Gus A'am Wahib ketika sowan ke Mbah Maemoen Zubair. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – H Agus Solachul A’am Wahib, cucu pendiri NU ini mengaku sedih menyaksikan santri mudah dibakar untuk kepentingan politik. Padahal, Pilpres 2019 itu merupakan ajang demokrasi untuk memilih pemimpin yang mengerti masalah rakyat. Bukan caci-maki, apalagi provokasi.

 “Kalau benar santri, tidak akan berani mempolitisasi kiai. Tidak akan berani suul-adab, apa pun alasannya, termasuk kepentingan Pilpres. Karenanya, hentikan seluruh polemik doa yang disampaikan begitu ikhlas oleh Mbah Moen (KH Maemoun Zubair). Jangan diperuncing dan diperlebar, cukup!” demikian disampaikan Gus A’am Wahib panggilan akrab H Agus Solachul A’am Wahib, kepada duta.co, Kamis (7/2/2019).

Gus A’am Wahib adalah keponakan Mbah Moen dari almarhumah Nyai Hj Fahima bin KH Baidlowi. Ayahnya almaghfurlah KH Wahib Wahab (Putra KH Wahab Chasbullah) notabene Menteri Agama RI ke-8 adalah kawan dekat Mbah Moen.

“Saya sedih membaca orang yang mengaku santri tetapi mudah terprovokasi, maka, hentikan seluruh polemik itu. Jangan ada ancaman-ancaman seperti ditujukan kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Santri jangan mau diprovokasi, jangan mau jadi jangkrik, lalu diadu domba orang lain. Pilpres bukan ajang berkelahi, Pilpres adalah sarana mencari pemimpin yang amanah,” demikian Gus A’am Wahib.

Seperti diberitakan, Wakil Ketua DPR Fadli Zon disarankan untuk segera meminta maaf menyusul munculnya puisi ‘Doa yang Tertukar’ yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Puisi tersebut diterjemahkan mengarah kepada Kiai NU Maemoen Zubair yang sebelumnya salah sebut nama saat mendoakan Presiden Joko Widodo. Padahal, sangat tidak mungkin seorang Fadli Zon berani membicarakan, apalagi mengkritik Mbah Moen.

Juru Bicara Solidaritas Ulama Muda Jokowi (SAMAWI), Nizar Ahmad Saputra dalam pernyataannya yang diterima Tribunnews, Rabu (6/2/2019) mendesak Fadli Zon meminta maaf secara terbuka kepada Mbah Moen.

“Kalau tidak kami akan menggerakkan santri dari seluruh Indonesia untuk mengepung gedung DPR dan menuntut Fadli Zon meminta maaf,” ujar Juru Bicara Solidaritas Ulama Muda Jokowi (SAMAWI), Nizar Ahmad Saputra dalam pernyataannya yang diterima Tribunnews, Rabu (6/2/2019).

Menurut Gus A’am Wahib ancaman seperti itu, berbahaya. Bisa membuat orang salah tafsir. Padahal, jelas puisi Fadli Zon ditujukan kepada mereka yang berani-beraninya mengklarifikasi (dengan bahasa lugas ‘begal’) doa tulus Mbah Moen.

“Jadi, santri jangan mudah terprovokasi. Mulai sekarang hentikan semua itu, ini kalau kita benar-benar santri dan cinta pada kiai. Biarlah Pilpres menjadi arena adu gagasan keummatan, kerakyatan. Siapa yang peduli kepada rakyat, itulah yang akan dipilih. Tidak usah terprovokasi dan memprovokasi,” tutupnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.