
Catatan Pinggir
Dr. Romadlon Sukardi, MM*
Di bawah langit pagi Idul Adha 1447 Hijriah yang penuh kekhusyukan di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, puluhan ribu jamaah larut dalam samudera takbir, tahmid, dan tazim kepada Allah SWT. Momentum sakral itu semakin bermakna ketika Ketua Umum MUI Jawa Timur, Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, MA, hadir sebagai khatib dengan mengangkat tema besar “Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk Membina Generasi Unggul.” Sebuah tema yang tidak hanya menyentuh dimensi spiritualitas, tetapi juga menyuarakan arah besar pembangunan peradaban umat di tengah tantangan zaman modern yang semakin kompleks.
Dalam khutbahnya, Prof. KH. Abd. Halim Soebahar menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan madrasah agung tentang keimanan, keikhlasan, kepatuhan, dan pengorbanan total kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS digambarkan sebagai figur visioner yang mampu menempatkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya, sementara Nabi Ismail AS menjadi simbol generasi unggul yang sabar, tangguh, dan penuh keikhlasan dalam menerima amanah kehidupan. Nilai-nilai inilah yang menurut beliau harus diwariskan kepada generasi masa depan agar lahir insan-insan berkarakter kuat, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi dinamika global dengan tetap berpijak pada nilai-nilai ilahiyah.
Khutbah tersebut seolah menjadi refleksi mendalam bagi arah pembangunan bangsa hari ini: bahwa kemajuan teknologi, ekonomi, dan peradaban modern tidak akan memiliki makna tanpa fondasi moral dan spiritual yang kokoh. Dari mimbar Masjid Al-Akbar Surabaya, pesan besar itu bergema kuat — bahwa membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi harus disertai keteguhan iman, ketulusan pengabdian, dan semangat pengorbanan demi kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Kepemimpinan yang Melayani dengan Hati dan Visi Peradaban

Di tengah gema takbir Idul Adha 1447 Hijriah yang berkumandang dari Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, publik tidak hanya menyaksikan ritual spiritual tahunan, tetapi juga melihat refleksi kepemimpinan yang bekerja dengan hati, bergerak dengan visi, dan melayani dengan pengorbanan. Kehadiran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak di tengah ribuan jamaah menjadi simbol bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar administrasi kekuasaan, melainkan pengabdian total untuk menghadirkan kemaslahatan umat, ketahanan sosial, serta keseimbangan antara pembangunan material dan spiritual.
Momentum Idul Adha tahun ini menjadi sangat bermakna karena Jawa Timur tidak hanya berhasil memastikan stok hewan kurban aman, sehat, dan mencukupi, tetapi juga mampu membangun ekosistem peternakan modern berbasis teknologi, kesehatan veteriner, biosecurity, hingga digitalisasi distribusi ternak. Sebanyak lebih dari 427 ribu kebutuhan hewan kurban di Jawa Timur dipastikan terpenuhi dengan dukungan ribuan tenaga pemeriksa kesehatan hewan, dokter veteriner, serta sistem pengawasan lalu lintas ternak yang semakin profesional dan terintegrasi. Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur sedang bergerak menuju model tata kelola pangan dan peternakan berkelas dunia yang modern, presisi, dan berkelanjutan.
Dalam perspektif kepemimpinan transformatif, langkah Khofifah-Emil tidak berhenti pada penguatan simbolik keagamaan, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang menyentuh sektor ekonomi rakyat, UMKM peternakan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekosistem digital agribisnis. Ketika para peternak mulai memanfaatkan platform digital untuk pemasaran hewan kurban, sesungguhnya Jawa Timur sedang membangun fondasi future agro-livestock ecosystem yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kepemimpinan seperti ini selaras dengan semangat Nawa Bhakti Satya khususnya Jatim Sejahtera, Jatim Agro, Jatim Kerja, dan Jatim Lestari yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat pembangunan. (detikcom).
Lebih jauh, semangat Idul Adha yang meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi energi moral dalam membangun generasi unggul Jawa Timur menuju Indonesia Emas 2045. Keteladanan tentang keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan kepatuhan kepada nilai-nilai luhur sesungguhnya adalah fondasi utama pembangunan SDM masa depan. Karena itu, ketika Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengintegrasikan pembangunan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga spiritualitas dalam satu orkestrasi kebijakan, maka yang sedang dibangun bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga peradaban.
Pada titik inilah kepemimpinan Khofifah-Emil tampak memiliki karakter humanistic futuristic leadership — kepemimpinan yang mampu memadukan empati sosial dengan visi masa depan. Di satu sisi hadir memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi, di sisi lain membangun transformasi jangka panjang berbasis inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan. Model seperti ini selaras dengan agenda besar Sustainable Development Goals (SDGs), terutama penghapusan kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan berkualitas, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, hingga pembangunan berkelanjutan. (�
Institut Teknologi Sepuluh Nopember + 1).
Idul Adha akhirnya bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, ia menjadi metafora tentang bagaimana seorang pemimpin harus rela “berkorban” untuk rakyatnya, menghadirkan keteduhan di tengah tantangan global, menjaga stabilitas pangan, memperkuat ekonomi rakyat, dan memastikan pembangunan tetap berpihak pada kemanusiaan. Dari Jawa Timur, publik melihat bahwa pembangunan modern tidak harus kehilangan ruh spiritualnya. Justru dari nilai-nilai spiritual itulah lahir kepemimpinan yang kuat, elegan, inklusif, dan berdampak luas bagi masa depan bangsa.(*)




































