Ada delapan kebiasaan buruk yang mesti dicermati para wanita. Jika tidak ia akan menggiringnya ke neraka. Artikel ini menarik untuk menjadi bahan renungan.

SETAN tak akan pernah lelah untuk membisikkan manusia melakukan kemaksiatan. Ada banyak bentuk kemaksiatan, salah satunya adalah ghibah. Muslimah, tentu sudah tahu apa itu ghibah. Dan, kerap kali muslimah terbuai akan bisikkan setan akan bentuk kemaksiatan itu.

Ghibah merupakan dosa yang sering dilakukan muslimah tanpa sadar. Berikut adalah dosa yang dilakukan muslimah tanpa sadar.

Pertama, seseorang membicarakan saudaranya untuk memeriahkan obrolan, karena ia tau jika hal itu tidak dilakukan maka lawan bicaranya akan merasa bosan dan obrolan terasa hambar.

Kedua, membicarakan saudaranya di hadapan orang lain untuk mengesankan dirinya tidak menyukai ghibah padahal ia tengah membicarakan aib saudaranya dengan berkata,

“Sebenarnya saya tidak menyukai berbicara seperti ini, tapi harus saya luruskan bahwa si pulan begini, begitu (membicarakan kekurangan saudaranya) “.

Ketiga, menyebutkan kekurangan saudaranya, dengan niatan untuk mengangkat martabat dirinya dan merendahkan kedudukan orang yang dia ghibahi. Perbuatan ini bukan saja ghibah, tapi juga riya’ .

Seperti perkataan seorang, “Dari kelas satu SMA sampai kelas tiga, rapornya selalu merah. Kalau saya alhamdulillah, walaupun ngga pernah rangking satu, tapi masuk tiga besar terus.”

Keempat, ada lagi yang mengumpat saudaranya karena dorongan hasad. Setiap kali ada orang yang menyebutkan kebaikan saudaranya, diapun berusaha untuk menjatuhkannya dengan menyebutkan kekurangan-kekurangannya. Orang seperti ini telah terjurumus ke dalam dua dosa besar sekaligus; dosa ghibah dan dosa hasad.

Kelima, menyebutkan kekurangan orang lain, untuk dijadikan bahan candaan. Dia sebutkan aib-aib saudaranya, supaya orang-orang tertawa.

Keenam, mengucapkan keheranan dengan terselubungi motif menjatuhkan kedudukan orang lain. Semisal ucapan,”Saya heran sama dia.. dari tadi dijelaskan oleh ustadznya tapi tidak paham-paham.” atau ucapan lainnya.

Ketujuh, membicarakan saudaranya dengan ungkapan yang seakan-akan ia kasihan terhadap saudaranya itu, padahal ia sedang megumpat saudaranya. Seperti ucapan,”Saya kasihan sama dia. Sudah miskin, tapi tidak mau ikut gotong royong. Kalau ada pengajian juga tidak pernah datang.. dst”.

Kedelapan, mengumpat saat sedang mengingkari suatu maksiat. Hal ini kerap kali diungkapkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Misalnya, ketika seorang ibu menemui anaknya yang tengah asyik main di pos ronda, lantas ibu itu mengatakan “Kalian ini masih muda. Gunakanlah waktu kalian untuk hal-hal yang bermanfaat dan produktif. Supaya masa depan kalian lebih cerah, dan kalian bisa memetik buah manisnya nanti di masa tua. Jangan seperti anaknya pak lurah itu, kerjaannya hanya main kartu, gitaran, minum-minuman….” atau ucapan yang semisal.

Demikianlah beberapa praktik ghibah yang sering terjadi dan tidak disadari. Padahal sejatinya hal tersebut merupakan ghibah, sebagimana Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tahukah kaliana apa itu ghibah?” tanya Rasulullah kepada para sahabatnya. Sahabat menjawab: Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan (mengumpat) sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu.”

Kemudian ada yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Bagaimanakah pendapat engkau bila yang disebutkan itu memang benar ada padanya ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang ia benar begitu berarti engkau telah mengumpatnya. Tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya,” (HR Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999). ISLAMPOS.COM SUMBER: MUSLIMAH ZONE

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry