Sano yang kesehariannya hanya bekerja serabutan dan menempati rumah gedek alias bambu. (FT/DUTA.CO/ABDULAZIZ)

PASURUAN | duta.co – Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan tampak getol mengentas kemiskinan, namun, ternyata masih ada warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan tak pernah tersentuh bantuan.

Inilah kisah pasangan suami istri (pasutri) yang selama puluhan tahun hanya menempati gubuk reot berukuran 3 x 5 meter, terbuat dari gedek alias bambu. Kondisi yang serba kekurangan itu, diterimanya dengan lapang dada.

Kendati masuk keluarga kategori amat miskin, namun bagi pasutri Sano (50) dan Sutama (46), warga Desa Wotgalih, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, yang tinggal berdua ini, selama hidupnya tak pernah berharap ada bantuan dari pemerintah. Menempati gubuk yang hampir sama dengan ‘kandang sapi’ ini, ia masih bersyukur lantaran masih diberikan kesehatan.

Meski miskin, Sano tak pernah minta bantuan pada orang lain, tiap harinya untuk menopang kehidupan sehari-hari, pasutri ini hanya mengandalkan pekerjaan seadanya. Sang istri membuka warung nasi rujak dan selama puluhan tahun hidup harmonis. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Satini, yang sudah menikah. Sano yang menderita linu di tangan dan istrinya di bagian kaki, tak pernah mengeluh.

Gubuk beralaskan tikar dengan tempat tidur terbuat dari bambu yang jadi satu berada di ruang tamu ini, menjadi pemandangan yang membuat setiap orang terenyuh. Bahkan satu ruangan oleh Sano dan istrinya dibuat tempat untuk sholat, sekaligus sebagai tempat tidur. “Yang penting kami selalu bersyukur atas karunia dari Allah, Yang Maha Kuasa,” ucap Sano, saat ditemui di gubuknya, Rabu (15/11/2017).

Rumah yang tak layak huni ini, hanya berlantai tanah. Di sudut rumah terdapat tumpukan kayu bakar untuk keperluan memasak. Bahkan di belakang rumahnya, terdapat tempat untuk pembuangan sampah. Tak hanya itu, bila terjadi hujan, bocor menjadi pemandangan dan mereka tak pernah terkejut lagi atas kondisi seperti itu. Namun mereka selalu bersyukur atas nasib yang harus mereka terima selama ini.

Semangat Sano tak pernah patah. Saat itu ada tetanggnya yang menggunakan jasanya untuk menebang pohon bambu, meski hanya diupah Rp 25 ribu/hari, ia terima dengan suka cita. Bahkan penghasilannya tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, untung masih bisa ditopang istrinya dari penghasilan membuka warung rujak, sehingga sangat membantu kehidupan mereka, meski harus bersusah payah.

Pasutri ini tak menyerah, karena kehidupan juga tak luput dari hambatan. “Kami selalu berusaha apa saja yang penting kami bisa menyambung hidup, meski sehari hanya dapat 25 ribu rupiah. Beruntung rumah kami belum pernah dimasuki binatang, walaupun penuh dengan lubang. Jujur saja kami tidak punya biaya untuk memperbaiki rumah,” tutur Sano.

Meski tergolong keluarga sangat miskin, sayang ia luput dalam pendataan pihak terkait. Kayaknya pemerintah setempat ‘tutup mata’. “Suami istri ini, selama puluhan tahun hidup serba kekurangan. Namun mereka selalu berusaha dan hanya pasrah. Kasihan mereka, kalau tidur dan hujan pasti bocor. Selama ini tidak pernah didata dan tidak pernah mendapatkan bantuan dari siapapun termasuk pemerintah, “tandas Mistu, tetangga dekat Sano. (dul)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan