Abdul Rahem, Ketua Pusat Halal Unair (dua kiri) berbincang dengan pelaku usaha mikro kecil di sela Konferensi Nasional Halal dan Inovasi Riset 2025, di Auditorium ASEEC, Rabu (25/6/2025). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi motor utama produk halal dunia. Hal itu karena Indonesia memiliki penduduk yang mayoritas beragama Islam. Dengan penduduk muslim yang besar itu  jelas memberikan peluang besar akan kebutuhan produk halal.

“Selain itu kekayaan kekayaan alam Indonesia itu mayoritas berasal dari bahan yang halal terutama nabati dan dari laut,” kata Ketua Pusat Halal Universitas Airlangga, Abdul Rahem saat acara Konferensi Nasional Halal dan Inovasi Riset 2025, di Auditorium ASEEC, Rabu (25/6/2025).

Namun dari semua itu, ada persoalan yang dihadapi. Di antaranya adalah literasi masyarakat tentang halal itu masih rendah. Karena rendah itu membuat  semua dianggap sudah halal. “Padahal yang haram itu hanya sedikit. Kalau di dalam Alquran ada empat yakni daging bangkai, darah, babi dan hewan halal yang disembelih tidak sesuai syariat Islam. Namun yang sedikit itu justru mengkontaminasi makanan yang sudah pasti halal dari bahan baku nabati itu,” jelas Abdul Rahem.

Rahem memberikan contoh sambel pecel. Dari bahan baku, sambal pecel dibuat dari bahan nabati. Namun ketika kacang sebagai bahan baku utama itu digoreng, pastinya perlu diwaspadai, minyak gorengnya itu halal apa tidak. Apa kandungan di dalam minyak goreng itu. Jika sedikit saja mengandung bahan tidak halal maka akan mengontaminasi yang lain jadi tidak halal.

Karena itulah pentingnya dilakukan sertifikasi halal. Sertifikasi halal itu adalah memberi jaminan bahwa barang atau produk itu sudah halal. Dan mendapatkan sertifikasi halal itu  harus melalui audit, bukan hanya dilihat dari bahan tapi prosesnya.

“Mulai dari bahan awalnya, diproses, dipacking dan penyimpanannya. Contoh saja misalnya semua proses dan bahan sudah halal, tapi selesai di-packing disimpan di gudang yang jadi kandang anjing misalnya. Itu sudah tidak halal,” tutur Rahem.

9 Ribu Produk UMK Disertifikasi Halal

Dikatakan Rahem hingga tahun kedua, Pusat Halal Unair berdiri, sudah ada 9 ribu produk Usaha Mikro Kecil (UMK) yang disertifikasi. Dan masih banyak juga yang menunggu proses sertifikasi halal itu.

Diakui Rahem, Unair sebagai lembaga pendidikan, harus berperan untuk mengedukasi masyarakat. Semua dituangkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi baik itu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Penelitian dilakukan untuk menyubstitusi bahan yang tidak halal dengan bahan yang halal. Misalnya ada glukosamin yang selama ini diproduksi dari bahan yang tidak halal, kini bisa dibuat dari bahan halal misalnya dari kulit kerang, kulit kepiting dan sebagainya.

Selain itu, Unair juga sedang melakukan riset cara cepat mendeteksi bau sebuah produk yang mengandung unsur atau bahan yang tidak halal. Ada juga yang deteksi lewat pantulan cahaya. “Jika ada kandungan tidak halal pasti akan tercium. Kalau di awal sudah tercium maka jelas itu tidak halal,” tukasnya.

Sementara untuk pengabdian masyarakat, dikatakan Rahem, Unair menurunkan mahasiswa KKN dengan materi halal, salah satunya dengan sosialisasi. Bahkan mahasiswa bisa langsung memberikan pendampingan terhadap masyarakat yang ingin produknya memiliki sertifikasi halal. “Ini sangat mengena dan dibutuhkan masyarakat saat ini,” tandas Rahem. lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry