DISKUSI: Sejumlah narasumber menyampaikan bahaya narkoba kepada peserta diskusi yang diikuti ibu-ibu majelis taklim dari Jakarta Utara, di kantor PCNU Jakut, Kamis (22/12).|DUTA/HUDA SABILY
DISKUSI: Sejumlah narasumber menyampaikan bahaya narkoba kepada peserta diskusi yang diikuti ibu-ibu majelis taklim dari Jakarta Utara, di kantor PCNU Jakut, Kamis (22/12).|DUTA/HUDA SABILY

JAKARTA-Momentum peringatan hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember menjadi momen terpenting bagi kaum hawa, untuk terus berbakti dan membina keluarganya. Seperti, yang dilakukan ibu-ibu majelis taklim dan keluarga besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara.

Diskusi yang digelar LDNU PCNU Jakarta Utara di Kantor PCNU Jakarta Utara, Kamis (22/12) kemarin, merupakan hasil kerjasama dengan BNN. Setidaknya, ratusan ibu-ibu dari majelis taklim di Jakarta Utara mengikuti acara diskusi, yang membahas tentang penguatan dan pemahaman bahaya narkoba.

Dalam pemaparannya, Deputi pemberdayaan masyarakat BNN, Sinta Simanjuntak mengajak, ibu-ibu majelis taklim untuk terus berjuang dan komitmen menyelamatkan keluarga, anak-anak dari ancaman bahaya narkoba yang sudah merusak generasi bangsa Indonesia.

“Ibu-ibu ayo mulai sekarang tata niat kita untuk menyelamatkan keluarga kita dari bahaya narkoba. Sekali lagi, selamat hari ibu,” ujar Sinta mengawali diskusi.

DKI Jakarta merupakan salah kota terbesar di Indonsia yang tingkat perederan, dan pemakainya dari anak remaja terbanyak dibandingkan kota besar lainnya.

Menurut Sinta, di Jakarta masih banyak anak-anak (kaum pelajar) pemakai narkoba sampai menjadi pengedar narkoba. Indikatornya, mereka (anak-anak) bergaul bebas, berbeda tingkah dan prilakunya dari sebelum memakai narkoba. Tentu hal ini menjadi keprihatinan bersama dan sekaligus menjadi PR untuk menuntaskan masalah tersebut. “Ibu-ibu harus waspada bahaya narkoba, kenali narkoba, kenali anak-anak mulai dari tingkah laku sampai pergaulannya,” ungkapnya.

Dikatakannya, ada tiga faktor penyebab terkena narkoba, pertama, karena rasa ingin tahu yang kuat sekali (coba-coba). Kedua, pergaulan yang salah kaprah (bebas) dan ketiga, terjerat jaringan pengedar narkoba. “Sekarang itu, narkoba tidak pandang usia, dan dimanapun tempatnya, bahkan di sekolah dasar (SD) sudah ditemukan permen (snack) yang mengandung narkoba, sekali lagi, ibu-ibu harus teliti dan waspada,” tegas Sinta.

Bahwa awal petaka terjadi karena ingin tahu atau coba-coba, lanjut Sinta, rasa keingintahuan yang tinggi untuk mencoba, maka awal pula kehancuran masadepan generasi bangsa. “Jadi, rasa ingin tahu, penasaran, itu sulit di redam karena mereka tidak tahu dampaknya,” tambahnya.

Solusinya adalah, kata Sinta Simanjuntak, iman (keyakinan) yang kuat, memikirkan masadepan yang baik dan pengawasan serta didikan dari orang tua. “Makanya sejak anak usia dini harus ditanamkan keimanan yang kuat, didik dan awasi prilaku dan pergaulannya, tidak masalah ibu-ibu crewet kepada anaknya kalau untuk kebaikan masadepannya,” pungkasnya.

Sementara itu, Imam Nawawi penanggungjawab acara mengatakan, target dari acara ini adalah untuk melakukan penguatan dan pemahaman kepada ibu-ibu sebagai tulang punggung keberlangsungan masadepan generasi anak bangsa. “Jadi tidak muluk-muluklah, yang penting ibu-ibu yang hadir bisa kuat pemahamannya tentang dampak bahaya narkoba,” ungkapnya.

Menurutnya, sosialisasi tentang dampak bahaya narkoba kepada masyarakat terutama ibu-ibu penting dilakukan, mengingat narkoba sudah masuk pada wilayah keluarga dan anak-anak. “Makanya kegiatan seperti ini kedepan harus selalu dilakukan, selain menjadi penguatan juga menjadi pencegahan di masyarakat,” pungkasnya. * hud

Tinggalkan Balasan