

Ditemui usai prosesi, Sri Wahyuningsih mengaku senang bisa bersamaan wisuda dengan Sahda. “Awalnya, saya duluan, tapi ternyata Sahda bisa menyelesaikan skripsi dengan lebih cepat. Alhamdulillah bisa bareng,” ujarnya.
Ibu dan anak ini berprestasi. Sang ibu lulus dengan IPK 3,97 dan si anak sejak kuliah hingga lulus tidak sepeserpun mengeluarkan biaya, alias beasiswa.
“Alhamdulillah lagi, kami menempuh kuliah dengan mudah, walau ada sedikit kerikil tapi bisa diatasi,” ungkap Sri.
Sri Wahyuningsih adalah guru SMPN 1 Kasiman Bojonegoro, sementara tempat tinggalnya di Cepu. “Saya jalani. Alhamdulillah tinggal nunggu SK penempatan jadi kepala sekolah. Karenanya, kuliah S2 ini penting buat saya,” katanya.
Sebagai guru yang ‘angkatan lama’, Sri mengaku banyak belajar dari anaknya,Sahda. Terutama yang ada kaitannya dengan teknologi. “Tidak malu belajar sama anak,” katanya tertawa.
Sahda pun membenarkan. Seringkali ibunya bertanya bagaimana mencari jurnal terindeks dengan mudah. “Ya saya bantu” tukasnya.
Sementara itu, Rektor Unesa, Prof Nurhasan, menekankan pentingnya adaptasi di era ketidakpastian global. Pihaknya terus berinovasi meningkatkan layanan, salah satunya dengan memberikan ijazah langsung saat prosesi wisuda selesai.
“Wisudawan harus paham AI dan teknologi. Kami siapkan mereka agar tidak gagap ketika selesai di kampus tercintanya (Unesa),” jelas Cak Hasan, panggilan akrabnya.
Bagi Sri, gelar magister ini menjadi modal penting untuk karier selanjutnya sebagai fasilitator pembelajaran. Sementara Sahda berencana melanjutkan studi profesi untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang jaksa. ril/lis