“Kehadiran Ramadhan ini merupakan buah dari kanalisasi Illahiyah agar manusia selalu bersyukur dan bersabar.”
Oleh:  Suparto Wijoyo*

KERIUHAN geopolitik global sudah sangat membisingkan jiwa dan nurani kemanusiaan. Ada negara yang merasa beradidaya, adigang digung adiguna. Negara yang pemer kecongkakan untuk tidak mengatakan kesombongannya. Pemimpinnya tampil laksana penentu nasib semua bangsa-bangsa. Kegagahannya ditampilkan dengan memobilisir kapal-kapal yang berbilang induk. Lautan dijelajahi untuk sampai pada titik dimana negara yang sudah sekian puluh tahun diblokade untuk dibombardir. Sebuah cermin keberanian yang tidak patriotik, melainkan licik. Keberaniannya hanya memainkan hati dari sebuah bangsa tua yang terus-menerus diisolasi olehnya, ketuaan yang memuncaki peradaban pertahanan diri Persia. Dunia Barat mempertontonkan dirinya juga larut dalam keprkasaan di sela-sela negara-negara lain tiada berdaya dan areal Timur Tengah dijadikan panggung pamer kemoderenan persenjataan. Kepongahan itu dilukis penuh ambisi agar tiada negara di dunia ini yang boleh memiliki kelembihan yang berada di atas supremasinya.

Pemimpin dari negara yang berbilang “polisi dunia” itu terlihat temperamental dan acap kali membual. Pidatonya di hadapan parlemen negara tidak digubris secara total oleh warganya. Usai pidato kenegaraan terdapat jejak pendapat bahwa hanya 27% publik negara tersebut membangun optimisme pada pemimpinnya. Ancaman ditebarkan ke negara-negara yang mencoba menerapkan kapasitas ilmunya tentang tenaga nuklir. Tenaga nuklir untuk perdamaian. Sementara dirinya sendiri sesungguhnya sudah memproduksi bom nuklir. Adapun negara-negara kecil ini sebatas pengayaan. Itupun mengalami hambatan yang sedemikian keras dari negaranya, Paman Sam. Ini semua terus menggelembungkan harapan pemimpin yang bertindak seolah menjadi panglima besar dunia. Kini anak-anak yang tidak terjamin masa depannya di Palestina, terus saja dikoyak kehayatan hidupnya. Justru oleh negara yang teratributi “anak emansnya” Sang Paman Sam. Palestina adalah suara jiwa yang lirih atas derita yang dilalui berdasawarsa-berdasawarsa tiada henti. Israel menggempur tanpa ampun dan inilah bangsa yang mengalami krisis kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Israel menjadi negara yang tidak ada adab, tidak ada rasa kemanusiaan, tidak ada bentuk-bentuk peradaban yang mengajarkan sikap tahu diri, dan pelanggar hukum internasional terbesar.

Belum lagi mengenai hiruk-pikuk berbagai masalah tersebut, juga timbul masalah dalam negeri yang membuncah berderet-deret. Banjir, tanah longsor, rumah roboh, dan jalanan ambrol. Juga ada polisi yang menganiaya siswa atau aparatur yang salah tangkap, lembaga peradilan yang menafikan keadilan, dan berbagai berita kejahatan terus terwartakan, justru terjadi di negara yang berbilang negara hukum sebagaimana digariskan oleh Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Negara hukum yang semestinya memberikan perlindungan hukum bagi warganya dinilai belum hadir sepenuhnya. Inilah menjadi areal perjuangan untuk menghadirkan keadilan bagi semuanya. Tidak boleh ada warga yang kelaparan, tidak boleh ada anak menangis karena kekurangan pangan atau kepingin makanan yang ternyata tidak terjangkau harganya.

Dalam suasana demikian, maka kehadiran Ramadhan ini merupakan buah dari kanalisasi Illahiyah agar manusia selalu bersyukur dan bersabar. Jalan yang memang disediakan oleh agama. Rakyat Indonesia bergerak mensyukuri ramadhan ini sebagai bulan yang memang penuh rahmat. Anak-anak di kampung-kampung halaman dan di kawasan lembaga pendidikan tinggi tampak meriah memuliakan Ramadhan. Mahasiswa yang lagi belajar di bangku-bangku kuliah, kian kreatif dengan belajar menjadi pengusaha, meski kecil-kecilan. Lapak-lapak dibuka di dekat jalan raya yang menjadi lalu lintas jantung kota. Jualan untuk iftar dipajang warna warni aneka hidangan berbuka. Kini sangat muda, setiap kebutuhan pangan selalu ada saja yang jualan, bahkan statusnya mahasiswa. Belajar cari uang untuk tambahan hari lebaran. Begitu yang saya dengar langsung dari mereka yang aktif membuka kios pertokoan selama Ramadhan ini.

Saya menyaksikan bahwa gerakan anak-anak karang taruna, ataupun remaja masjid, sosok-sosok muda, statusnya sebagai mahasiswa ini teramati sangat khusuk bekerja. Tukang-tukang bangunan juga demikian semangat bekerja memenuhkan rizki untuk ditebarkan bagi kemaslahatan keluarga mereka. Kuli-kuli bangunan dan pedagang sayur keliling juga ramai menjajakan barang dagangannya. Ada harapan yang dipahat bahwa lebaran nanti akan berkecukupan buat keluarga mereka. Tukang las, pedagang asongan, jual bakso dipikul keliling kampung juga tiada lelah. Mereka bilang dengan suara lirih atas setiap lelehan keringatnya adalah tabungan kebahagiaan bagi anak istrinya. Subhanallah. Saya melihat bahwa kesungguhan mereka adalah kesejatian perjalanan yang tetap hening di tengah keramain. Hening karena fokus pada tujuan ikhtiar hidupnya yang dikembalikan bagi kemuliaan jalan pengabdian dirinya buat keluarganya. Barokallah.

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III  Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry