
SURABAYA | duta.co – Banyak sarjana meneliti sejarah perkembangan dan perjuangan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) nimbrung ke Musem NU yang ada Surabaya. Mereka seperti ‘napak tilas’ menyaksikan dari dekat benda-benda peninggalan (artefak) kiai-kiai NU dalam mengenalkan Islam rahmatan Lil ‘alamin (ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah) serta pentingnya membangun toleransi dalam bingkai kebangsaan.
Tapi, kali ini, ide pendirian Musem NU yang diteliti. “Kalau selama ini sudah banyak peneliti mengupas sejarah NU, kami ingin meneliti pendirian Museum NU. Bagaimana cerita berdirinya Museum NU di Surabaya yang megah tersebut? Barangkali ini satu-satunya sebuah Museum NU yang ada di Indonesia,” demikian disampaikan Hisyam Alwi, mahasiswa Fakutas Humaniora (Fahum) Jurusan Sejarah Peradaban Islam, UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Ampel (SA) Surabaya, Senin (9/2/26).
Kepada Mokhammad Kaiyis, pengelola Museum NU, Alwi berkisah bahwa dirinya ingin mendapat penjelasan detail perihal Museum NU. Ini ide siapa? Visi-misinya seperti apa? Seberapa efektif dalam mengawal visi-misi itu? Lalu, siapa saja yang terlibat dalam pengawalan program ini? Dan bagaimana hubungannya dengan NU serta pemerintah? Siapa pula yang mendanai? “Kami ingin memperoleh data-data itu. Ini kerja serius,” tegasnya.
Dijelaskan, bahwa, Museum NU ini lahir atas gagasan Gus Dur (almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid red). Ide itu diamanahkan kepada Cak Anam (almaghfurlah Drs H Choirul Anam), yang dikenal orang dekat Gus Dur. Ada 4 gagasan Gus Dur waktu itu. “Pertama, gedung Astranawa (bintang sembilan). Kedua, Gedung Museum NU. Ketiga, gedung (guest house) kiai semacam tempat penginapan yang dikelola secara professional. Dan keempat, manara rukyat. Yang terakhir (menara rukyat) belum terbangun. Tiga hal sudah, tinggal memaksimalkan, termasuk Museum NU,” tegas Kaiyis yang kini tengah berkonsentrasi memaksimalkan peran Museum NU.
Menurut Kaiyis, di dalam Gedung Museum NU, banyak hal penting yang harus terpatri di benak generasi muda NU. Misalnya, bagaimana memperkokoh bangunan tolerasi beragama? Bagaimana membentengi NKRI (Negara Ksatuan Republik Indonesia) dan bagaimana NU memegang teguh prinsip madzahibil arbaah? Pun peran penting NU dalam ibadah di tanah suci, Saudi Arabia. Surat balasan Raja Saud kepada Komite Hijaz, kita simpan sampai sekarang,” tegasnya.
Gedung Museum NU juga menjadi jujugan mahasiswa magang. Baru saja selesai 4 mahasiswa Unesa jurusan sejarah, kini di Museum NU tengah berlangsung mahasiswa magang UIN SA Surabaya. Masing-masing Ulvi Ramadhaningsih, Wina Charisma CR, Rahayu Khuirotun Nisa dan Velia Rahmadhani. “Jangan mau kalah dengan mahasiswa UK PETRA, mereka juga rajin mempelajari konten Museum NU. Museum bukan sekedar tempat koleksi, tetapi juga penetrasi misi generasi berikutnya,” tegas Kaiyis. (net)





































