Oleh: Soetanto Soepiadhy

MASUKNYA Indonesia ke pasar bebas (MEA- Masyarakat Ekonomi ASEAN) —  hingga saat ini, menjadi penyebab negara tidak maju-maju dan meraih tujuan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, sampai mengakibatkan masyarakat Indonesia tidak sejahtera meski memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA).

MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya sistem perdagangan bebas antarnegara ASEAN. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya – Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Myanmar — telah menyepakati perjanjian MEA atau ASEAN Economic Community (AEC).

Tentu terdapat banyak sekali pandangan berkaitan dengan pemberlakuan kebijakan, baik pihak yang setuju maupun yang tidak setuju. Memang pada kenyataannya, MEA tidak serta-merta membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Melainkan pada kenyataannya, ada banyak sekali tantangan yang justru perlu dihadapi baik pemerintah dan masyarakat Indonesia. Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap pemberlakuan MEA adalah faktor budaya (culture).

 

Hakikat Kebudayaan

Manusia adalah unsur utama pencipta (ke)budaya(an). Dari dalam diri manusia ada ide dan gagasan, ada penciptaan dan produktivitas serta sikap dan prilaku keseharian yang mencerminkan dan membedakannya dengan kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Perbedaan itu menjadi jelas karena kekhasan dan keunikan yang dimiliki masing-masing kebudayaan dengan berbagai latar belakang budayanya, antara lain suku-bangsa, adat-istiadat, bahasa, tradisi-tradisi, kesenian, ritual, upacara-upacara, alam kepercayaan. (Ivan R.B Kaunang).

Di dalam perkembangan waktu, ada kesan, bahwa kebudayaan yang satu dengan yang lain karena adanya distribusi kognitif yang sama, diperoleh dari berbagai informasi media, maka kelihatannya sudah mulai ada persamaan. Bahkan hampir-hampir tidak bisa dibedakan lagi, dari apa yang ditunjukkan oleh hasil-hasil kebudayaan dengan berbagai latar belakang yang berbeda; kebudayaan yang mana lebih dahulu dengan yang lainnya.

Kebudayaan dibedakan dengan peradaban, meski pun pada beberapa literatur kadang kala menggunakan istilah kebudayaan untuk menunjukkan suatu peradaban. Para ahli pendidikan dan antropologi sepakat, bahwa budaya adalah dasar terbentuknya kepribadian manusia. Dari budaya terbentuk identitas seseorang, identitas suatu masyarakat  dan identitas suatu bangsa. Dengan budaya itu pulalah seseorang akan memasuki budaya global dalam dunia terbuka dewasa.

 

Globalisasi, Glokalisasi, dan Grobalisasi

Kemunculan MEA tentu akan semakin memudarkan garis-garis antar-bangsa di negara-negara Asean. Pertukaran barang dan jasa akan semakin deras dan mudah. Hal ini tentunya juga akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dari negara-negara ASEAN, baik secara budaya maupun sosialnya. Indonesia merupakan negara yang terdiri atas beraneka ragam budaya. Akankah keanekaragaman ini akan bertahan? Atau justru secara dinamis akan mengarah ke sebuah budaya yang tunggal atau dominan? Dampak MEA terhadap negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia dapat ditinjau melalui kacamata globalisasi, glokalisasi, dan grobalisasi. (// mybrainlabyrinth.blogspot.co.id).

Globalisasi menurut The American Heritage Dictionary yakni “the act of process or policy making something worldwide in scope or application”,yaitu suatu tindakan dari suatu proses atau pengambilan kebijakan menjadikan sesuatu yang mendunia (universal) baik dalam lingkupnya maupun aplikasinya. MEA tentu mengarahkan ASEAN lebih maju dan membuatnya seolah tidak memiliki batasan ruang. Pertukaran, terutama secara budaya, akan jauh lebih mudah. Namun, kecemasan yang timbul, justru hal tersebut akan menghapus atau memudarkan nilai budaya-budaya yang sudah ada dalam setiap daerahnya.

Sejalan dengan pandangan pandangan di atas, siapkah masyarakat Indonesia mempertahankan budaya-budaya yang ada ketika menghadapi MEA? Hal ini bergantung kepada tiap individu. Seseorang akan mencintai budaya dan negaranya ketika ia sudah memelajarinya. Segalanya dimulai dengan mengenal. Ketika kita sudah mengenal apa kebudayaan kita, siapa akar kita, rasa cinta dan tanggung jawab akan tumbuh mengiringi kita. Jadi, budaya tersebut akan mengakar dalam diri kita sekalipun secara geografis kita bukan berdiri di wilayah yang berbudaya sama dengan kita.

Sementara itu, glokalisasi memiliki pandangan yang berbeda dalam kaitannya dengan dampak MEA terhadap kebudayaan negara-negara ASEAN. Glokalisasi yang terdiri dari kata global dan local merupakan proses penyesuaian produk global dengan karakteristik atau ciri khas lokal. Istilah ini pertama kali dimunculkan di Harvard Business Review pada akhir 1980 oleh para ekonom Jepang. Hal ini merupakan salah satu strategi bisnis yang kini kerap digunakan agar konsumen memiliki rasa kedekatan pada produk tersebut.

Globalisasi justru dianggap menjadi salah satu pendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap kearifan lokalnya sendiri, sehingga glokalisasi terus berkembang. Dengan begitu, melalui MEA ini, negara-negara ASEAN justru dipicu untuk lebih mempertahankan kebudayaan yang dimilikinya sendiri. Mereka justru menjadi lebih peka dan sadar akan jati dirinya masing-masing.

Dengan hadirnya pandangan mengenai glokalisasi, memecah beberapa pandangan mengenai globalisasi. Salah satunya ialah bahwa globalisasi akan melahirkan generasi masyarakat yang homogen. Di sini, globalisasi justru dipercaya akan memecah manusia menjadi makhluk yang lebih berbeda-beda. Tidak heran bila ke depannya, lahir kebudayaan-kebudayaan baru yang merupakan perpaduan antar-budaya yang ada di ASEAN. Dalam kasus ini, MEA justru menjadi semacam katalis yang mempercepat proses perpaduan dan kelahiran budaya-budaya baru atau perpaduan ini. Heterogenitas pun tetap terjaga.

Berbeda dengan glokalisasi, grobalisasi justru percaya bahwa globalisasi menyetir dunia ke arah yang homogen. Setiap individu memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Hal ini yang membantu mereka menyesuaikan diri dengan globalisasi dan mendorong terbentuknya budaya yang berlaku secara mendunia. Melalui pandangan ini, MEA justru mempercepat proses homogenitas tersebut. Setiap individu dituntut untuk mampu bersaing dalam lingkup ASEAN. Hal ini mendorong terbentuknya ekonomi dan komunikasi yang stabil dan menimbulkan persamaan perspektif dalam interaksinya. Dengan ini, tentu masyarakat yang terlibat dalam MEA ini akan mengarah ke suatu kebudayaan yang sama, dengan tujuan dan persepsi yang sama.***

*Soetanto Soepiadhy Staf Pengajar FH Untag Surabaya dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.