BEDAH BUKU : Mantan Gubernur Jatim Soekarwo (kiri) bersama Rektor Uinsa Prof Masdar Hilmy dan para pembicara di acara bedah buku Tradisi dan Modernisasi Pendidikan Diniyah Pesantren di Jawa Timur karya Pakde Karwo,  Senin (18/3). DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co – Pendidikan pesantren tidak boleh dihilangkan. Bahkan harus terus dikembangkan di tengah perkembangan modernisasi dan digitalisasi seperti saat ini.

Mantan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengungkapkan hal itu saat bedah buku karyanya berjudul Tradisi dan Modernisasi Pendidikan Diniyah Pesantren di Jawa Timur di Uinsa, Senin (18/3).

Selama menjabat gubernur, Pakde Karwo panggilan akrab Soekarwo memang sangat konsern mengembangkan pendidikan pesantren khususnya diniyah.

“Jadi proses awalnya memang adanya pemikiran tentang bagaimana potensi besar pondok pesantren ini menjadi kebijakan pemerintah secara struktural mulai pusat hingga daerah. Karena  ini adalah potensi yang sangat besar,” ujar Pakde Karwo.

Untuk mengembangkan itu, diakui Pakde Karwo perlu dimotori berbagai pihak. Karena pendidikan pesantren dengan basis religi ini tidak saja harus ada tapi harus dikembangkan.

Karena pendidikan itu memiliki hubungan yang sangat kental antara sang guru yakni kiai dan muridnya atau santri.

“Ini bagian dari Aswaja dan Nahdlatul Ulama yang harus dipertahankan. Kalau ada perbaikan maka tidak boleh membongkar bangunan yang sudah ada, tapi harus diperbaiki merekonstruksi,” jelasnya.

Sehingga pada 2006 itu bersama UINSA (dulu IAIN) Pakde Karwo melakukan rapat besar bersama para putra kiai sepuh.

Langkah pertama untuk memajukan pendidikan pesantren itu adalah harus memintarkan gurunya. Karenanya pemprov saat itu mengirimkan para guru pesantren untuk kuliah S1 di beberapa kampus.

“Ada 13 ribu guru yang dikuliahkan dan yang lulus sampai saat ini sudah mencapai 9.575 guru. Ini yang perlu dilakukan, langkah nyata. Karena kalau gurunya pandai, muridnya pasti akan pandai,” jelasnya.

Dalam bedah buku itu, dihadiri pula Rektor Uinsa, Prof Masdar Hilmy serta banyak undangan lainnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.