
SURABAYA |duta.co – Nahdlatul Ulama (NU) dilahirkan dan didirikan sebagai jam’iyah diniyah al-ijtima’iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) harus dipahami visi-misinya. Ia berdiri melalui proses panjang, riyadhah, serta isyarah para ulama. Ada tugas keagamaan, kemanusiaan serta kebangsaan.
Sabtu dan Minggu (4 Janurai 2026), tiga dzurriyah muassis NU sepakat mengadakan napak tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama dari Bangkalan sampai Jombang. “Napak Tilas lewat Dermaga Kamal, bukan Jembatan Suramadu,” kata warga NU Surabaya kepada duta.co, Selasa (30/12/2025)
Latar belakang lahirnya NU, tidak ujuk-ujuk. Ini harus dihayati pengurus NU. Jadi? “(Lahirnya NU) itu menunggu isyaroh dari langit, petunjuk para ulama. Nah, dengan adanya kirab atau napak tilas ini, diharapkan setiap pengurus NU paham sejarah panjang jamiyah ini,” demikian disampaikan KH Fahmi Amrullah Hadziq atau Gus Fahmi, Ketua PCNU Jombang, notabene dzurriyah almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari ini kepada tebuireng.online.
Agar jadi pengingat, di semua tingkatan pengurus NU, diminta membuat replika tongkat dan tasbih tersebut. “Nantinya, replika itu dapat disimpan di kantor masing-masing sebagai simbol penyerahan dari pengurus lama kepada pengurus baru,” tambah Gus Fahmi.
Acara ini dibesut tiga dzurriyah muassis NU. Yakni dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan., dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, dan dzurriyah Pesantren Tebuireng Jombang. Dari dzurriyah Kiai Hasyim Asy’ari, selain Gus Fahmi ada Gus Riza Yusuf. Keduanya menjelaskan bahwa kirab ini memiliki makna penting, terutama dalam rangka memperingati satu abad kelahiran NU secara Masehi.
“Tujuan pertama dari kirab ini adalah memperingati 100 tahun kelahiran NU, 1926–2026. Yang kedua, dalam situasi seperti ini, kami berharap para pimpinan NU, mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga PBNU, dapat kembali mengingat bagaimana sulitnya perjuangan para muassis dalam mendirikan NU,” jelasnya.
Kepala Pondok Putri Tebuireng itu, menegaskan bahwa simbol tongkat dan tasbih memiliki makna penting sebagai pengingat sejarah perjuangan para muassis NU. “Setiap ada muktamar, konferensi, atau pergantian pengurus NU, simbol tongkat dan tasbih kepada pengurus baru diharapkan bisa kembali menghidupkan memori perjuangan NU,” tegasnya.
Gus Fahmi kembali menegaskan pentingnya kirab Napak Tilas Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil sebagai pengingat perjuangan para muassis NU. Ia menyebut bahwa para pendiri NU dahulu menempuh perjalanan berat, bahkan berjalan kaki dari Bangkalan menuju Tebuireng demi merawat dan memperjuangkan nilai-nilai keulamaan.
“Bagaimana para muassis sampai berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng. Dengan mengingat hal itu, para pengurus seharusnya tidak main-main ketika menjadi pengurus NU. Jangan memanfaatkan NU, apalagi sampai merusaknya. Yang merusak NU itu bukan organisasi lain, yang merusak NU itu ya orang NU sendiri,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa simbol tongkat dan tasbih yang akan dikirabkan membawa pesan mendalam agar para pengurus benar-benar meneladani keikhlasan, khidmah, dan perjuangan pendiri NU. “Dengan tongkat dan tasbih ini, para pengurus harus bersungguh-sungguh berkhidmah dan menjaga NU dengan ikhlas,” pungkasnya.
Dalam kirab tersebut, dzurriyah KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo akan menerima tongkat dan tasbih dari dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan. Selanjutnya, tongkat dan tasbih tersebut akan dikirab menuju dzurriyah Pesantren Tebuireng Jombang. Kegiatan ini akan melibatkan warga NU dari berbagai daerah untuk ikut hadir dalam rangkaian kirab Napak Tilas pada momentum Harlah ke-100 NU tahun 2026 Masehi. (din)







































