Kuliah umum HCML dalam acara Migas Goes to Campus di Unair, pekan lalu. DUTA/istimewa

SURABAYA l duta.co –  Industri minyak dan gas (migas) di Indonesia terus berkembang. Tidak hanya sumber daya alam (SDA) yang dibutuhkan untuk keberlangsungan industri ini, tapi juga sumber daya manusia (SDM).

Bicara masalah SDM di industri migas, ternyata tidak hanya mereka yang memiliki kemampuan di bidang teknik yang bisa terjun langsung.

Jurusan non teknik juga sangat dibutuhkan. Sebab urusan non teknik lainnya seperti humas, administrasi, manajerial pun butuh SDM yang handal. Syarat utamanya harus mampu menguasai bahasa Inggris dan memiliki standar yang ditentukan perusahaan.

“Kami menantang kalian, kaum milenials untuk melihat dunia Migas ini sebagai potensi untuk mengembangkan diri. Sebab kalianlah nanti penerus sumber daya Migas di Tanah Air ini,” ujar Manager HR dan General Affairs HCML, Wisnu Prasedyoko.

Wisnu berbicara di depan mahasiswa dalam kuliah tamu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.l pekan lalu.

Wisnu Prasedyoko berharap dengan banyaknya informasi seputar dunia Migas yang didapatkan oleh mahasiswa akan membuat pemikiran mereka tentang dunia kerja pun semakin luas. Kegiatan rutin yang sengaja dilakukan oleh HCML di kampus kampus ini memang menyasar mahasiswa. Selain memperkenalkan industri hulu migas, HCML juga ingin menepiskan persepsi bahwa hanya lulusan teknik yang bisa berkarir di industri migas.

“Bukan hanya orang teknik saja yang dibutuhkan di bidang ini (Industri migas,red) tapi kami juga banyak membutuhkan orang sosial. Seperti dari ilmu telekomunikasi agar apa yang kami punya juga bisa didengar masyarakat lebih mudah,” tandas Wisnu.

Ditegaskan Wisnu, Jawa Timur boleh dikatakan adalah surganya gas alam. Bahkan masyarakat umum kini 5 Kota dan Kabupaten di Jatim sudah merasakan nikmat dan murahnya gas alam di dapur rumah mereka masing-masing.

Salah satunya adalah warga Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo yang baru menikmati Jaringan Gas (Jargas) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan gasnya diproduksi oleh Husky – CNOOC Madura Limited (HCML). HCML sendiri beroperasi di Madura yakni Sampang (Pulau Mandangin) dan Sumenep serta di Pasuruan.

Dan kini tak hanya industri dan restaurant saja yang bisa menikmati gas bersih dan murah tetapi juga ibu-ibu rumah tangga. Semakin dibutuhkannya energi murah maka kebutuhan akan sumber gas alam pun meningkat, artinya dibutuhkan banyak ekploitasi gas alam untuk memenuhinya.

“Saat ini HCML merupakan 3 besar penyumbang produksi gas di Jatim dengan produksi gas sekitar 101 Million  Metric Standard Cubic Feet of Day (MMSCFD), dengan market share 18 persen. Sedangkan yang pertama masih dipegang Kangen Energy Indonesia (KEI) sebesar 27 persen, yang kedua PHE WMO sebesar 22 persen,” jelas Wisnu.

Dikatakan, dunia ekploitasi Minyak dan Gas (Migas) tak hanya padat modal karena alat yang dibutuhkan untuk ekploitasi adalah investasi mahal, tetapi juga membutuhkan proses pencarian sumber gas yang panjang dan sarat dengan teknologi tinggi dan geologi mumpuni.

Tahap awal diperlukan uji seismik untuk melihat potensi gas didalam perut bumi yang diprediksi memiliki sumber daya gas alam. Setelah proses uji seismik, baru akan dilakukan ekplorasi untuk melihat lebih riil potensi gas baik di bawah tanah (Onshore) maupun yang ada dibawah permukaan laut lepas (offshore).

“Setelah ekplorasi menghasilkan potensi gas yang ekonomis, maka perusahaan akan mencari pembeli gasnya dulu, sebab gas tak bisa distok dalam sebuah wadah penampung seperti halnya minyak mentah.  Jadi kami harus menemukan pembeli dan jaringan pipanya dulu baru kami bisa melakukan Eksploitasi atau produksi gas alam itu sendiri. Semua proses ini membutuhkan waktu, modal dan skill yang sangat detail,” beber lulusan IKIP Malang itu dihadapan para mahasiswa Unair. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry