MALANG | duta.co – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisma mengajak seluruh pengurus dan mahasiswa baru belajar bersama. Mereka mengadakan studi banding virtual ke Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jatim. Hal ini sebagai langkah mempersiapkan diri untuk menyambut era Fintech yang susah di depan mata.

Menurut Dekan FEB Unisma, Nur Diana SE MSi, bahwa era Fintech merupakan era penuh tantangan bagi dunia profesi akuntansi. Sehingga para generasi muda yaitu calon-calon akuntan sangat perlu untuk mempersiapkan diri menghadapi. Terutama dengan melihat dari perspektif tantangan dan peluang bagi profesi Akuntansi.

“Era Fintech ini membawa dampak profesi Akuntan semakin dibutuhkan,” ungkap Diana, Sabtu (2/10).

Dekan yang dikebal inovatif ini menambahkan, bahwa di satu sisi pekerjaan akuntan tradisional yang sifatnya berkaitan angka akan dengan mudah diotomasi. Di sisi yang lain maraknya kejahatan Cyber, Fraud yang semaki tinggi, juga kasus pembobolan data. Kondisi ini membutuhkan profesi Akuntan sebagai garda terdepan dalam menanggulanginya.

Dekan yang juga selalu antusias mendukung semua aktivitas positif mahasiswa tersebut mengharapkan, melalui studi banding tersebut mahasiswa akuntansi bisa mendapatkan banyak value dan inspirasi dalam mempersiapkan diri menjadi akuntan tangguh di masa depan.

Sementara itu Direktur Eksekutif IAI Wilayah Jatim Sigit Kurnianto mengapresiasi kegiatan studi banding virtual yang ingin mengetahui lebih dalam tentang peran IAI dalam mendukung terciptanya Akuntan tangguh. IAI merupakan organisasi profesi yang menjembatani pengembangan karir Akuntan. Menurutnya IAI bertanggung jawab menyelenggarakan ujian sertifikasi akuntan profesional (ujian Chartered Accoountant-CA Indonesia), guna menjaga kompetensi melalui penyelenggaraan pendidikan profesional berkelanjutan.

Lebih lanjut Sigit memaparkan bahwa Akuntan tidak bisa menghindar dari tantangan di Era Fintech. Dengan segala kemajuan teknologi informasi, profesi Akuntan justru harus bisa menghadapinya sebagai tantangan yang harus dihadapi. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pekerjaan di dunia akuntansi yang bersifat repetitive dan klerikal bisa digantikan oleh teknologi robotic dan teknologi informasi.

Namun, akuntan juga bisa menggunakan teknologi informasi tersebut sebagai cara untuk meningkatan kinerja akuntan. Asimetri informasi akan semakin minim karena semua pihak bisa memiliki akses informasi yang sama besar, sehingga terjadi mekanisme pengendalian internal yang optimal.

Kegiatan studi banding virtual sangat menarik dengan antusiasme peserta yang rata-rata mahasiswa semester awal ingin mengetahui lebih detil tentang profesi mendatang yang akan dijalaninya.

Acara ditutup dengan pemberian kuis kepada 300 peserta studi banding, yang disambut antusiasme tinggi. Rangkaian kegiatan studi banding diakhiri dengan pembagian hadiah kepada 3 pemenang kuis oleh panitia. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry