Oleh: Subadianto*

KITA harus tegaskan kembali bahwa Indonesia adalah rumah kita semua. Kita harus saling merasa memiliki, sehingga kita saling menjaga dan merawatnya bersama-sama. Untuk mewujudkannya modal sosial yang kedua adalah Rasa Kebersamaan. Yakni perasaan untuk ingin selalu membangun kerjasama dengan berbagai elemen bangsa. Indonesia yang begitu luas dan besar serta majemuk, tidak bisa dikelola oleh satu pihak saja tanpa melibatkan peran pihak-pihak lainnya. Kita harus terbuka untuk membangun titik temu sehingga ada hal-hal yang bisa dikerjasamakan. Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju, adil, bermatabat dan dihormati dunia jika ada kerjasama yang baik antar semua elemen bangsa. Tidak boleh ada orang atau kelompok yang merasa dirinya paling unggul dan tidak membutuhkan bantuan atau kerjasama orang atau pihak lain. Ketika tidak jadi penguasa,  siap bekerjasama dengan penguasa dalam membentuk kekuasaan bersama atau musyarakah. Tetapi juga siap untuk tidak dalam pemerintahan jika memang harus menjadi kekuatan penyeimbang penguasa. Dan sebaliknya, ketika  diberi kesempatan untuk menjadi penguasa, maka  juga siap melibatkan elemen dan kekuatan politik yang lain untuk masuk dalam kekuasaan yang  terbentuk.

Modal sosial yang ketiga adalah Rasa Saling Percaya. Sebagai bangsa yang sangat beragam suku bangsanya, bahasanya, agamanya, budayanya, adat istiadatnya, pilihan partai politiknya, maka kita harus mengedepankan sikap saling percaya satu sama lain. Kita harus percaya bahwa pada tingkat gagasan kita harus punya prinsip bahwa semua anak bangsa memiliki niatan yang baik untuk kemajuan bangsa dan negaranya. Jangan sampai karena beda partai politik kita memiliki pikiran bahwa partai lain tidak mempunyai niat dan tujuan yang baik untuk bangsanya. Hanya karena beda suku, beda bahasa, beda agama kita tidak saling percaya satu sama lain.

Pada tingkat gagasan kita harus percaya satu sama lainnya. Namun demikian, nanti kita harus melihatnya pada sikap dan perilakunya apakah apa yang dikatakan itu sesuai dengan realitas yang dijalankan? Di situlah ajang pembuktiannya. Apakah benar mereka punya niat baik atau sebaliknya justru mereka adalah pelopor dari tindakan yang menghancurkan bangsa?   Kita harus bisa membedakan sikap pada tataran gagasan dan tataran realitas. Jika pada tataran gagasan kita harus bersikap saling percaya, namun pada tataran realitas, kita harus mengujinya apakah sesuai atau tidak. Jika pada tataran realitas mereka menyimpang maka orang atau kelompok ini harus ditindak secara tegas oleh hukum sebagaimana diatur dalam perundang-undangan yang berlaku. (bersambung)

*Ketua Fraksi PAS DPRD Kab. Trenggalek

Tinggalkan Balasan