
SURABAYA | duta.co – Tingginya kebutuhan layanan fertilitas di masyarakat terlihat dari membludaknya peserta program ASHA Open House: Celebrate Hope with ASHA yang digelar ASHA IVF Indonesia. Layanan ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Surabaya.
Hanya dalam lima hari sejak pendaftaran dibuka, lebih dari 400 pasangan mendaftar untuk mengikuti pemeriksaan kesuburan gratis, sementara kuota yang tersedia hanya 170 peserta. Tim Asha IVF melakukan seleksi secara teliti untuk memastikan slot untuk pasangan yang paling membutuhkan penanganan segera.
Program yang dilaksanakan serentak di tiga cabang ASHA IVF Indonesia, yakni ASHA IVF Waron Hospital, ASHA IVF PHC Hospital Surabaya, dan ASHA IVF Jaladri RSPAL Dr. Ramelan Surabaya pada Minggu, 31 Mei 2026 menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesuburan sejak dini.
dr. Dr. Amang Surya Priyanto, SpOG, F-MAS, mengatakan tingginya jumlah pendaftar menunjukkan masih banyak pasangan yang membutuhkan akses layanan fertilitas dan informasi kesehatan reproduksi.
“Sebagai bagian dari Kota Surabaya, kami ingin ikut merayakan hari jadi kota ini dengan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Banyak pasangan yang ingin punya keturunan tetapi belum mengetahui kondisi reproduksinya. Melalui ini kami ingin membantu mereka mendapatkan pemeriksaan awal dan arahan yang tepat,” ujarnya.
Menurut dr. Amang, peserta yang mengikuti program ini memperoleh layanan pemeriksaan kesuburan dasar, konsultasi langsung dengan dokter fertilitas, pemeriksaan USG, ringkasan hasil pemeriksaan, hingga rekomendasi program kehamilan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan. Nilai layanan yang diterima setiap peserta diperkirakan mencapai Rp1,2 juta.

Banyak Pasangan Tidak Menyadari Penyebab Sulit Hamil
Dalam pemeriksaan yang dilakukan selama Open House, dokter menemukan berbagai faktor yang menyebabkan pasangan mengalami kesulitan memperoleh keturunan.
“Banyak pasangan yang datang tanpa mengetahui masalah yang sebenarnya. Setelah dilakukan wawancara dan pemeriksaan USG, baru terlihat penyebabnya. Ada yang mengalami gangguan ovulasi, ada dugaan endometriosis, ada gangguan pada ovarium, dan ada juga faktor dari pihak laki-laki,” kata dr. Amang.
Ia menjelaskan bahwa skrining kesuburan dimulai dari wawancara medis untuk menelusuri riwayat kesehatan reproduksi pasien. Setelah itu dilakukan pemeriksaan USG guna melihat kondisi organ reproduksi secara lebih detail.
Dari sejumlah pasien yang diperiksa pada kegiatan tersebut, ditemukan beberapa kasus yang mengarah pada endometriosis, kondisi yang dapat memengaruhi kesuburan perempuan. Selain itu ditemukan pula gangguan ovarium hingga masalah pada faktor pria yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
“Tujuan skrining ini bukan langsung menentukan terapi, tetapi mengidentifikasi akar masalahnya terlebih dahulu. Setelah penyebabnya diketahui, baru dapat ditentukan langkah penanganan yang paling sesuai,” jelasnya.
Fertility Decline Bisa Terjadi Sebelum Usia 35 Tahun
Dalam kesempatan itu, dr. Amang juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan reproduksi, terutama perempuan yang telah memasuki usia 30 tahun.
Menurutnya, terdapat kondisi yang dikenal sebagai fertility decline, yaitu penurunan kemampuan reproduksi akibat berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur.

“Kita tidak pernah tahu kapan penurunan kesuburan itu terjadi karena setiap orang berbeda. Bisa usia 35 tahun, bisa 40 tahun, bahkan bisa lebih muda. Karena itu jangan hanya merasa aman karena masih muda,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pasangan yang berencana menunda kehamilan sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan terlebih dahulu agar mengetahui kondisi reproduksinya.
“Kalau memang ingin menunda kehamilan silakan, tetapi kenali dulu kondisi organ reproduksinya. Jangan sampai saat ingin hamil nanti ternyata cadangan telur sudah menurun atau mengalami menopause dini,” katanya.
Egg Banking untuk Perempuan yang Belum Menikah
Selain pasangan menikah, perempuan yang belum menikah juga dianjurkan mulai memperhatikan kesehatan reproduksinya.
Dr. Amang menjelaskan bahwa perempuan yang belum memiliki rencana pernikahan dalam waktu dekat dapat mempertimbangkan penyimpanan sel telur atau egg banking sebagai salah satu langkah menjaga peluang kehamilan di masa depan.
“Kesuburan tidak hanya ditentukan jumlah sel telur tetapi juga kualitasnya. Karena itu jangan menunggu usia 40 tahun baru berpikir menyimpan sel telur. Idealnya dilakukan sebelum usia 35 tahun ketika kualitas telur masih baik,” ujarnya.
Gaya Hidup Modern dan Stres Turut Berpengaruh
Sementara itu, dr. Edwin Budipramana, M.Kes, SpOG, menilai meningkatnya kasus gangguan kesuburan tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat modern.
“Tekanan pekerjaan saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dulu. Tingkat stres juga meningkat, baik pada perempuan maupun laki-laki. Kondisi kesehatan secara umum sangat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan dr. M.Y. A Widyanugraha, SpOG, Subsp. FER. Menurutnya, membludaknya jumlah pendaftar menunjukkan bahwa masalah infertilitas masih menjadi fenomena gunung es di masyarakat.
“Kuota yang kami sediakan sekitar 170 peserta, tetapi pendaftarnya lebih dari 400 pasangan. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan fertilitas sebenarnya sangat besar,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa tidak semua pasangan harus menjalani program bayi tabung atau IVF. Penanganan kesuburan sangat bergantung pada penyebab yang ditemukan saat pemeriksaan.
“Program kehamilan tidak hanya IVF. Ada yang cukup dengan terapi alami, ada yang melalui inseminasi, dan ada yang memang membutuhkan IVF. Setiap metode memiliki indikasi dan syarat yang berbeda sehingga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan,” jelasnya.
Memberi Harapan Baru
Salah satu peserta Open House, Cynthia (29), mengaku mengikuti program tersebut setelah memperoleh informasi dari media sosial dan berharap mendapatkan jawaban atas penantiannya selama dua tahun pernikahan.
“Saya berpikir siapa tahu ini rezeki. Setelah diperiksa saya jadi tahu kondisi kesehatan saya seperti apa dan apa yang harus dilakukan selanjutnya berdasarkan hasil pemeriksaan tadi,” ujarnya.
Perempuan yang menikah pada 2024 itu mengaku mendapatkan banyak informasi baru mengenai kesehatan reproduksi dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk merencanakan kehamilan.
Melalui tema “Celebrate Hope with ASHA”, ASHA IVF berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda layanan kesehatan, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi dan dukungan bagi pasangan yang sedang berjuang memperoleh buah hati.
“Di momen ulang tahun Kota Surabaya, kami ingin merayakan bukan hanya pertumbuhan sebuah kota, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi keluarga-keluarga yang sedang menantikan kehadiran buah hati,” pungkas dr. Amang. Rid





































