntur sebagai calon adalah langkah strategis. Ini justru untuk menyatukan faksi-faksi yang bertikai di dalam PDI Perjuangan sekaligus untuk memelihara elektabilitas cucu Bung Karno tersebut di Jatim bila tahun 2024 dia harus maju untuk bertarung di Pilgub Jatim,” jelasnya.

Mengapa? “Karena hampir pasti Khofifah akan diajak untuk menjadi Cawapres, sementara Jatim kehilangan orang kuat dan menjadi peluang besar PDI Perjuangan untuk bisa meraih kursi Gubernur setelah Khofifah,” bebernya.(rls.mha)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry