Pria Asmara Dewa saat mengerjakan soal UTBK di Unesa, Kamis (2/5/2024). DUTA/ist
SURABAYA | duta.co – Nunik Indra Susanti, duduk sendiri di kursi panjang yang ada di selasar ruang Training Center lantai 4, Komplek Rektorat, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (2/5/2024).

Sesekali dia mengalihkan pandangannya dari handphone di tangan dan melihat sekeliling. Dan pandanganya selalu terhenti di pintu kaca ruang Training Center itu.

Di balik pintu kaca itu, anak pertamanya,  Pria Asmara Dewa, sedang mengerjakan soal-soal Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK – SNBP) 2024.

Yang spesial, Pria adalah tuna netra.  Lulusan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya itu bersama satu peserta lain yang juga tuna netra dan tujuh tuna daksa didampingi petugas dari Unesa itu harus berjuang untuk menentukan jenjang pendidikannya ke depan

Petugas membantu peserta disabilitas itu jika ada kesulitan teknis. Satu peserta didampingi satu petugas.

Nunik mengaku, anaknya  berkeinginan kuat untuk kuliah walau dengan keterbatasan. “Dia mau jadi guru katanya. Makanya UTBK ini daftar di Unesa jurusan Pendidikan Luar Biasa dan BK (Bimbingan Konseling),” jelasnya.

Nunik berharap, anaknya bisa diterima di Unesa. Kalaupun gagal di jalur UTBK – SNBT ini, nantinya akan mengikuti jalur mandiri di Unesa. “Semoga bisa berjalan lancar, dan semua cita-cita anak saya bisa tercapai,” kata Nunik.

Pria sendiri sudah lama menjadi guru ngaji bagi teman-temannya sesama tuna netra dengan Alquran braille. “Jadi sudah bakatnya menjadi guru,” tukasnya.

Pria mengaku soal UTBK sedikit kesulitan menjawab soal. Namun semua soal bisa diselesaikan dengan baik. “Ya sudah persiapan sejak lama, semoga lolos,” ungkapnya

Wakil Rektor I Unesa, Prof Madlazim mengatakan dari semua lokasi pusat UTBK – SNBT di Surabaya, hanya Unesa yang menjadi lokasi ujian untuk disabilitas.

Hal itu karena fasilitas yang dimiliki Unesa untuk disabilitas sangat lengkap terutama  bagi tuna netra.

“Ada teknologi yang bisa mengubah teks menjadi suara. Sehingga memudahkan penyandang netra untuk mengerjakan soal-soal ujian,” ungkapnya.

Unesa sendiri juga memberikan akses seluas-luasnya bagi penyandang disabilitas untuk bisa menempuh pendidikan di Unesa.

“Kita membuka semua prodi untuk mereka (disabilitas). Monggo mau yang mana. Namun kebanyakan mereka memilih pendidikan guru, mungkin lebih gampang ya, yang tidak menyusahkan dia dan orang lain,” tuturnya.

Untuk jalur penerimaan, Unesa juga memberikan akses bagi disabilitas mendaftar di Unesa di jalur mandiri. Sehingga bagi disabilitas yang sudah mengikuti UTBK dan belum beruntung diterima, maka di jalur mandiri bisa mendaftar tanpa mengikuti tes lagi. “Langsung daftar pakai nilai UTBK itu, kita akan proses tanpa harus tes lagi,” ungkapnya. end

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry