Agus Wahyudi, SSos, MPd – Dosen PGSD, FKIP

Hedonisme Etis sebagai Jalan Bijak

Michel Onfray dalam pemikirannya mengenai hedonisme (yang tak lain dipengaruhi oleh Epicurus), menyatakan “as an introspective attitude to life based on taking pleasure yourself and pleasuring others, without harming yourself or anyone else.”

Di situ Onfray menjelaskan bahwa hedonisme etis ialah sikap introspektif untuk hidup berdasarkan kesenangan diri sendiri dan kesenangan orang lain, tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain.

Segala bentuk kebahagian haruslah juga bersifat pengamatan diri (koreksi diri) berdasarkan pikiran dan perasaan diri, boleh berdasarkan kesenangan atau kebahagian diri maupun lainnya, akan tetapi tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Hedonisme etis yang berakar dari hedonisme Epicuros menganalogikan definisinya dengan pemisahan 1 orang (individu) dengan banyak orang lainnya pada ruang lingkupnya masing-masing, seperti yang tergambar pada skema “The Epicurean Garden”.

Sebagaimana Michael Onfray menuliskan “Hedonist Intersubjectivity”, “The brain is an instrument, a means, but never an end in itself. If neuronal training proceeds according to the potentialities of the nervous system, it has to have an aim.

What does one train? Why? According to what criteria? Education has to have a plan. Without a clearly defined objective, ethics is useless. What rules of the game are worth the trouble of following? What makes the game appealing?”

“The answer: a peaceful, joyous, happy intersubjectivity; a peace of mind and spirit; a tranquility in existing; easy relationships with others; comfortable interactions between men and women; artificializing relations and submitting them to the best elements of culture, such as refinement, politeness, courtesy, good faith, and keeping ones word; and consistency between words and actions. In other words, ending war, overcoming the logics of dominance and servitude, refusing to fight for the sake of the real domination or the symbolic domination of territories, and eradicating everything that remains animal in us “.

Onfray menjelaskan relasi otak (brain), sistem neuron, konten, serta tujuan (aim). Menurutnya sistem neuron akan bekerja jika ada konten (jika tidak ada konten maka akan tidak bekerja), dan otak adalah alat (sarana) agar konten itu “bekerja” atau mencapai sebuah tujuan.

Jika sistem neuron ada kesesuaian dengan potensi sistem saraf, maka haruslah mempunyai suatu tujuan yang jelas. Tanpa tujuan yang jelas, maka etika akan tidak ada gunanya (useless).

Mengapa tujuan (aim) harus jelas? Tujuan (aim) yang dimaksud adalah sebagai hasil atau sikap akan hedone itu sendiri (dipengaruhi konten). Adanya kesesuaian antara neuron (yang berkerja karena adanya konten) dengan sistem-sistem saraf pastilah memiliki tujuan.

Dalam proses tujuan (aim) itu tercapai dengan jelas (dalam konteks ini kebahagiaan), maka harus ada pertimbangan-pertimbangan yang mencakup nilai moral dan etis. Jika tujuan kebahagiaan tidak mempertimbangkan hal-hal seperti itu, dikhawatirkan terjadinya hedone non-etis yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di sisi lain, Onfray juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu menarik jika ada kebahagiaan, kegembiraan, ketenangan jiwa dan pemikiran, serta “easy relationship” antara laki-laki dan wanita.

Dari kemenarikkan itulah kita harus mengirimkan unsur-unsur seperti perbaikan diri, kesopanan, sopan santun, itikad baik, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan yang dapat berguna dalam mengakhiri perselisihan serta mengatasi pemikiran dominasi dan perbudakan sekaligus mengatasi sikap hewani manusia.

Kemenarikkan yang dimaksud diterjemahkan seperti sikap kepuasan atas terjadinya kebahagiaan. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “menarik” juga diidentikkan dengan menggirangkan, menyenangkan, menyukakan hati karena indahnya, dan sebagainya.

Berarti dalam konteks kebahagiaan, kata menarik/kemenarikkan timbul ketika tercapainya konten kebahagiaan. Dari kemenarikkan itulah diharapkan terjadinya sikap positif terhadap diri.

Secara keseluruhan, hedonisme etis menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang menurut kita bahagia haruslah “mengirimkan” unsur-unsur yang bersifat baik, konstruktif, introspeksif terhadap diri dan khususnya mencakup nilai-nilai kebijaksanaan (wisdom).

Hedonisme dapat didefinisikan secara positif sebagai pencarian untuk kebahagiaan, tetapi jika didefinisikan secara negatif dapat dikatakan hedonisme juga sebagai sikap menghindari ketidakbahagiaan.5 Karena adanya ketidakbahagiaan inilah, individu dapat mencari suatu kebahagiaan untuk menjaga stabilitas mental dan psikis, agar tercapainya ketenangan jiwa.

Hedonisme etis merupakan sebuah jalan pemikiran dalam mencapai kebahagiaan di tengah penderitaan dunia modern. Mempertimbangkan segala hal termasuk moral dan etis untuk mencapai hedone jangka panjang adalah esensi dari hedonisme etis.

Tentunya kebahagiaan itu tidak sesaat saja, tapi menyelimuti seluruh kehidupan diri. Suatu kebahagiaan atau kesenangan dalam hedonisme etis, haruslah jelas tujuan kebahagiaannya. Tidak hanya terpaku pada tujuan kebahagiaan, tetapi juga mempertimbangkan apakah kebahagiaan itu sudah mengandung itikad baik untuk individu dan orang lain, dan untuk sekarang dan nanti?. Wallahualam Bisshawab.*

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry