Endang Sulistiyani, MKom – Dosen Program Studi S1 Sistem Informasi Fakultas Teknik

Aktivitas manusia di berbagai sektor kehidupan dipaksa berubah di era pandemi seperti sekarang ini. Pendidikan menjadi salah satu sektor yang tidak luput dari perubahan itu. Melalui Gerakan Belajar dari Rumah, pembelajaran bergeser dari tatap muka menjadi sistem belajar jarak jauh secara daring.

Tidak perduli terbiasa atau tidak, siap atau tidak, semua jenjang pendidikan tanpa terkecuali harus melaksanakannya. Hal ini adalah sebuah keharusan agar kegiatan pendidikan tetap terselenggara di masa COVID-19. Adakah hikmah dibalik ini semua?

Kecenderungan Model Belajar dari Rumah dalam Masa COVID-19

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia sudah menerapkan Belajar dari Rumah untuk semua jenjang pendidikan. Telepon pintar menjadi salah satu senjata andalan dalam mengeksekusi semua perubahan yang terjadi.

Informasi tentang jadwal, materi, tugas, atau aktivitas komunikasi lain dilakukan oleh pendidik menggunakan telepon pintar. Begitu juga dengan peserta didik. Layaknya buku pembelajaran dan guru yang apabila dalam pembelajaran tatap muka digunakan sebagai referensi, telepon pintar hadir sebagai pengganti keduanya.

Kemampuan Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Bertambah

Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Begitu biasanya salah satu cara efektif untuk bersyukur. Tidak terkecuali untuk COVID 19 yang saat ini sedang menjadi tamu di Indonesia. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. Harun Joko, M.Hum. Sebagai salah satu pengamat pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, beliau menilai bahwa pembelajaran daring membawa dampak postif yakni meningkatnya literasi digital.

Para pendidik didorong utuk berinovasi dalam menyiapkan cara belajar yang efektif berbasis teknologi digital. Contoh sederhananya adalah pemanfaatan grup Whatsapp untuk media berkomunikasi. Jika sebelumnya pada pendidik, terlebih yang usianya sudah tidak muda hanya menggunakan telepon pintarnya untuk telepon, maka sekarang diharuskan untuk mengeksplor fitur yang ada. Seperti menambahkan anggota baru dalam grup, melampirkan berkas, dan juga yang lainnya. Ini contoh sederhana keterpaksaan yang dihadirkan oleh COVID-19 membawa hikmah melek teknologi bagi pendidik.

Sistem belajar dari rumah juga mendorong para orang tua untuk terlibat secara aktif. Terlebih untuk mereka yang memiliki putra putri yang masih berada pada bangku sekolah dasar. Meskipun tidak jarang justru orang tua lah yang mengeksekusi tugas yang diberikan untuk anaknya, namun dengan konsep belajar di rumah orang tua dipaksa untuk terlibat dalam memastikan diperolehnya mateeri pelajaran secara efektif. Pengumpulan tugas misalnya, orang tua dipaksa untuk belajar menggunakan fitur merekam video untuk mendokumentasikan aktivitas belajar putra-putrinya dari rumah. Tidak hanya itu, demi memastikan tidak adanya informasi yang tertinggal, orang tua juga diharapkan aktif untuk memeriksa informasi yang disampaikan oleh pendidik melalui grup Whatsapp.

Bagaimana dengan kemampuan digital peserta didik? Ya, sebelum adanya COVID-19, jangan ditanya soal mengoperasikan telepon pintar. Para peserta didik sudah jauh di atas kemampuan pada pendidik atau pun orang tua kalau terkait penggunaan telepon pintar. Pada masa belajar dari rumah, peserta didik diharapkan memaksimalkan kemampuan digital yang dimiliki sebelumnya. Sebagain besar, telepon pintar sebagai salah satu media digital yang dimiliki dimanfaatkan untuk mencari jawaban dari tugas yang diberikan oleh pendidik. Meskipun tidak banyak, tetapi beberapa siswa menggunakan telepon pintar untuk memproduksi karya seperti video tentang cara mencuci tangan yang benar atau materi pembelajaran tertentu. Artinya adalah meskipun belum maksimal, peningkatan itu ada sebagai salah satu hikmah yang patut untuk disyukuri.

Literasi Digital yang Lengkap

Berdasarkan hasil riset Mitchell Kapoor diketahui bahwa keahlian untuk akses media digital yang dimiliki oleh generasi muda belum diimbangi dengan kemampuan menggunakan untuk kepentingan memperoleh informasi pengembangan diri. Oleh karenanya, literasi digital yang tumbuh dari pembelajaran daring tidak boleh hanya berhenti pada kemampuan teknis saja.

Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era sebelumnya, yakni Muhadjir Effendy bahwa fokus gerakan literasi digital tidak sekadar penguasaan teknologi oleh masyarakat, namun lebih pada etika penggunaannya. Artinya pendidik, peserta didik, dan juga orang tua diharapkan membekali kemampuan teknis menggunakan media digital seperti telepon pintar dengan etika dan tata krama yang sehat dan bijak. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry