Dekan FEB Unisma, Nur Diana SE MSi (kanan) dan kedua narasumber dalam acara INTEREST 2021, HMJ Manajemen Buka dengan Webinar Hybrid Daya Saing UKM Berorientasi Ekspor.

MALANG | duta.co – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar webinar hybrid, dengan tajuk “Daya Saing UMKM Berorientasi Ekspor dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional”. Diselenggarakan Himaprodi Manajemen, International Event Student Creative Business Competition (INTEREST). Dengan narasumber Ketua KADIN Jatim serta koordinator Export Center Surabaya Kemendag RI & Tenaga Teknis Bidang Standarisasi Produk.

Menurut Nur Diana SEMSi, selaku Dekan FEB Unisma bahwa salah satu visi dan misi fakultas ini adalah mencetak lulusan berjiwa enterpreuner. Lulusan tersebut harus memiliki daya saing yang menggandeng dunia industri, dunia kerja, asosiasi profesi, perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Maka fakultas ini melakukan berbagai terobosan guna menciptakan lulusan yang berjiwa entrepereneur yang dapat mengembangkan UMKM.

“Survei yang dilakukan oleh Asian Development Bank 2020, terdapat 48,6% yang tutup sementara bahkan permintaan domestik UMKM menurun 30,5%, dan 41% melakukan pembatalan kontrak, bahkan hambatan lain UMKM yang masih membutuhkan suntikan modal,” sebutnya.

Di sisi lain upaya pemerintah membangkitkan UKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah menyerap anggaran untuk Dukungan UMKM sebesar Rp112,44 triliun atau 96,7% dari pagu sebesar Rp123,47 triliun. Dari segi regulasi, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Indonesia sebagai aturan pelaksanaan UU Cipta Kerja.

“Faktanya kontribusi UMKM terhadap ekspor hanya sebesar 14,37%, lebih rendah dibandingkan negara lainnya di Asia. Produk daya saing Indonesia masih bisa menjadi ujung tombak mendukung perekonomian Indonesia. Tentunya di sini membutuhkan asupan-asupan dari entrepreneur yang mungkin bisa dihasilkan dari lulusan-lulusan perguruan tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Adik Dwi Putranto selaku Ketua KADIN Jatim mengakui, pihaknya secara umum mempunyai program untuk meningkatkan SDM. Pasalnya semua sektor sangat tergantung dengan sumber daya manusia. Diantara program-programnya adalah pendampingan UMKM, mendirikan Rumah Kurasi serta menciptakan wirausaha-wirausaha baru. Dimana wiarausaha di Indonesia masih hanya 3%.

Ia juga memaparkan, UMKM sangat penting di Indonesia dan menjadi konsentrasi KADIN, lantaran mampu menyerap tenaga kerja hingga 90%.

Sementara itu, Narasumber Ardi Prasetiawan selaku Koordinator Export Center Surabaya Kemendag RI & Tenaga Teknis Bidang Standarisasi Produk. Ia menyebutkan bahwa hal yang paling penting dalam ekspor adalah standarisasi mutu produk UKM yang berdaya saing. Jika tidak, maka tidak bisa ekspor atau kalah dengan negara-negara lain. Persaingan kita tidak hanya di internal Indonesia saja, tapi juga negara-negara lain.

Ardi, menyampaikan pula bahwa kementrian perdagangan sudah mempunyai aplikasi yang memberi kemudahan pelaku ekspor untuk mengetahui standar teknis negara tujuan yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Selain itu perwakilan dagang yang ditempatkan di 45 negara di dunia bisa market brief dan market intelligence yang memberikan masukan terhadap produk yang dihasilkan. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry