
Oleh Bey Arifin*
TAHUN Baru Hijriyah selalu menghadirkan ruang refleksi bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah, menata kembali orientasi hidup, serta memperkuat komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.
Dalam konteks organisasi, spirit hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain, tetapi juga sebagai proses evaluasi, pembaruan, dan transformasi menuju kualitas yang lebih baik. Momentum ini menjadi relevan untuk membaca kembali arah perjalanan Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35.
Sejak didirikan oleh Hadrotussyeh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama hadir sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang mengemban misi menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus mengawal kehidupan kebangsaan. Dalam perjalanan satu abad, NU telah memberikan kontribusi besar dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, kebudayaan, hingga perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Jejak sejarah tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan abad kedua NU.
Namun, sebagaimana setiap organisasi besar, NU juga menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal yang semakin kompleks. Perubahan sosial yang cepat, perkembangan teknologi digital, polarisasi politik, pergeseran otoritas keagamaan, serta dinamika global menuntut adanya kemampuan adaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Di sinilah makna hijrah organisasi menjadi penting: bagaimana NU mampu melakukan pembaruan tanpa tercerabut dari akar tradisi dan manhaj yang diwariskan para muassis.
Menjelang Muktamar ke-35, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bukan sekadar siapa yang akan memimpin NU ke depan, melainkan ke mana arah perjalanan organisasi akan dibawa. Muktamar seharusnya menjadi forum strategis untuk merumuskan visi besar NU dalam menghadapi tantangan abad kedua, bukan sekadar arena kompetisi politik organisasi.Kepemimpinan penting, tetapi yang lebih penting adalah arah, gagasan, dan agenda transformasi yang akan dijalankan.
Dalam perspektif hijrah organisasi, terdapat beberapa agenda strategis yang layak menjadi perhatian.
Pertama, penguatan kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan. NU membutuhkan kader-kader yang tidak hanya memahami tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan, literasi digital, kemampuan manajerial, dan wawasan global.
Kedua, penguatan ekosistem pendidikan dan literasi. Pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi NU harus menjadi pusat lahirnya generasi yang unggul secara intelektual, kokoh secara moral, serta mampu menjawab kebutuhan zaman.
Tradisi keilmuan yang menjadi kekuatan utama NU harus terus diperkuat melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.
Ketiga, pemberdayaan ekonomi warga. Kemandirian organisasi dan kesejahteraan jam’iyah tidak dapat dilepaskan dari penguatan ekonomi umat. Potensi besar warga NU perlu dikelola melalui model pemberdayaan yang terukur, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Keempat, penguatan dakwah digital dan peradaban. Di era media sosial, pertarungan gagasan berlangsung sangat cepat dan terbuka. NU dituntut untuk lebih aktif menghadirkan narasi Islam rahmatan lil alamin, moderat, toleran, dan berkeadaban dalam ruang digital yang sering kali dipenuhi polarisasi dan disinformasi.
Kelima, menjaga independensi dan marwah organisasi. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjadi penengah, pengayom umat, dan penjaga persatuan bangsa. Kedekatan dengan berbagai pihak perlu tetap berada dalam koridor kemaslahatan, tanpa mengorbankan independensi organisasi dan khittah perjuangannya.
Spirit hijrah mengajarkan bahwa perubahan harus berorientasi pada perbaikan dan kemaslahatan. Karena itu, menjelang Muktamar ke-35, NU perlu menjadikan momentum ini sebagai ruang muhasabah kolektif untuk menilai capaian, mengidentifikasi kekurangan, dan menyusun langkah strategis ke depan.
Dengan demikian, hijrah organisasi bukanlah meninggalkan warisan masa lalu, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur para pendiri dalam konteks tantangan zaman yang terus berubah.
Jika spirit hijrah mampu diterjemahkan menjadi penguatan kaderisasi, pendidikan, ekonomi, dakwah, dan tata kelola organisasi, maka Muktamar ke-35 akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan NU menuju abad kedua yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya guna bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.





































