
SURABAYA | duta.co – Industri periklanan nasional memasuki fase transformasi signifikan pada 2026, dengan strategi pemasaran yang sebelumnya bertumpu pada iklan konvensional kini bergeser ke pendekatan berbasis aktivitas (brand activation), digitalisasi, serta personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Hampir 40 persen belanja iklan telah beralih dari media konvensional ke platform digital dan aktivitas pemasaran berbasis engagement, menurut CEO INCREA Media Marketing Agency, Nanda Rizky Amelia.
“Perubahan ini mencerminkan kebutuhan brand untuk membangun hubungan yang lebih personal dan relevan dengan audiens,” ujar Nanda di Surabaya, Rabu (4/3/2026).
Dominasi digitalisasi dan AI dalam industri periklanan sudah mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir, namun 2026 menjadi momentum ketika brand semakin serius menjalin kedekatan dengan pelanggan loyal melalui program brand activation.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi menciptakan pengalaman langsung yang membangun ikatan emosional antara brand dan konsumen, khususnya generasi muda.
Aktivitas luring (offline) juga kembali menguat pascapandemi COVID-19, dengan masyarakat merindukan pengalaman tatap muka seperti konser, event komunitas, dan aktivitas berbasis fandom.
INCREA menegaskan fokus pada service excellence dengan memastikan setiap strategi pemasaran selaras dengan Key Performance Indicator (KPI) klien, dan membuka peluang ekspansi global dengan permintaan klien yang kini tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara Asia. (wk/ril)




































