
Dalam derasnya arus perubahan sosial dan ekonomi Indonesia, sebuah istilah lawas kembali relevan: Hedonic Treadmill. Awalnya dipopulerkan oleh Brickman dan Campbell (1971), konsep ini mengacu pada kemampuan psikologis untuk mempertahankan level kebahagiaan yang stabil, terlepas dari fluktuasi kondisi eksternal, layaknya seorang pelari yang menjaga ritme di atas treadmill yang kecepatannya bertambah. Sebuah konotasi positif: stabilitas emosional.
Namun, dalam bahasa kritik sosial, Hedonic Treadmill menjelma menjadi sindrom yang menohok: ketidakpuasan abadi. Ia menggambarkan fenomena di mana setiap peningkatan kekayaan atau pendapatan segera diimbangi oleh peningkatan hasrat dan standar konsumsi. Gaji naik, kebutuhan ikut naik. Posisi finansial terasa stagnan, seolah berlari kencang di atas treadmill hanya untuk tetap berada di tempat.
Fenomena Hedonic Treadmill ini menemukan contoh kontekstual yang menarik dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan adanya kebijakan pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bagi sebagian besar guru yang telah lama berjuang dengan upah minim, lonjakan gaji yang signifikan, bahkan bisa berlipat ganda, adalah sebuah anugerah yang tak terkira.
Namun, peningkatan materi yang drastis ini seringkali disusul dengan apa yang disebut “Culture Shock” finansial. Tiba-tiba, standar hidup berubah. Dulu yang puas dengan motor lama, kini merasa “perlu” ganti mobil untuk menunjang status baru. Dulu yang membawa bekal, kini terbiasa nongkrong di kafe berkelas sepulang kerja—meniru tren pekerja kantoran elit yang menunggu macet.
Peningkatan gaji yang seharusnya menjadi modal untuk menabung, investasi, atau peningkatan kualitas hidup jangka panjang, justru tersedot habis oleh ekspansi gaya hidup. Kenaikan X juta pada gaji direspons dengan kenaikan X juta pada pengeluaran. Mereka menjadi stabil, bukan dalam arti positif (kebahagiaan yang mapan), melainkan stabil dalam arti negatif: stabil dalam kondisi selalu merasa kurang dan tidak pernah bisa menabung. Mereka seolah tersedot ke dalam putaran treadmill yang semakin cepat, membeli gawai terbaru, cicilan properti yang lebih besar, atau bahkan barang-barang konsumsi yang dipajang di pusat perbelanjaan mentereng, seperti yang disaksikan oleh banyak orang Indonesia di luar negeri.
Jika dulu konsumerisme digerakkan oleh televisi dan mal, kini ia digerakkan oleh algoritma media sosial. Hedonic Treadmill kontemporer didorong oleh laju digitalisasi. Setiap hari, kita dibombardir oleh influencer dan selebritas yang memamerkan gaya hidup serba ada. Peralatan: Ponsel harus yang terbaru, laptop harus gaming, dan setiap tren estetik rumah harus diikuti, didorong oleh iklan yang tak kenhenti. Experience Economy: Dorongan untuk membeli “pengalaman” (liburan mewah, staycation mahal, kuliner fancy) semakin kencang, terutama untuk dipamerkan (flexing) secara daring. Kebahagiaan menjadi komoditas visual.
Kondisi ini membuat jebakan treadmill semakin licin. Target kebahagiaan—atau lebih tepatnya, target pemenuhan hasrat—terus bergerak menjauh. Kita membeli untuk merasa bahagia, namun kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat sebelum hasrat baru yang lebih besar muncul, didorong oleh perbandingan sosial digital (social comparison).
Di tengah godaan konsumerisme yang tak bertepi semacam itu, kearifan lokal, khususnya dalam perspektif keislaman, menawarkan sebuah rem yang kuat: Qana’ah (قناعة).
Qana’ah adalah prinsip merasa cukup, menerima dengan lapang dada rezeki yang telah Allah berikan, dan membelanjakannya dengan bijak sesuai kebutuhan, bukan hasrat. Ini bukanlah ajaran untuk bermalas-malasan atau menolak rezeki melimpah, melainkan sebuah manajemen hati dan pikiran. Ia mengajarkan bahwa sumber kebahagiaan sejati tidak terletak pada akumulasi harta (seperti tas-tas mewah atau mobil terbaru), tetapi pada ketenangan batin dan syukur.
Dalam pandangan Islam, kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan hati. Nabi kita, Muhammad ﷺ pernah mengingatkan “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Filosofi ini secara langsung menjadi antitesis dari sindrom Hedonic Treadmill. Orang yang menerapkan qana’ah mampu memutus rantai “gaji naik, kebutuhan naik” karena ia telah memiliki standar kepuasan internal. Gaji yang melonjak tidak berarti harus dihabiskan untuk konsumsi yang bersifat hedonis, melainkan dapat dialokasikan untuk sedekah (filantropi), investasi masa depan, atau yang utama membantu sesama.
Hal ini sejalan dengan spirit filantropi global (Bill Gates, Warren Buffett) dan terutama tradisi para pendiri bangsa yang berjiwa altruis mencari kebahagiaan dan makna hidup dari menolong orang lain. Kekayaan sejati adalah kekayaan yang bermanfaat, bukan yang habis dalam putaran konsumsi.
Bagi kawan-kawan, para guru PPPK, yang mengalami lonjakan rezeki, atau kita semua yang hidup di pusaran konsumerisme digital, refleksi ini penting: Kecepatan lari di atas treadmill tidak akan membuat kita maju jika kita tidak menentukan titik akhir.
Kebahagiaan bukan sebuah target yang terus bergeser seiring kenaikan gaji. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan untuk merasa cukup di saat ini, sebuah keputusan untuk turun dari treadmill sesekali, menghargai apa yang sudah ada, dan mengalokasikan kelebihan rezeki untuk memberi, bukan hanya membeli. Hanya dengan qana’ah, kita bisa mengubah gaji yang melonjak dari jebakan treadmill menjadi landasan kuat menuju kebahagiaan yang stabil dan bermakna.
Penulis: Muhammad Ainur Rifqi, Wakil Sekretaris PCNU & Dosen Ma’had Aly Darul Ulum






































